Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Aku Keluar dari Pekerjaan Pertamaku Hanya dalam 1 Bulan Bekerja [Chapter 2]

8 min read

aku keluar dari pekerjaan pertamaku ketika baru sebulan bekerja

“Aku nggak berangkat kerja lagi, aku keluar,” adalah kalimat yang pertama kali keluar dari mulutku. Sekaligus kalimat yang berhasil membekukan semua aktifitas orang seisi rumah. Jujur, sebelumnya aku  tidak menyangka jika perkataanku barusan punya daya mengagetkan yang lumayan. Bahkan aku sendiri ikut kaget melihat reaksi orang-orang pada saat itu yang dengan kompaknya mematung bersama tanpa adanya konspirasi sebelumnya. Seriously.

“… kenapa?” ibuku yang tersadar dari ekspresi patungnya bertanya menghampiriku.

Ya … aku jawab karena ini dan itu, sembari menyeduh kopi pagiku aku mulai bercerita. Dan tahukah kalian bagaimana ibuku menanggapinya? Dengan kekaleman seorang ibu yang sedang menasehati anaknya dia bilang, “oh … ya sudah, jadikan pengalaman saja.”

Apa hanya sampai di sini saja?

Oh, tentu tidak. Di sini aku akan ceritakan semuanya secara gamblang bagaimana aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaan pertama yang aku dapatkan dalam hidupku. Dengan tanda kutip ketika baru sebulan bekerja. Jadi, begini ceritanya ….

Berawal dari Kecurigaanku, There’s Something Wrong Here!

Suatu hari aku mendapatkan SMS dari perusahaan yang aku lamar. Adalah sebuah pabrik yang memproduksi karung dan berbagai macam kantong yang berbahan plastik untuk diekspor ke berbagai negara. Letaknya tidak jauh dari tempat tinggalku, 10 menit sampai. Dalam pesan singkat tersebut diberitahukan bahwa lamaranku diterima dan aku diundang untuk melakukan interview kerja pada hari dan tanggal sekian. Okay! Berangkat.

Aku datang lebih awal pada hari interview, membawa dokumen-dokumen lengkap dengan atribut pakaian sesuai dengan yang diinstruksikan. Kemeja warna putih, celana bahan warna hitam, dan sepatu pantofel warna hitam (ketiganya adalah setelan terbaik yang kumiliki pada saat itu dan baru aku pakai sekali saat hari kelulusanku).

Setibanya di sana, aku melihat papan pengumuman yang berisi tentang adanya lowongan pekerjaan dengan tanda kutip dibutuhkan segera. Ya, ya … kini aku datang.

Setelah melapor ke security aku disuruh untuk menunggu di tempat yang sudah disediakan bersama dengan para pelamar yang lain. Ada kurang lebih 10 orang pelamar pada hari itu. Semua tampak seragam dari segi penampilan, pula dari segi usia karena kami sama-sama baru lulus sekolah. Kami sama-sama menunggu.

Dan masih menunggu. Berulang kali kami berganti posisi duduk dan mondar-mandir karena ternyata sudah 2 jam berlalu dari waktu yang ditentukan. Salah satu dari kami bahkan bergunjing, “jadi interview nggak sih ini? lama sekali.” Sampai ada seorang laki-laki paruh baya yang datang mendatangi kami, dengan sweater yang dibalut seragam pabrik layaknya pekerja pabrik yang sempat kami lihat sebelumnya, mengajak kami semua ke sebuah ruangan yang tampak seperti ruang rapat.

Kami semua duduk di kursi yang melingkari sebuah meja dengan bapak-bapak tersebut sebagai porosnya. Dengan suara serak dan terbata-bata bapak itu mulai berbicara dan memperkenalkan dirinya, Ternyata beliau adalah kepala mandor bagian produksi di pabrik tersebut. Lalu masih dengan terbata-terbata beliau berkata, “sudah siap untuk interview?”

Kami semua menjawab “ya” bersama. Mungkin juga gugup bersama.

“Kalau begitu kita mulai interviewnya, ya?”

Dalam hati aku berkata, ha? Di sini? Sekaligus secara bersamaan dengan para pelamar yang lain? Dan dengan bapak-bapak ini?

Benar saja, kepala mandor itu berkata, “Ya … di sini saja, bareng-bareng. Kalau interviewnya satu-satu kan lama. Jadi kita santai saja. Anggap saja kita sedang ngobrol bersama. Santai saja.”

Aku berusaha untuk berpikiran positif saja pada saat itu. Mungkin ini adalah budaya baru dalam merekrut pekerja di perusahaan tersebut.

Dan memang berjalan seperti apa yang bapak itu katakan sebelumnya. Interview yang dimaksudkan itu lebih seperti ngobrol bersama, atau lebih tepatnya kami menjadi pendengar budiman dari seorang bapak-bapak yang sedang bercerita (masih dengan terbata-bata). Dan hanya jadi pendengar dari awal sampai akhir. Intinya, kami semua diterima bekerja. Hal itu sudah disampaikan di awal-awal, tanpa suatu halangan yang berarti.

Aku tidak tahu isi hati para pelamar pada waktu itu, akan tetapi aku merasa bahwa ada sesuatu yang salah di sini. Ada yang tidak beres, feeling-ku berkata demikian. Terlebih ketika bapak itu meminta dan memeriksa satu persatu dokumen yang memang diinstruksikan untuk kami bawa untuk dikumpulkan. Dan ternyata ada yang kurang, beliau meminta kami untuk mengumpulkan ijazah asli kami juga sebagai syarat diterima bekerja. Harus dengan ijazah asli, yang tadinya aku kira hanya untuk memastikan fotokopi ijazah yang kami bawa sama dengan yang aslinya.

Lantas semuanya mengambil ijazah aslinya dari dalam tas dan memberikannya. Terkecuali aku. Dengan dalih ijazah yang asli masih ditahan oleh pihak sekolah aku mengelak, padahal ijazah asliku ada di dalam tas. Kenapa aku tidak memberikannya? Ya, karena kini aku merasa semakin yakin kalau ada yang tidak beres di sini, sekaligus penasaran. Toh akhirnya aku tetap diterima bekerja (dengan status training), dengan syarat kalau ijazah keluar harus dikumpulkan seperti yang lainnya. Aku iyakan saja agar aku diterima, aku butuh pekerjaan. Lalu bagaimana soal ada hal yang ku rasa tidak beres dan hal lain yang membuatku penasaran? Hmm, aku harus bekerja dulu sekarang.

Kelar bincang-bincang, kami diajak berkeliling sebagai mini-tour untuk mengenal lingkungan kerja. Di situ aku menyadari jika ternyata ada banyak sekali pekerja baru yang juga sedang training, bisa dilihat dari pakaian hitam-putih yang dipakainya. Tidak lama, kegiatan mini-tour selesai, kami dibolehkan untuk pulang dan bisa mulai bekerja besok.

READ  Pemikir atau Pekerja, Tipe yang Manakah Kamu?

Kesehatan & Keselamatan Kerja yang Buruk

Ada tiga shift jam kerja yang berlaku di pabrik itu agar bisa beroperasi selama 24 jam nonstop. Dan hari pertamaku masuk kerja adalah shift pagi yang dimulai pukul 06.00 WIB. Pagi-pagi betul!

Untuk masalah jam kerja dengan sistem shift ini aku tidak masalah. Akan tetapi, apa yang aku lihat dan aku jalani ketika sudah melewati antrian absen di pintu masuk menuju tempatku bekerja.

Di hari pertama aku masuk kerja dan diberikan training saja aku sudah kaget. Begitu masuk aku sudah mencium bau yang begitu menusuk di segala penjuru. Bau plastik, bau debu, dan panas dari berbagai jenis mesin tua yang selama 24 jam terus berpacu. Dan formula-formula itu bercampur jadi satu di dalam pengapnya gedung pabrik dengan sirkulasi udara yang buruk. Parahnya, hanya beberapa pekerja saja yang terlihat bekerja menggunakan masker. Bahkan untuk pekerjaan yang memiliki kadar resiko kecelakaan kerja lebih tinggi saja pekerjanya nampak bekerja tanpa menggunakan APD yang memadai. Tidak terkecuali aku sendiri.

Beralih ke bagian konsumsi. Dalam sehari pegawai mendapat jatah makan dan minum satu kali dengan menukarkan kupon di kantin. Tapi entah karena gratis atau karena sedang berhemat, jatah makan yang didapatkan benar-benar payah. Dari segi porsi saja jelas-jelas tidak mungkin bisa mengenyangkan, sedikit sekali. Dari segi nutrisi juga ala kadarnya. Apa lagi rasa …. Hanya karena lapar jatah makan tersebut masuk ke perut.

Target yang Tidak Masuk Akal

Di hari ketiga aku bekerja aku dihampiri oleh salah seorang mandor. Dia bertanya apa aku bisa menghasilkan minimal ‘sekian’ untuk hari ini? Dan aku menyanggupinya. Pekerjaanku mudah, target sekian bukan tidak mungkin. Meski pada akhirnya aku harus bekerja lebih keras dan pulang dengan pegal yang luar biasa. Ya, yang namanya kerja pasti capek, pikirku.

Sampai pada hari ke sekian, aku kembali dihampiri oleh seorang mandor. Dia memintaku untuk bisa menghasilkan lebih dari apa yang biasa aku hasilkan perhari. Dengan segala pertimbangan aku menjawab kalau aku akan berusaha sebaik-baik mungkin agar dapat mencapai target tersebut. Dan ternyata aku tidak sanggup. Aku hanya bisa mencapai lebih sedikit dari hasil yang biasa aku dapatkan.

Setiap hari aku diperingatkan dan terus dituntut untuk bisa mencapai target yang sudah ditetapkan. Tapi aku tidak diam. Aku jelaskan kenapa aku tidak bisa mencapai target tersebut, dan berlalu begitu saja.

Yang jelas aku bekerja dengan mesin produksi (yang sudah tua) yang memiliki rasio tertentu. Sudah aku coba berkali-kali untuk menaikkan rasio mesin tersebut dengan harapan dapat menghasilkan jumlah produksi yang lebih banyak. Akan tetapi, setiap kali aku melakukannya, mesin tersebut selalu mengalami masalah. Kadang mogok atau lebih sering menghasilkan produksi yang tidak bagus. Tidak sekali dua kali aku meminta bantuan mekanik untuk mengatasi masalah tersebut. Kepala mekaniknya sendiri malah, yang ternyata juga mengeluhkan mesin tua yang aku pakai itu. Beliau menyarankan untuk memakainya seperti biasa atau akan terjadi masalah pada mesinnya.

Logikanya, normalnya mesin hanya bisa memproduksi 100 barang tapi aku diharuskan untuk menghasilkan 200 ketika aku hanya bisa menghasilkan 125 per harinya. Aku jadi bertanya-tanya, aku ini kerja apa dikerjain? Seketika itu ku tendang mesin tersebut sambil mengumpat … dan menyakiti kakiku sendiri.

Sistem Upah yang Merugikan

Baru kerja sudah ngomongin upah, mungkin itu kalimat yang pas digunakan untuk nyinyir kepadaku.

Ya kalau segala sesuatunya normal ….

Di awal aku berkata bahwa ada sesuatu yang keliru di sini. Dan, dengan jiwa penelusuran ala Sherlock Holmes yang tidak disadari oleh orang lain membuat segala kecurigaanku mulai tersingkap satu per satu.

Tidak jarang aku berpikir aku akan dibayar berapa dengan pekerjaanku ini, dengan target-target itu, dengan segala macam resiko kesehatan dan keselamatan kerja yang membayangi. Yang menjadi pertanyaannya adalah bukankah hal yang mendasar semisal upah/gaji mestinya sudah dibahas di awal-awal pada saat interview?

Sayangnya aku atau kami tidak mendapatkan titik terang mengenai hal itu. Yang aku ingat pada waktu interview adalah bahwa kami akan diberi kompensasi yang sepadan ketika masih menjalani masa training, dan akan mendapatkan gaji layaknya pegawai tetap ketika telah melewati masa training dan diangkat menjadi pegawai tetap. Tapi berapa nominalnya? Jawabannya akan sama, kami akan diberi kompensasi yang sepadan bla-bla-bla ….

Suatu hari di jam istirahat, aku duduk dan makan di meja yang dikelilingi oleh sesama pekerja training sepertiku. Beberapa di antaranya ada yang sudah sebulan menjalani masa training dari waktuku memulai. Entah ini topik unggulan atau apa, tetapi kami selalu membicarakan tentang pekerjaan yang barusan kami kerjakan masing-masing dengan segala kendala dan hal-hal yang lebih terdengar seperti curhat antara teman sejawat. Setiap hari.

Sampai pada suatu ketika, seorang dari kami mengawali dengan berceletuk tentang upah yang didapatkannya di bulan lalu. Dia mengeluh jika apa yang didapatkannya itu benar-benar tidak sepadan dengan apa yang sudah dikerjakannya. Lalu seorang yang sangat penasaran bertanya, “memang kamu kemarin dapat upah berapa?”

“Dua ratus lima puluh ribu rupiah …,” dengan fakta tambahan lain bahwa upah itu didapatnya dari sebulan penuh bekerja tanpa libur dan beberapa kali overtime. Jawaban yang lantas membuat semua rekan-rekan yang duduk bersama pada jam istirahat makan yang damai itu tercengang dan berebut untuk menanggapi.

Faktanya, hari libur itu memang seperti tidak ada. Peraturan dengan jelas menyebutkan bahwa ada 6 hari dalam seminggu dengan jam kerja selama 8 jam untuk masing-masing shift. Akan tetapi, para pekerja juga dituntut untuk masuk pada hari Minggu dengan alasan untuk menutup target yang belum tercapai. Jadi, bisa diartikan hari libur sama dengan tidak ada.

READ  Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Tidak Berminat untuk Kuliah?

But, seriously?! Hanya Rp. 250.000?

Tidak sampai di situ saja. Aku terus mencari kebenaran lain yang berkaitan dengan hal tersebut. Dan mengobrol di sela-sela jam kerja dengan beberapa senior adalah cara yang paling pas, sambil berharap ada seseorang di antaranya yang mau bercerita. Dan, ya, aku menemukan orangnya!

Dia pekerja tetap yang sudah 3 tahun bekerja di sana. Masih muda, mungkin usianya sekitar 25 tahunan. Tempat kerjanya tidak jauh dari tempatku bekerja. Dan kami sering mengobrol di toilet sambil merokok bersama. Mulai dari obrolan yang membahas gadis-gadis pabrik, cerita-cerita horor yang terjadi di pabrik, dan obrolan-obrolan tidak berfaedah lainnya. Dan yang paling menarik perhatianku adalah sifat terbukanya yang selalu berbicara apa adanya. Tanpa tedeng aling-aling dia menanggapi segala bahan obrolan dan pertanyaan yang aku lontarkan.

Tidak sedikit cerita-cerita yang aku dengar darinya. Seperti kenyataan bahwa dia menjalankan pekerjaan lain untuk mencukupi kebutuhannya, yang terkadang membuatnya sering ‘bolos kerja di hari minggu’. Haha. I’m serious.

Sampai ketika dia bercerita tentang rekannya yang sudah hampir 10 tahun bekerja di pabrik itu, yang sekaligus menjadikannya orang paling senior dan masih bekerja di sana. Dia mengatakan bahwa untuk pegawai sekaliber rekannya itu saja perbulannya hanya digaji sekitar Rp. 800.000-an.

Ada fakta lain menyangkut para trainee yang aku dapatkan dari ceritanya. Dia berkata bahwa pabrik itu gencar melakukan perekrutan pekerja baru setahun terakhir. Terlebih di bulan-bulan ketika aku masuk, karena banyaknya pekerja yang keluar atau trainee yang tidak betah. Dari situ aku mengetahui jika setidaknya aku harus menjalani hari-hari sebagai trainee selama 6 bulan sebelum mendapat seragam kerja sebagai tanda diterima menjadi pegawai tetap. Jujur, ingin sekali aku untuk tidak percaya dengan apa yang hal yang aku ketahui barusan, namun dengan segala bukti dia terus meyakinkanku bahwa itu adalah sebuah kebenaran. Thanks dude.

Konspirasi

Masih ingat perihal ijazah yang aku ceritakan di awal? Di sini lah bagaimana peran selembar kertas yang keluar dari mulut mesin print itu menyambung benang merah.

Sebenarnya, setidaknya dua kali dalam seminggu aku selalu ditanya oleh seorang mandor yang bertanggung jawab atas para trainee perihal ijazahku. Apakah ijazahku sudah keluar? Kalaupun sudah keluar, kapan aku akan mengumpulkannya? Karena ternyata cuma aku seorang yang belum mengumpulkan ijazah asli ke perusahaan.

Dan tahukah kalian kenapa kami para trainee diwajibkan untuk menyerahkan ijazah aslinya ke perusahaan? Yaitu untuk mengikat para trainee agar tidak keluar dengan mudah. Hal ini aku ketahui setelah mendapatkan informasi tentang seorang trainee yang sudah keluar namun ijazahnya belum dikembalikan. Padahal ijazah itu dibutuhkannya untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain. Hal ini lah yang membuat kami para trainee menjadi segan jika memiliki niat untuk keluar. Maklum, kami baru saja melompat dari masa remaja dan yang kami hadapi sekarang adalah orang-orang dewasa yang begitu mengintimidasi di mata kami. Bahkan teman terdekatku di pabrik itu mengibaratkan kalau kami para trainee seperti ‘kerbau yang dicolok hidungnya’.

Hal ini otomatis menjadi topik obrolan kami di waktu jam istirahat. Kami jadi serius berdiskusi dan sepakat dengan pendapat saya bahwa ‘ada sesuatu yang keliru’. Pada saat itu juga aku bilang ke semuanya bahwa aku memutuskan untuk keluar … yang parahnya diikuti oleh semua rekan yang ada pada saat itu.

Ya! Jadi tidak hanya aku saja, melainkan semua yang duduk melingkar di meja kantin pada waktu itu sepakat memutuskan untuk keluar dan meminta ijazah asli yang dipegang pihak perusahaan bersama-sama. Pikir kami tidak ada yang tidak mungkin jika dilakukan bersama, kami yakin itu pasti berhasil.

Hari H Aku Keluar

Sekarang, setelah semua hal yang aku sampaikan di atas, apakah ada alasan bagiku untuk tidak keluar?

Sudah berulang kali aku mencari-cari jawaban dari pertanyaan di atas, tetapi hasilnya nihil. Keputusanku sudah bulat.

Siang itu kami benar-benar menikmati hari terakhir kami bekerja di sana. Bercanda dan saling mengucapkan salam perpisahan.

Hari terakhirku bekerja di pabrik itu bebarengan dengan hari terima gaji. Kami semua ikut mengantri di depan loket pengambilan gaji setelah selesai bekerja. Dear pembaca pasti tahu berapa nominal yang kami dapatkan, semuanya jelas. Lucunya, bagiku ini adalah gaji pertama bekerja yang sekaligus menjadi gaji terakhir pada pekerjaan pertamaku. Sounds like a joke, right? Dan kini aku jadi sadar kenapa selalu ada papan pengumuman lowongan pekerjaan yang berdiri di depan gerbang pabrik ini, yaitu karena orang-orang seperti kami. Papan pengumuman yang malang.


Setelah Keluar

Setelah keluar dari pabrik hari-hariku kembali diisi dengan berbagai kegabutan seorang pengangguran. Satu-satunya hal yang berarti pada saat itu adalah ketika aku membuat surat izin mengemudi motor (SIM C), dimana aku berhasil mendapatkannya dalam waktu sehari saja (murni usaha & tanpa pungli). Lalu kembali ke hari-hari yang suram itu lagi.

Sudah ku coba untuk mencari pekerjaan lain, akan tetapi yang ada hanya lowongan-lowongan yang sama sekali tidak menarik perhatianku. Aku jadi jatuh ke dalam kegalauan lagi dan ditambah dengan kejenuhan yang sudah menumpuk selama berminggu bahkan berbulan. Aku ingin sesuatu yang baru.

Dan beruntung, aku mendapatkan kesempatan itu. Aku diajak oleh ayahku untuk bekerja sebagai pekerja konstruksi di luar kota.

Pekerja konstruksi?!

>>> Read How I Become Construction Worker <<<

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

2 Replies to “Aku Keluar dari Pekerjaan Pertamaku Hanya dalam 1 Bulan…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *