Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Cerita Kelana: Mendaki Puncak 29 (Sangalikur) Sapta Rengga Muria

8 min read

Cerita Kelana: Mendaki Puncak 29 (Sangalikur) Sapta Rengga Muria

Pandita.ID – 16 Agustus 2017, sehari sebelum peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke 72, perjalanan itu kami lakukan. Dengan tujuan dan agenda yang tidak muluk-muluk, kami hanya ingin memperingati Hari Kemerdekaan dengan cara kami sendiri.

Pendakian ini sekaligus menjadi realisasi dari keinginanku, di mana aku sendiri pernah berikrar: “Sebelum kudaki puncak-puncak penyangga langit di Bumi Pertiwi, sebagai permulaannya akan kujejakkan kaki di atas puncak tertinggi yang ada di tanah kelahiranku sendiri.” Itulah alasan kenapa aku melakukan pendakian ke Gunung Sapta Rengga yang puncaknya dikenal dengan nama Puncak 29 ini—salah satu gunung yang termasuk dalam gugusan Gunung Muria, yang juga merupakan titik tertinggi di Jepara.

Pendakian ini merupakan pendakian kedua yang aku lakukan. Sedang pendakianku yang pertama adalah pendakian menuju Puncak Candi Angin, Tempur, Jepara, yang sudah pernah aku ceritakan sebelumnya.

Sama seperti ketika mendaki Puncak Candi Angin, tim pendakian kali ini terdiri dari tiga orang yang sama. Umam (adikku), Zadit (tetanggaku), dan aku sendiri. Dan di antara kami bertiga, Umam adalah satu-satunya orang yang memiliki pengalaman pada pendakian kali ini. Ya, sebelumnya dia pernah sekali mendaki Puncak 29 dengan teman-teman SMAnya—sebuah pendakian yang diwarnai dengan pengalaman horor, menurut cerita mereka.

Jika mendaki adalah sebuah ibadah, maka mempersiapkan matang-matang segala kebutuhan seperti peralatan, perlengkapan, dan logistik adalah rukunnya. Anggap saja semuanya beres. Waktunya berangkat!

Menuju Rahtawu

Tidak lupa untuk terlebih dahulu minta izin kepada orangtua kami, kami berangkat dari rumah—Desa Ngeling, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara—setelah Sholat Isya’, sekitar pukul 17.30. Perjalanan kami tempuh menggunakan sepeda motor. Saya berboncengan dengan Umam, dan Zadit berkendara sendirian. Karena berkendara pada malam hari, tentu kami semakin ekstra hati-hati. Terlebih ketika kami mulai memasuki jalur menuju Desa Rahtawu yang semakin menanjak, semakin menyempit, semakin gelap, dan tentunya semakin sepi. Karena jalan yang semakin menanjak, kami jadi memperhatikan betul nafas kendaraan kami. Karena jalan yang semakin sempit, sesekali kami harus memelankan laju kendaraan kami ketika berpapasan dengan kendaraan roda empat. Karena kondisi jalan yang semakin gelap, kami jadi berkendara dengan membuka kaca helm kami, dan berkonsentrasi penuh melihat jalur yang ada di depan kami. Dan karena suasana jalanan yang amat sangat sepi, lebih banyak dzikir dan sholawat yang keluar dari mulut kami.

Sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya jantung kami dibuat tegang. Jalan yang kami lalui kini semakin ekstrim. Tanjakan yang memaksa untuk mengoper gigi kopling ke yang paling rendah, disambung dengan tikungan tajam kemudian menanjak lagi, tikungan tajam lagi kemudian jalan menurun dan tikungan tajam lagi lalu menanjak lagi, terus … dengan di satu sisimu adalah tebing batu sedang di sisi lainnya adalah jurang. Perjalanan adrenalin itu semakin tambah menegangkan ketika kabut turun dan membatasai pandangan mata. Otomotis fokus kami gandakan, apalagi penerangan jalan pada kala itu hanya dari lampu sepeda motor kami saja.

Ya, silahkan dibayangkan saja seperti apa perjalanan yang kami tempuh di atas. Namun, entah kenapa dalam perjalanan itu kami merasa biasa saja. Memang menegangkan, tapi biasa saja. Ataukah karena sebelumnya kami telah mendapatkan pengalaman ketika melakukan perjalanan menuju Candi Angin, yang menurut kami rute perjalanannya sedikit lebih ekstrim dari rute jalanan yang kami lalui kali ini? Bisa jadi.

Setelah memasuki area Desa Rahtawu, barulah ketegangan akan jalur berkelok tadi mulai meregang. Kami bisa sedikit santai sekarang. Sambil sesekali menengok ke kanan dan ke kiri, kami jadi tahu kalau baru saja kami telah melewati gerbang masuk jalur pendakian Gunung Sapta Arga atau Gunung Rahtawu atau yang lebih dikenal dengan Puncak Natas Angin. Memasuki area pemukiman yang mulai padat, terdapat pula beberapa petilasan yang kami lewati seperti petilasan Eyang Lokajaya, Eyang Mada (Gajah Mada), dan Eyang Sakri.

Menapaki Trek Puncak 29

Setelah kurang-lebih satu jam perjalanan darat yang cukup menguras segala daya, akhirnya kami sampai di lokasi tujuan. Tidak ada basecamp yang sebenarnya di sini. Hanya ada beberapa penitipan kendaraan milik warga dan loket pembayaran retribusi. Untuk parkir kendaraan, kami hanya dikenakan biaya Rp. 5.000 per motornya.
Setelah memakirkan sepeda motor kami, kami rehat sejenak untuk sekedar melepas lelah dan meregangkan otot-otot yang kaku setelah perjalanan darat yang cukup menegangkan. “Sebats duls!”

Setelah dirasa cukup, kami bersiap untuk memulai pendakian. Senter pun kami keluarkan dari keril. Saya sendiri sempat bertanya-tanya, “ini loketnya di mana?” Ternyata loket pembayaran retribusinya adalah saung kecil (mirip pos ronda) yang ada di samping warung dekat tempat parkir. Saya lebih kaget ketika kami hanya dikenakan biaya Rp. 2.000 per orangnya untuk biaya retribusi. “Murah sekali”, celetuk dalam hati saya. Dan semuanya dikelola swadaya oleh masyarakat sekitar.

Sebelum melangkahkan kaki, terlebih dahulu kami berdo’a, memohon agar diberikan kelancaran dan keselamatan untuk kami semua.

Waktu telah menunjukkan pukul 20.30, perjalanan dimulai. Kami berjalan berurutan satu per satu dengan Umam di depan, ya, karena dia satu-satunya orang yang mengenal jalur pendakian kali ini. Kemudian di belakangnya ada Zadit, baru kemudian aku yang berjalan di paling belakang.

Di awal pendakian, jalur yang kami lalui masih belum memberikan tantangan yang berarti dan lebih sering terdapat bonus. Hanya saja trek tanah yang kami lalui basah karena baru saja diguyur hujan deras dan kini masih sedikit gerimis. Hingga memasuki area perkebunan kopi, barulah trek mulai menanjak. Sesekali semerbak bunga-bunga kopi yang bermekaran merasuk ke udara yang kami hirup. Harum. Harum sekali. Karena kami melakukan pendakian pada malam hari, Umam sempat mengira kalau bau bunga kopi itu adalah bau-bauan yang … berkaitan dengan hal-hal yang horor. Jujur, saya pun sempat mengira demikian. Maklum saja, Puncak 29 termasuk tempat yang sarat akan kesakralan dan hal-hal mistis lainnya. Juga maklumkan saja jikalau mulai dari sini aku mulai menjumputi sebiji demi sebiji tasbih yang kubawa.

READ:  Ratu Kalinyamat, Wanita Tangguh dan Pemberani dari Jepara

Tiba di pos 1 kami memutuskan untuk break sebentar. Gerimis masih saja menghantui, sambil terus berharap di dalam hati, semoga saja tidak sampai hujan deras. Anehnya, begitu cahaya bulan sedikit mencuat menyinari kami, baru kelihatan kini gumpalan mendung yang terlihat seolah menghindari kami. Ya! Rasanya sekumpulan awan gelap itu hanya berkumpul di sisi sebelah kami, di sisi tengah rimbun pepohonan yang kami kitari. Samar-samar suara hujan terdengar, tapi hujan itu tidak menerpa kami. Hanya butiran-butiran kecil yang tersapu angin yang menyentuh badan kami.

Hanya sekitar 5 menit kami duduk di pos 1 kemudian kami berjalan kembali. Hawa semakin bertambah dingin, ditambah terpaan kabut yang hilir mudik kini semakin sering mengiringi kami. Sesekali kami bertemu dengan pendaki lain yang juga naik malam itu. Hanya sekedar bertutur sapa lalu berjalan lagi. Perjalanan masih jauh.
Seperti yang telah kami rencanakan di awal, kami ingin secepatnya ingin bisa sampai dipuncak. Jadi pelan tapi pasti, langkah kami mantap melewati setiap halang rintang yang ada di depan kami. Beda lagi jika mendapati jalur yang landai, maka sudah pasti kami akan keranjingan seraya mempercepat langkah kaki kami. Hingga tidak terasa pos 4 tinggal satu tanjakan lagi. Sorot-sorot lampu dari para pendaki yang sudah tiba telebih dulu di pos 4 seolah-olah memberikan sinyal “”sudah dekat” kepada kami. Samar-samar riuh suara orang-orang juga sudah mulai terdengar. Kami jadi semakin semangat untuk tancap gas. Semakin dekat, kini suara gemricik air yang terdengar di telinga kami. Semakin dekat, dan akhirnya sampailah kami di pos 4 pada pukul 21.30, Sendang Bunton.

Seperti halnya pos-pos yang kami lewati begitu saja sebelumnya (pos 2 dan pos 3), di pos 4 ini terdapat sebuah warung sederhana layaknya warung-warung yang ada di jalur pendakian gunung. Yang menjadi pembedanya ialah di pos 4 ini terdapat sebuah shelter yang lumayan luas dengan ukuran sekitar 6×15 meter. Selain itu, di pos 4 ini juga terdapat Musholla, toilet, dan tentu saja sumber mata air segar yang mengucur deras yang bernama Sendang Bunton. Kami pun memutuskan untuk singgah di pos 4 ini untuk break, mengisi persediaan air, dan menyeduh kopi.
Meski ramai orang, di pos 4 Sendang Bunton ini suasananya begitu tenang. Beberapa pendaki tetap pada saling bertutur sapa dan mengobrol, namun tidak ada kegaduhan yang timbul. Mungkin para pendaki itu sudah pada tahu kalau mereka sedang singgah di salah satu tempat yang disakralkan di Puncak 29. Ya, karena Sendang Bunton ini sendiri berdampingan dengan dengan petilasan Arjuna.

Setelah puas menikmati kopi, pukul 21.45 kami kembali bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Kini jarak tinggal setengah perjalanan. Namun trek yang menanti di depan (kata Umam) akan lebih menguras tenaga dan konsentrasi kami bertiga.

Tidak jauh berjalan, di antara rindang pepohonan, kami kembali mendapati sebuah petilasan yang diyakini sebagai petilasan Eyang Sekutrem. Pelan namun pasti, kami pun terus melangkah. Dan tidak lama kemudian sampailah kami di petilasan Puntadewa dan Eyang Pandu Dewanata yang letaknya bedampingan. Di sini kami hanya berhenti sejenak untuk mengatur nafas kemudian tancap gas, padahal sebenarnya rasanya lututku sudah panas. Entah kenapa, tapi kami merasa segan ketika hendak duduk-duduk di lokasi tersebut. Dan lebih dari itu, kami ingin secepatnya sampai di atas.

Hanya sebentar setelah melewati petilasan Puntadewa dan Eyang Pandu, jalur yang rindang oleh pepohonan kini telah habis. “Bukaan”, begitu para pendaki menyebutnya. Trek yang ada di depan kami kini lebih banyak dihiasi oleh batu-batu besar, serta rumput dan semak-semak yang sebisa mungkin tidak kami injak.

Ternyata benar apa yang dikatakan Umam, di jalur ini tenaga dan konsentrasi kami benar-benar dikuras. Semakin ke atas, trek yang kami lalui semakin menanjak dengan kemiringan yang ekstrim sekaligus semakin sempit. Belum lagi dengan kondisi tanah yang habis diguyur hujan yang membuat trek menjadi basah dan licin, serta jarak pandang yang terbatas karena tertutup kabut. Bahkan, sesekali di antara kami ada yang berjalan sambil merangkak karena dipaksa oleh kondisi.

Ketika nafas kami sudah semakin terengah-engah, ketika lutut dan pundak sudah sama panasnya, bayangan puncak samar-samar mulai nampak oleh sinar Rembulan yang terbebas dari balik awan hitam. Sungguh, itulah pelecut semangat yang sedari tadi kami butuhkan. Di saat yang sama, arak-arakan kabut yang selalu menemani langkah kami berangsur pergi. Sorot-sorot senter dari para pendaki yang telah sampai puncak pun terlihat menyorot kesana-kemari. Jadi tambah semangat? Tentu saja. Namun trek terakhir yang ada di depan kami inilah tanjakan terberat yang ada di Sapta Rengga ini.

READ:  STOP Kebakaran Hutan dan Lahan, Indonesia Bukan Pabrik Asap

Tepat di antara petilasan Nakula dan Sadewa ini kami berhenti dan menengok ke bawah. Dan karena begitu cerahnya cahaya Bulan yang menyinari Bumi pada waktu itu, kini jadi terlihat jelas seperti apa penampakan trek yang telah kami lalui. “Allahu Akbar!” Untuk sekejap badanku mematung dan mataku terbelalak. “Jadi kita tadi ngetrek gelap-gelapan di jalur yang seperti itu?”

Tidak lama kita pun sampai di puncak, memasuki gapuranya, melewati warung yang masih siaga, dan berhenti tepat di depan petilasan Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening untuk mengutarakan rasa syukur kami kepada Allah SWT.

Kini waktu sudah menunjukkan pukul 22.45. Dan sesuai rencana kami di awal, saatnya bagi kami kini untuk mencari tempat bernaung. Ya, ‘mencari tempat untuk bernaung’ karena dari awal kami telah memutuskan untuk tidak membawa tenda. Kenapa? Karena di Puncak 29 terdapat shelter (yang menurut saya penampakannya lebih mirip gubuk atau bangunan semi permanen dengan dinding papan kayu, atap genteng, dan lantai semen) dengan ukuran sekitar 3×6 meteran. Shelter ini pun tidak hanya ada satu, melainkan ada tiga. Dan beruntung, karena belum banyak pendaki yang sampai di atas—kebanyakan para pendaki itu telah kami salip di jalur pendakian—baru terdapat satu rombongan yang mengisi shelter. Kami pun memutuskan untuk ikut bergabung dengan rombongan tersebut. Keril yang sejak dari rumah telah memberati punggung kini kami letakkan di atas lantai semen dan mengeluarkan segala isinya yang kami butuhkan. Matras telah tergelar untuk menaruh semua barang bawaan, kompor sudah siap menyala, logistik juga sudah pasrah untuk segera dieksekusi; waktunya masak untuk makan malam. Kami semua sudah kelaparan!

Menu makan malam itu ala kadarnya saja, hanya nasi putih, mie instan, dan telur asin. Dan tentu saja, minuman hangat tidak boleh sampai ketinggalan, kopi dan teh.

Selesai melahap hidangan makan malam sederhana yang entah kenapa terasa begitu nikmat, badan kami jadi melemas karena perut yang kenyang. Hanya obrolan tipis yang mengisi sela-sela waktu kami saat ini. Hingga tidak terasa waktu sudah lewat tengah malam, Zadit yang sedari tadi bergurau pun kini sudah mendengkur pulas padahal badannya sesekali terlihat menggigil kedinginan. Ya, Sapta Rengga saat itu memang sedang dingin-dinginnya. Dan memang salahnya sendiri yang tidak mau membawa Sleeping Bag padahal sudah diingatkan berkali-kali oleh Umam.

Aku dan Umam juga kini sudah mulai mengantuk, sudah saatnya bagi kami untuk berbaring dan memejamkan mata. Umam dengan mudahnya terlelap menyusul Zadit. Tapi tidak denganku. Entah kenapa rasanya aku seperti terus-terusan dirayu untuk tetap menikmati suasana malam itu. Bersihnya langit malam itu, kerlip bintang-bintang yang pada malu-mau, terang benderang Bulan yang begitu ayu, dan damainya malam itu … tidak henti-hentinya aku dirayu. Baiklah, kuturuti apa maumu.

….

Subuh telah hadir. Aku pun terbangun dari lelapnya tidurku. Rupa-rupanya tadi aku tidak sadar telah ketiduran. Rasanya seperti habis dibuai dan dininabobokan.

Zadit dan Umam ku bangunkan. Umam hanya berganti posisi sambil berkata, “hmm, sebentar lagi.” Sedangkan Zadit malah semakin menjadi … menggigilnya. Ya, ternyata membangunkan orang tidur memang bukan pekerjaan yang mudah.

“WIS WAYAHE SUBUHAN! KUE-KUE DO TANGI OPO ORAK?!”

*(SUDAH WAKTUNYA SHOLAT SUBUH! KALIAN PADA BANGUN APA ENGGAK?!*

Sudah kulontarkan teriakan dan tamparan di pantat pun masih tidak bergeming. Kini hanya tinggal satu usaha lagi yang bisa aku lakukan; kulantunkan adzan dengan nada lirih yang selirih-lirihnya di lubang telinga mereka …. Dan cara itu memang selalu berhasil.

Pagi di Puncak Sangalikur (29)

Puncak Sangalikur (29) Sapta Arga Gunung Muria

17 Agustus 2017
Pagi itu begitu cerah
Seperti kata Kartini: “Habis Gelap Terbitlah Terang”
Merdekalah Indonesiaku
Cerahlah masa depanmu
Inilah pesta untukmu di Bumi bangsamu sendiri

Semua yang hadir di atas puncak bergerak menuju Klampis Ireng
Di antara gugusan batu-batu besar tempat petilasan Eyang Semar
Langit di ufuk timur telah berwarna keemasan
Hijau pegunungan Muria begitu memanjakan mata
Sejuk udara merasuk di dada
Jajaran samudera awan turut pula
Kesemuanya membentuk sebuah harmoni dalam wadah lukisan Sang Pencipta

Satu kata, INDAH

Pulang

Puas menikmati lukisan Tuhan dari Puncak 29, pukul 10.00 kami berkemas dan bersiap pulang. Sama halnya dengan perjalanan naik, perjalanan turun juga sama bahayanya. Terlebih karena lelah yang masih menempel di badan membuat kami semakin berhati-hati ketika melewati trek curam khas pegunungan Muria. Intinya, jangan sampai terpeleset atau akan … seperti itu.

Dan puji syukur ke hadirat Yang Maha Kuasa, setelah kurang lebih dua jam setengah kami telah sampai di titik awal pendakian. “Fiuuuh!” Dalam perjalanan ketika turun gunung, tak ada hal yang lebih menyenangkan disbandingkan dengan tempat parkiran yang sudah kelihatan di depan mata. Tidak percaya? Tanyalah temanmu yang gemar mendaki.

Perjalanan kelana di Puncak 29 begitu berkesan bagi kami bertiga. Sungguh begitu banyak hikmah yang kita dapatkan dari sana. Menguji fisik, latihan mawas diri, bersyukur, dan memaknai pesan-pesan yang tersirat secara filosofis dari setiap jengkal Sapta Rengga.

0
Ahmad Ali Buni
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

One Reply to “Cerita Kelana: Mendaki Puncak 29 (Sangalikur) Sapta Rengga Muria”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *