Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Biografi Sang Maestro Pramoedya Ananta Toer

6 min read

Biografi Sang Maestro Pramoedya Ananta Toer

Pandita.ID – Karya-karyanya yang penuh dengan kritik sosial membuatnya sering keluar-masuk penjara. Namun, terlepas dari itu, ia tetaplah seorang Sastrawan Besar Indonesia yang diakui oleh Dunia.

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer atau yang lebih akrab dipanggil “Pram” (lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 – meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada usia 81 tahun), adalah salah satu sastrawan besar yang pernah di miliki Indonesia.

Terus produktif dalam berkarya hingga di masa tuanya, Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya yang banyak di antaranya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa.

Pram adalah putra dari M. Mastoer, seorang guru dan kepala Institut Boedi Oetomo (IBO) di Blora, sedang ibunya adalah Oemi Saidah, seorang penjual nasi.

Sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora, nama asli Pram adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Namun, karena nama keluarga “Mastoer” yang bagi dirinya dianggap cenderung atau terlalu aristokrat karena terdapat “Mas” di dalamnya, jadi dihilangkannya awalan “Mas” dari nama tersebut dengan hanya menyisakan “Toer” yang akhirnya digunakan sebagai nama keluarganya.

Pra Kemerdekaan

Pram mulai menuntut pendidikan di Institut Boedi Oetomo Blora di bawah bimbingan ayahnya—di sana Pram tercatat pernah beberapa kali tidak naik kelas. Setamatnya ia dari Boedi Oetomo, Pram kemudian menempuh pendidikan di Sekolah Teknik Radio Surabaya selama 1,5 tahun (1940 – 1941). Dan pada tahun 1942, Pram kemudian pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai tukang ketik di Kantor berita Jepang bernama Domei pada masa kependudukan Jepang di Indonesia.

Sambil melakoni pekerjaannya, Pram juga mengikuti pendidikan di Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara antara tahun 1942 hingga 1943. Selanjutnya di tahun 1944 hingga 1945, ia mengikuti sebuah kursus Stenografi dan kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Islam Jakarta pada tahun 1945.

Pasca Kemerdekaan (17 Agustus 1945)

Kemudian memasuki masa pasca kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1946, Pram mengikuti pelatihan militer Tentara Keamanan Rakyat dan bergabung dengan Resimen 6 dengan pangkat letnan dua dan ditugaskan di Cikampek dan kemudian kembali ke Jakarta pada tahun 1947 pada masa akhir perang kemerdekaan.

Pram kemudian ditangkap Belanda pada tanggal 22 juli 1947 dengan tuduhan menyimpan dokumen pemberontakan melawan Belanda yang kembali ke Indonesia untuk berkuasa, iapun di jatuhi hukuman penjara. Pram dipenjarakan di pulau Edam dan kemudian dipindahkan ke penjara di daerah Bukit Duri (Jakarta) hingga tahun 1949. Selama masa penahanannya inilah Pram lebih banyak menulis buku dan cerpen.

Keluar dari Penjara dan Menjadi Pimpinan Pusat LEKRA

Sekeluarnya dari penjara, Pram kemudian bekerja sebagai redaktur di Balai Pustaka Jakarta antara tahun 1950 hingga 1951, dan di tahun berikutnya ia kemudian mendirikan Literary and Fitures Agency Duta hingga tahun 1954.

Pram bahkan tercatat pernah tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan sekembalinya dari Belanda, Pram menjadi anggota LEKRA (Lembaga Kebudajayaan Rakjat)—salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia.

Gaya kepenulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara Pram dan pemerintahan Soekarno.

Pada tahun 1956, Pram sempat ke Beijing untuk menghadiri hari kematian Lu Sung. Dan sekembalinya ke Indonesia, Pram mulai mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan orang-orang Tionghoa di Indonesia—ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia. Pram bahkan menjalin hubungan yang erat dengan para penulis di Tiongkok.

Di masa itu, Pram banyak menulis karya-karya sastra dan juga tulisan-tulisan yang mengkritik pemerintahan Indonesia mengenai penyiksaan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia. Salah satunya adalah rangkaian surat-menyuratnya dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia yang diterbitkannya dengan judul Hoakiau di Indonesia.

Pram merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa (pusat) pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa.

READ  Meluruskan Fakta Sejarah Pelengseran Gus Dur

Pada tahun 1958, Pram didaulat menjadi Pimpinan Pusat LEKRA yang bernaung di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan DN Aidit. Jabatannya sebagai pimpinan pusat LEKRA membuat banyak seniman menjadi berseberangan pendapat dengannya, terutama para seniman yang menentang aliran komunis di Indonesia.

Selain menjadi pimpinan pusat LEKRA, pada tahun 1962, Pram juga bekerja sebagai Dosen Sastra di Universitas Res Republica. Ia juga tercatat pernah menjadi Dosen Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai dan juga berprofesi sebagai redaktur majalah Lentera.

Pulau Buru dan Lahirnya Tetralogi Buru yang Fenomenal

Karya-karya Sang Maestro yang penuh dengan kritik sosial membuatnya sering keluar masuk penjara. Sejarah pernah mencatat Pram pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial, 1 tahun pada masa orde lama, dan selama selama 14 tahun pada masa orde baru sebagai tahanan politik ‘tanpa proses pengadilan’.

Ya! Sebagai akibat dari peristiwa G30S dan terjadinya pergantian kekuasaan dari Ir. Soekarno ke Soeharto, serta penumpasan PKI yang dilakukan di bawah pemerintahan Soeharto: Organisasi-organisasi yang berada di bawah naungan PKI menjadi terancam, seperti halnya LEKRA.

Dan pada akhirnya terjadi juga, pemerintah menangkap Pram atas tuduhan pro komunis. Bukunya yang berjudul Hoakiau di Indonesia dicabut dari peredaran dan ia ditahan tanpa pengadilan dari tahun 1965 hingga 1969, setelah itu ia dititipkan di penjara Nusakambangan sampai pada akhirnya di buang di pulau Buru yang terkenal sebagai pulau buangan untuk para tahanan politik PKI dari tahun 1969 hingga 1979 dan dari November hingga 21 Desember 1979 di Magelang.

Pram dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun masih dapat menyusun naskah karya serial terkenalnya yang kita kenal dengan Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), 4 seri novel semi-fiksi sejarah Indonesia yang menceritakan perkembangan nasionalisme Indonesia dan sebagian berasal dari pengalamannya sendiri saat tumbuh dewasa.

Tokoh utama dalam karya agungnya tersebut adalah Minke yang mana adalah perwujudan dari tokoh dan pengalaman RM Tirto Adhi Soerjo (TAS), seorang tokoh pergerakkan pada zaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Dagang Islam dan media pers resmi Medan Prijaji.

Jilid pertamanya dibawakan secara lisan kepada rekan-rekan di Unit III Wanayasa, Buru, sebelum dia mendapatkan kesempatan untuk menuliskan kisahnya di mana naskah-naskahnya diselundupkan lewat tamu-tamu yang berkunjung ke Buru.

*Catatan: Untuk menyelamatkan naskah Tetralogi Buru, karena Pram menulis novel tersebut ketika masih di dalam penjara, Pram dibantu oleh sahabatnya yang bernama Prof. Mr. G.J. Resink atau yang biasa di panggil Pram dengan sebutan “Han”—karena Resink juga adalah sosok yang menyelamatkan naskah Perburuan dan Keluarga Gerilja, demikian pula yang terjadi pada naskah karya fenomenal Sang Maestro: Tetralogi Buru.

Bebas dari Penjara

Pram akhirnya dibebaskan pada tanggal 21 Desember 1979 karena ia tidak tebukti terlibat dalam gerakan G30S, namun ia tetap menjadi tahanan rumah oleh pemerintahan Soeharto hingga tahun 1992 dan kemudian naik menjadi tahanan kota hingga tahanan negara sampai tahun 1999.

Hampir separuh hidupnya ia habiskan didalam penjara akibat hubungannya dengan PKI, namun pada masa itu juga ia aktif dalam menulis—akan tetapi banyak karya-karya atau tulisannya yang dilarang terbit oleh pemerintah orde baru hingga tahun 1995, bahkan tidak sedikit pula karya-karyanya yang tak terselematkan.

Potret kehidupan Pram yang dibenci di negeri sendiri tetapi dihargai dunia membuatnya tetap optimis dan tidak pernah berhenti berkarya.

Ketika pergantian pemerintahan orde baru ke orde reformasi, Pram telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, sebuah dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang.

Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, berakhir tinggal di sana dan tidak kembali ke Jawa. Pram membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.

Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menceritakan pengalamannya sendiri.

READ  2 Mei, Sejarah & Makna di Balik Hari Pendidikan Nasional

Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995.

Pram juga pernah beberapa kali menjadi kandidat teratas peraih Penghargaan Nobel Sastra—sampai sekarang Pram masih menjadi satu-satunya sastrawan Indonesia yang berada pada level tersebut. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors’ Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.

*Catatan: Ketika Pram mendapatkan Ramon Magsaysay Award pada 1995, terdapat sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia yang menulis surat protes ke yayasan Ramon Magsaysay. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya adalah Taufiq Ismail, Mochtar Lubis, WS Rendra, dan HB Jassin. Tokoh-tokoh tersebut memprotes karena Pram dianggap tidak pantas untuk menerima penghargaan Ramon Magsaysay.

Dalam berbagai opini-opini di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Mereka menuntut pertanggungjawaban Pram untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran ‘tidak terpuji’ pada ‘masa paling gelap bagi kreativitas’ pada zaman Demokrasi Terpimpin.

Semenjak orde baru, Pram memang tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.*

Akhir Hayat

Meskipun sudah berada di masa senjanya, Pram tetap aktif menulis meskipun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kebiasaan merokoknya.

April 2006, Pram dilarikan ke rumah sakit akibat penyakit diabetes, sesak nafas, dan jantungnya yang melemah. Kemudian ia keluar lagi. Namun kembali masuk rumah sakit lagi ketika kondisinya semakin memburuk akibat panyakit radang paru-paru yang belum pernah dideritanya.

Dan pada tanggal 30 april 2006, Pram akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggal di usia 81 tahun. Pemakamannya banyak dihadiri oleh masyarakat dan juga tokoh-tokoh terkenal seperti wakil presiden Jusuf Kalla. Pramoedya Ananta Toer, Sang Maestro, kemudian dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.

Keluarga

Pram diketahui memiliki seorang istri bernama Maemunah Thamrin. Dari pernikahan tersebut Pram memiliki lima orang anak dan memiliki sembilan orang cucu. Istrinya, Maemunah Thamrin, meninggal pada bulan Januari tahun 2011 dan dimakamkan di tempat yang sama dengan sang suami.

Penghargaan dan Pencapaian

  • Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988.
  • Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989.
  • Wertheim Award, for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995.
  • Ramon Magsaysay Award, for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995.
  • UNESCO Madanjeet Singh Prize, in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence dari UNESCO, Perancis, 1996.
  • Doctor of Humane Letters, in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999.
  • Chancellor’s distinguished Honor Award, for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999.
    Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999.
  • New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000.
  • Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000.
  • The Norwegian Authors Union, 2004.
  • Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004.

Lain-lain:

  • Anggota Nederland Center, ketika masih di Pulau Buru, 1978.
  • Anggota kehormatan seumur hidup dari International PEN Australia Center, 1982.
  • Anggota kehormatan PEN Center, Swedia, 1982.
  • Anggota kehormatan PEN American Center, AS, 1987.
  • Deutschsweizeriches PEN member, Zentrum, Swiss, 1988.
  • International PEN English Center Award, Inggris, 1992.
  • International PEN Award Association of Writers Zentrum Deutschland, Jerman, 1999.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

— Pramoedya Ananta Toer —

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

One Reply to “Biografi Sang Maestro Pramoedya Ananta Toer”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *