Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Buah Pikiran Kartini: Habis Gelap Terbitlah Terang

3 min read

Buah Pikiran Kartini: Habis Gelap Terbitlah Terang

Pandita.ID – Setelah wafatnya RA Kartini, JH Abendanon (yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda) mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini kepada teman-teman penanya di Belanda, yang kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku.

Buku itu diberi judul “Door Duisternis Tot Licht”, yang secara harfiah berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”—yang kini lumrah ditemui dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Habis Gelap Terbitlah Terang

Buku yang berisi kumpulan surat-surat Kartini ini diterbitkan pada tahun 1911. Sampai sekarang, buku ini paling tidak telah dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan yang terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara.

Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane (seorang sastrawan Pujangga Baru). Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali.

Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.

Terbitnya kumpulan surat-surat Kartini yang notabene adalah seorang perempuan pribumi sangat menarik perhatian masyarakat Belanda. Pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa.

Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, tidak terkecuali Wage Rudolf Soepratman yang telah menciptakan lagu untuk Sang Pencerah yang berjudul “Ibu Kita Kartini” yang oleh pemerintah kita ditetapkan sebagai lagu wajib nasional.

Pemikiran-Pemikiran Kartini

Pada surat-suratnya, terpapar buah pemikiran-pemikiran Kartini tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluh-kesah dan gugatan, wabil khusus yang menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.

Tertuang dalam tulisan-tulisannya, Kartini ingin wanita juga memiliki kebebasan untuk menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti yang dia tuliskan: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid, dan Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

READ  Rindu Gus Dur oleh Kaum Milenial, Sebuah Biografi Singkat

Kok hampir-hampir mirip dengan Pancasila ya, adakah yang berpikiran demikian?

Surat-surat Kartini juga berisi harapan-harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalannya dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginannya untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yakni seperti tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Kemudian pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan oleh Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya (Islam). Ia mempertanyakan mengapa Kitab Suci Al-Qur’an harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Orang-orang pada pandai dan fasih melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an, banyak pula yang hafal, tetapi barangkali hanya beberapa orang saja yang memahami isi dan substansinya.

Kartini mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. Kartini juga mempertanyakan tentang agama yang dijadikan sebagai pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas dapur, ranjang, dan tembok rumah.

Dari surat-suratnya, Kartini banyak mengungkapkan tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup.

Kartini sangat mencintai ayahandanya, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga yang pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-citanya. Dalam suratnya juga diungkapkan bahwa sang ayah begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.

READ  RA Kartini, Tokoh Emansipasi Wanita Indonesia Pertama

Impian Kartini

Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya, Rukmini.

Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. Padahal, saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka lebar pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginannya untuk mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Bupati Rembang.

Terlepas dari semua itu, sampai kapanpun, akan selalu ada pelajaran berarti yang dapat kita ambil dari sosok Kartini. Wanita sejati yang pantang mengeluh dan pantang memaki keadaan. Dia yang selalu merdeka dan mandiri. Karena kesadarannya bahwa setiap wanita yang lahir ke dunia mengemban tugas sebagai pilar kecerdasan bangsa, dia bergerak untuk memberikan langkah yang nyata, merubuhkan tembok yang mengungkung kaumnya, dan menjadi “Pencerah” dalam jalan yang telah lama tertutup kegelapan.


Habis Gelap Terbitlah Terang

1
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *