Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Benarkah Nasionalisme Tidak Ada Dalilnya?

4 min read

Benarkah Nasionalisme Tidak Ada Dalilnya?

Pandita.ID – Belakangan ini semakin santer kita jumpai mengenai faham dan gerakan yang sudah secara terang-terangan menunjukkan kalau mereka ingin berjuang menegakkan Khilafah Islamiyah di Indonesia. Parahnya, ternyata banyak di antara mereka yang beranggapan bahwa membela Islam—dengan mendirikan negara Islam—lebih utama ketimbang membela nasionalisme yang dianggap tidak memiliki dalil yang bisa digunakan sebagai landasannya.

*Golongan yang semacam ini adalah golongan yang akan menggunakan segala macam cara asalkan itu dapat membuat faham mereka dapat diterima, sehingga diharapkan bisa menarik simpatisan yang mau mendukungnya.*

Kalau begitu, langsung saja: Apakah benar nasionalisme tidak ada landasannya dalam sumber-sumber islam, seperti Al-Qur’an dan Hadis?

Mari kita luruskan bersama-sama. Bismillah ….

Nasionalisme

Sebelumnya, perlu bagi kita untuk memahami apa itu nasionalisme. Menurut KBBI, istilah nasionalisme ini sendiri memiliki dua arti. Pertama, nasionalisme diartikan sebagai paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan. Kedua, nasionalisme adalah kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan.

Dalam artian yang lebih sempit, nasionalisme dapat diartikan sebagai cinta tanah air atau hubbul wathon.

Dalam kitab al-Ta’rifat (1405 H, hal. 327), Al-Jurjani mendefinisikan tanah air dengan al-wathan al-ashli, yang berarti tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.

Dalil-Dalil Nasionalisme (Cinta Tanah Air)

Jadi, seperti yang saya sampaikan di awal, bahwa ada orang atau sekelompok orang yang mengatakan kalau nasionalisme atau cinta tanah air itu tidak ada dalilnya.

Tidak hanya itu saja, Hadis hubbul wathon minal iman atau cinta tanah air adalah sebagian dari iman itu mereka anggap sebagai hadis palsu. Padahal, meski dokumentasi sanad-nya tidak rapi, namun isinya itu benar. Sejalan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis lainnya.

1. Dalil Cinta Tanah Air di Al-Qur’an

Bahwa ada ayat-ayat di Al-Qur’an yang menunjukkan kepada kita untuk mencintai tanah air atau negeri kita. Bahkan di Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Ibrahim AS berdoa kepada Allah SWT untuk memberkahi negeri yang ditinggalinya.

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian ….” [QS. 2: 126]

Juga dalam Surat Ibrahim ayat 35:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” [QS. 14: 35]

2. Dalil Cinta Tanah Air di Hadis

Rasulullah SAW begitu mencintai Mekah sebagai tanah kelahirannya melebihi dari yang lain.

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa saat Nabi diusir dari Mekah beliau berkata: Sungguh aku diusir darimu (Mekah). Sungguh aku tahu bahwa engkau adalah Negara yang paling dicintai dan dimuliakan oleh Allah. Andai pendudukmu (Kafir Quraisy) tidak mengusirku darimu, maka aku takkan meninggalkanmu (Mekah).” [HR. Tirmidzi]

Dan ketika Nabi pertama sampai di Madinah beliau berdoa lebih dahsyat:

“Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Mekah, atau melebihi cinta kami pada Mekah.” [HR. Al-Bukhari]

Bahkan terdapat pula Hadis yang menjelaskan bahwa membela tanah air itu merupakan perbuatan yang mulia:

“Orang-orang yang mati terbunuh untuk mempertahankan hartanya itu mati syahid. Begitupun orang yang membela agama, mempertahankan nyawa, serta keluarga dan penduduknya juga dikategorikan mati syahid bila sampai terbunuh.” [HR. Tirmidzi]

Dalil as-Sunnah di atas mempertegas bahwa nasionalisme bukanlah sesuatu yang berbahaya bagi umat Islam. Banyak dalil agama yang menganjurkan setiap umat Islam harus memiliki sikap nasionalisme pada bangsanya. Apalagi sering kita dengar bahwa mencintai tanah air itu bagian dari iman, hubbul wathon minal iman. Menurut Syekh Mula al-Qari di dalam kitab al-Asrar al-Marfu’ah, ada yang berpendapat bahwa ungkapan ini merupakan perkataan Ulama’ Salaf. Artinya, mencintai tanah air juga di ajarkan oleh para Ulama’ Salaf (Salafus Shalih).

READ  Papua: Kitorang Semua Basudara, Indonesia Rumah Kita Bersama

Belajar dari Fakta Sejarah dan Para Ulama’ Bangsa

Fakta Sejarah

Dilansir dari NU Online, jika kita menengok kepada sejarah bangsa kita, para Ulama’ lah yang justru berupaya menanamkan nasionalisme dan tidak mempertentangkannya dengan Islam. Memang, ada dua kutup terkait Islam dan Nasionalisme, yakni ada kelompok Islamis dan ada kelompok Nasionalis. Tetapi dengan kepiawaiannya, para Ulama’ terdahulu mampu memadukan keduanya. Inilah yang dilakukan oleh NU sehingga nasionalisme tidak menjadi ‘gersang’ tetapi berlandaskan pada agama.

*Note: NU telah berhasil mengawinkan antara agama dan semangat nasionalisme. NU telah memberikan sumbangsih dalam menentukan bentuk negara Indonesia: Sebuah negara yang dijiwai nilai-nilai agama dan nasionalisme.

Bahkan ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh George McTurnan Kahin, yang menuliskan hasil penelitian sejarahnya dalam “Nationalism and Revolution in Indonesia” (Cornell University Southeast Asia Program, 1952), yang dengan tegas menandaskan kesimpulan bahwa:

“Nasionalisme Indonesia berakar pada tradisi Islam Nusantara.”

Dan tradisi Islam Nusantara yang dimaksudkan dalam penelitian McTurnan adalah Pesantren.

Banyak sekali bukti-bukti sejarah yang memperkuat kesimpulan yang buat oleh McTurnan. Salah satunya adalah apa yang diriwayatkan oleh KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) berikut ini:

Mbah Moen meriwayatkan, bahwa ketika beliau mondok di Tambakberas dan belajar di sekolah Syubbaanul Wathon, setiap hari sebelum masuk ke kelas para murid diwajibkan menyanyikan sebuah lagu yang diciptakan oleh KH. Wahab Hasbullah pada tahun 1934. Ya! Lagu yang dimaksud adalah lagu “Yaa Lal Wathon”, yang juga dikenal sebagai lagu mars NU. Ada yang hafal lagunya?

Gus Dur

Ini juga yang menjadi salah alasan kenapa saya menulis artikel ini, Gus Dur adalah sosok yang menginspirasi saya perihal nasionalisme. Maka dari itu saya jadi merasa saya perlu mengulas tentang nasionalisme.

Jadi, mengapa Gus Dur begitu mencintai Indonesia? Karena beliau adalah manusia pesantren. Ditambah lagi, dalam pesantren, “keindonesiaan” adalah salah satu unsur utama yang menjadi jati diri inti di dalamnya.

READ  Napak Tilas Sejarah Hidup Ulama Karismatik KH Maimun Zubair

Sepenggal cerita menarik dari Gus Dur:

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, tepatnya pada sub bahasan kenapa (Gus Dur) tidak mendirikan negara Islam? Gus Dur menegaskan bahwa sebab-sebab negara Indonesia ini berdiri adalah untuk melindungi keragaman—bukan untuk mendirikan negara Islam.

Diungkapkan oleh Mahfud MD, yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Persatuan Nasional: Bahwa menjelang detik-detik pelengserannya, ada 7 tokoh besar Islam (yang tidak disebutkan namanya) yang ingin menemui Gus Dur guna menawarkan solusi alternatif supaya beliau dapat terus menjadi Presiden, dengan kata lain tidak dilengserkan.

Mereka mengusulkan agar Gus Dur tidak mengeluarkan dekrit pembubaran DPR dan MPR, tetapi mengusulkan supaya Gus Dur mengeluarkan dekrit untuk merubah negara Indonesia ini menjadi Negara Islam Indonesia, serta mengganti Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dengan ideologi Negara Islam.

Dengan begitu, jika usul 7 tokoh besar itu diiyakan oleh Gus Dur, maka dalam waktu sehari/dua hari maka Jakarta akan dikepung oleh seluruh umat Islam yang akan membela Gus Dur di Jakarta. Sehingga Gus Dur selamat, dan Indonesia akan dibela oleh umat Islam karena merupakan perintah Presiden dan dekrit Presiden.

Tapi apa tanggapan Gus Dur?

Gus Dur Marah, “lebih baik saya jatuh dari kedudukan presiden daripada saya mengkhianati negeri ini dan melanggar konstitusi.”

Gus Mus

Pada salah satu ceramahnya, KH. Mustofa Bisri atau yang lebih akrab disapa Gus Mus, menjelaskan bahwa nasionalisme itu adalah sesuatu yang alamiah. Bahkan, beliau menegaskan bahwa “tidak perlu dalil” untuk menjaga Indonesia sebagai salah satu bentuk nasionalisme kita, karena:

“Logikanya sederhana: Indonesia ini rumah kita. Yang kita hirup selama ini adalah udara Indonesia. Tempat sujud kita adalah Indonesia. Kita lahir di Idonesia. Nanti mati dikebumikan di Indonesia. Kalau orang lain merusak Indonesia, masih bisa dimaklumi. Tapi kalau orang Indonesia (yang merusak), itu aneh: Rumahnya sendiri kok mau dirusak itu bagaimana?” [Gus Mus]

Nah, demikian sedikit ulasan yang dapat saya sampaikan perihal ada atau tidaknya dalil nasionalisme dalam Islam.

Menurut sudut pandang saya ini penting untuk kita ketahui bersama. Terlebih untuk Millennials semua di mana pun kalian berada, sebagai generasi terdepan yang sedang dan akan memikul beban masa depan bangsa, pandai-pandailah dalam menyikapi segala kabar, seruan, atau bahkan ilmu dan faham yang disuguhkan kepada kita. Jika dirasa itu baik untuk kita; ambil, jika tidak; abaikan, dan kalau pun kita ragu; datang dan tanyakan kepada yang lebih mumpuni ilmunya (Ustad, Kyai, atau Ulama’).

Memang, di era digital ini kita bisa dengan mudah untuk mencari dan mendapatkan wawasan informasi dan pengetahuan, termasuk tentang ajaran Islam, tapi tetap saja, jalan terbaik untuk menuntut ilmu keagamaan (Islam) adalah dengan berguru langsung kepada ahlinya (Ustad, Kyai, atau Ulama’). Atau kalau perlu, mondok sekalian. Insya Allah akan lebih berkah.

Salam.


Hubbul Wathon Minal Iman
(Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman)

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *