Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Dasar Pemikiran Besar Gus Dur yang Relevan Hingga Saat Ini

5 min read

Pemikiran Besar Gus yang Relevan Hingga Sekarang

Orang itu baru benar-benar mati ketika semua orang sudah melupakannya.


Pandita.ID – Hingga akhir hayatnya, masih saja beliau mengabdi kepada negeri, mengabdi kepada semua orang. Dan setelah kepergiannya, ternyata masih saja kita dididik olehnya, mulai dari sikap dan perilaku yang pernah dicontohkannya, juga oleh pandangan dan pemikiran-pemikiran beliau yang ternyata masih relevan hingga saat ini.

Tidak sembarangan kenapa predikat “Guru Bangsa” menjadi lekat dalam diri beliau. Semasa hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang bijak dalam mengamalkan ilmunya. Pemikiran dan gagasan yang ditinggalkannya kepada kita amat sangat cemerlang. Dan yang terpenting dari semua itu, beliau juga mengamalkannya.

Hal ini sungguh berbanding terbalik dengan kondisi yang ada pada saat ini, dimana sering kita jumpai di sana-sini banyak orang yang punya ilmu yang baik sekali, tapi apa yang dilakukannya berbeda (dengan ilmu yang dikuasainya). Kepintaran dipakai untuk ujaran kebencian, mencaci maki orang lain, mengkafirkan orang lain, dan perilaku-perilaku yang tidak pada tempatnya.

Melihat kondisi yang demikian, ada baiknya bagi kita sebagai generasi penerus bangsa, untuk belajar lagi dari apa yang telah ditinggalkan dan diajarkan oleh Si Guru Bangsa, mengkaji pemikiran-pemikirannya, menelaah gagasan-gagasannya, dan berusaha untuk terus meneruskan estafet mulia yang diusungnya.

5 Pemikiran Fundamental Gus Dur yang Menjadi Amanat dan Agenda Sepanjang Masa

Pada tahun 2014, Susilo Bambang Yudhoyono yang saat itu menjabat sebagai Presiden Indonesia, memaparkan lima pemikiran fundamental Gus Dur saat memberikan sambutan dalam acara Haul ke-4 Gus Dur di Ponpes Tebu Ireng.

Kelima pemikiran besar Gus Dur tersebut merupakan intisari dari pembicaraan pribadi yang terjadi antara Gus Dur dengan SBY yang saat itu menjadi menteri beliau.

SBY mengutarakan, bahwa pemikiran besar beliau yang semuanya masih relevan hingga saat ini, menjadi amanat dan agenda sepanjang masa bagi kita, rakyat Indonesia. Dan kelima pemikiran tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

Pertama, Gus Dur menginginkan agar Indonesia menjadi negara majemuk yang rukun.

Kedua, menghilangkan diskriminasi dengan alasan apapun.

“Tuhan Yang Maha Besar, Maha Agung dan Maha Berkuasa tidak perlu dibela. Yang memerlukan dibela adalah manusia yang ditindas dan dianiaya.” [Gus Dur]

Ketiga, Gus Dur mengharapkan peran masyarakat yang partisipatif dan mengurangi peran negara yang dominan. Indonesia memang sudah tidak lagi berada dalam sistem otoritarian, tetapi masih terdapat pola pikir otoriter dalam masyarakat. Maka dari itu, perlu untuk terus mendorong masyarakat agar memiliki sikap yang partisipatif.

Keempat, negara tidak boleh mengontrol pikiran rakyatnya. Menurut Gus Dur, sudah selayaknya negara memberikan ruang bagi masyarakat yang sudah matang dan arif menggunakan haknya.

Dalam masyarakat yang telah matang, warga negara menyadari batas-batas kebebasannya. Meski demikian, pada masa transisi, selalu ada ekses dalam mengekspresikan kebebasan tersebut.

Dan Kelima, menginginkan hubungan sipil dan militer yang sehat. Masing-masing pihak harus mengerti di mana domainnya. Ini berarti militer tidak boleh mendominasi sipil, namun sipil juga harus mengetahui batas-batas wilayahnya.

Dasar Pemikiran Gus Dur

Semua dasar pemikiran Gus Dur berpijak pada ajaran agama Islam yang diyakininya sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta). Hal ini pernah disampaikan langsung oleh Hj. Shinta Nuriyah, istri mendiang Gus Dur, ketika membuka Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) yang diselenggarakan oleh Komunitas Gusdurian Jakarta pada tanggal 1 April 2017 di Yayasan Puan Amal Hayati (Ciganjur, Jakarta Selatan).

READ  Kisahku Memasuki Dunianya Para Dewasa [Chapter 1]

Ibu Shinta mengutarakan bahwa semua ilmu yang didapatkan Gus Dur adalah untuk rahmatan lil alamin. Itulah sebabnya mengapa Gus Dur menjunjung tinggi kemanusiaan. Kemanusiaan tersebut ketika dicocokkan dengan kondisi masyarakat yang pluralis (majemuk), maka Gus Dur pun menerapkan pluralisme.

Maka tidak heran kenapa Gus Dur kerap disebut sebagai Bapak Pluralisme Indonesia.

Moderat

Gus Dur menegaskan dan menyerukan kepada kita untuk menjadi orang yang moderat.

Moderat yang bagaimana?

Berkaca dari kemajemukan yang ada di negeri kita, di antara kita pasti ada yang pernah menemui pernyataan atau pertanyaan seperti “semua agama itu kan sama” dan lain sebagainya. Gus Dur menjelaskan bahwa agama itu sama dalam hal watak dan tugasnya. Jadi jangan asal mengatakan bahwa semua agama itu sama. Tidak bisa.

Akan tetapi, meskipun agama kita tidak sama, tapi kita harus tetap saling menghormati dan saling tolong-menolong, dan jangan jahat terhadap mereka yang berbeda.

Maka dari itu yang tenang saja, dan kita tetap menjadi orang yang moderat. Khairul umur ausatuha, Sebaik-baik hal yaitu diambil yang tengah-tengah.

Kenapa Tidak Mendirikan Negara Islam?

Menurut sudut pandang Gus Dur, salah satu sebab berdirinya negara Indonesia ini adalah untuk melindungi keberagaman. Dan oleh Gus Dur, ditambahkan syarat “yang rukun”. Itulah Bhineka Tunggal Ika menurut Gus Dur.

Pernah dalam salah satu ceramahnya, ada sebuah pertanyaan yang sangat berhubungan dengan gejolak yang tengah terjadi di negeri kita saat ini, “kenapa kok nggak mau bikin negara Islam?”

Jawab Gus Dur, “karena Indonesia pemeluk agamanya beragam.”

Beda halnya jika NKRI diserang dari luar atau diserang oleh bangsa lain, untuk perihal yang satu ini Gus Dur bertutur bahwa sudah sepantasnya kaum Muslim mempertahankannya sebagai perintah agama—hukumnya wajib!

Beliau juga berpesan kepada kita—sebagai generasi penerus setelah beliau—tidak usah takut atau bingung jika diserang dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “kenapa kok nggak mau bikin negara Islam,” karena pada dasarnya, mendirikan negara Islam itu hukumnya tidak wajib.

“Bikin (negara Islam) itu bagus, tidak bikin ya tidak apa-apa.” [Gus Dur]

Nah, lantas bagaimana baiknya untuk Indonesia?

Menurut beliau, Indonesia lebih baik tidak membuat atau mendirikan negara Islam. Kenapa? Karena Indonesia agamanya beragam. Karena selain Islam, di Indonesia ada agama Hindu, Budha, Kristen, Katholik, dan Konghucu. Inilah alasan beliau mengutarakan bahwa salah satu sebab-sebab berdirinya negara (Indonesia) adalah untuk melindungi keberagaman.

Pandangan Gus Dur terhadap Islam dan Demokrasi

Jadi, apakah Islam bertentangan dengan demokrasi?

Dilansir dari Gusrdurian.net, menurut Gus Dur, Islam adalah agama demokrasi dengan alasan sebagai berikut:

Pertama, Islam adalah agama hukum. Hukum itu berarti ajaran Islam berlaku bagi semua orang tanpa pandang bulu. Baik yang bersifat pemegang jabatan tertinggi hingga rakyat jelata, dikenakan hukum yang sama. Karena itulah, penting sekali demokrasi bagi Islam. Kalau tidak, maka hukum dalam Islam tidak akan jalan dalam kehidupan.

Yang kedua, karena Islam memiliki asas permusyawaratan. Amruhum syuro bainahum, ini teksnya yang menyatakan bahwa perkara-perkara mereka dibicarakan di antara mereka.

Membahas tentang permusyawaratan, apakah itu nanti akan berujung pada voting atau tidak, hal itu dianggap tidak relevan bagi beliau, karena yang terpenting adalah tradisi membahas, tradisi bersama-sama mengajukan pemikiran secara bebas dan terbuka, lalu diakhiri dengan kesepakatan. Ini adalah musyawarah atau syuro.

Kemudian yang ketiga, yang menurut beliau merupakan poin yang paling penting, yakni Islam selalu berpandangan memperbaiki kehidupan. Karena dunia ini adalah persiapan untuk hidup di akhirat, wal akhirotu khoirun wa abqo, akhirat itu lebih baik dan lebih langgeng. Karena itu kehidupan manusia tarafnya tidak boleh tetap. Harus meningkat terus untuk bisa menjadi kehidupan yang baik di akhirat. Jadi, standar baik itu di akhirat, kehidupan di dunia harus diarahkan kepada yang baik.

READ  Napak Tilas Sejarah Hidup Ulama Karismatik KH Maimun Zubair

Ini sebenarnya juga adalah prinsip dari demokrasi, karena pada dasarnya demokrasi adalah upaya untuk bersama-sama memperbaiki kehidupan. Karena itulah Islam dikatakan sebagai diinul Islam yang berarti “agama perbaikan”.

Demikian alasan-alasan kenapa Gus Dur mengatakan bahwa Islam itu adalah Demokrasi.

Cara Ulama’ Menurut Gus Dur

Meski pada saat itu saya baru duduk di bangku kelas 3 entah kelas 4 SD, tetapi masih teringat betul dalam ingatan saya seperti apa atmosfir negeri ini mendekati detik-detik bagaimana beliau dilengserkan dari jabatan Presiden.

Yang kerap menjadi pertanyaannya hingga saat ini adalah, kok beliau mau-mau saja (dilengserkan)? atau kok beliau terima saja (dilengserkan)?

Padahal, setidaknya tercatat ada 300.000 orang yang mayoritas terdiri dari para Kyai dan Santri-Santri NU, sudah bertanda tangan mau mempertahankan beliau. Bahkan, kalau perlu korban nyawa (demi beliau). Layaknya pasukan yang sudah bersiap untuk tempur, hanya tinggal menunggu komando saja maka 300.000 orang yang siap mati (demi mempertahankan Gus Dur) ini akan berangkat menuju Jakarta.

Akan tetapi, Gus Dur justru malah berusaha sekuat tenaga dan sebisa mungkin menyuruh mereka agar mengurungkan niatnya untuk berangkat ke Jakarta.

*Bisa dibayangkan sendiri akan jadi seperti apa Jakarta jika skenario terburuk ini sampai terjadi. Medan pertempuran? Ah, entah lah. Saya pribadi merasa ngeri membayangkan kalau sampai kemungkinan itu benar-benar terjadi.*

Terlepas dari kontroversi dan skandal yang disangkut-pautkan terhadap beliau, Bagi Gus Dur, tidak mengapa ia dilengserkan demi menghindari pertumpahan darah yang sia-sia. Toh, bagi beliau jabatan sebagai Presiden itu tidak lebih dari sekadar jabatan di dunia.

“Jabatan di negara ini, tingginya apa sih Presiden itu? Kok sampai harus meneteskan darah manusia Indonesia (demi sebuah jabatan)? Sangat tidak perlu. Besok-besok juga pasti akan terbukti sendiri.

Tapi kalau mengenai prinsip, mengenai alasan berdirinya negara, mengenai bentuk negara dan sebagainya, meskipun mati akan aku lakukan. Begitulah orang NU itu. Ulama’ ya seperti ini caranya.”

[Gus Dur]

Lantas, seperti apa definisi Ulama’ menurut Gus Dur?

Definisi Ulama’ Menurut Gus Dur

Menurut Gus Dur, Ulama’ itu memikirkan kepentingan bangsa dan negara, bukan memikirkan kelompoknya sendiri. Seperti yang telah difirmankan:

“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah di antara para hamba Allah sendiri adalah mereka para Ulama’ ….” [QS. Fathir: 28]

Selain itu, menurut Gus Dur, Ulama’ juga menggunakan akhlak yang baik, karena Ulama’ itu pewarisnya Nabi. Apa itu yang diwariskan oleh Nabi? Yakni akhlak yang mulia.

Jadi, semoga definisi Ulama’ menurut Gus Dur ini dapat meluruskan definisi Ulama’ yang belakangan ini sepertinya telah mengalami pergeseran dari makna yang sesungguhnya.

Pandangan Gus Dur Terhadap Perempuan

Gus Dur adalah salah satu tokoh yang menjunjung kesetaraan perempuan. Hal ini diwujudkan melalui upaya beliau dalam mendobrak budaya di Indonesia yang mayoritas didominasi oleh sikap dan persepsi bahwa perempuan hanyalah sekadar konco wingking (dari sudut pandang yang sempit).

Gus Dur menegaskan agar jangan meremehkan perempuan karena perannya yang sangat vital. Menurut beliau, selain sebagai tokoh sentral dalam kehidupan manusia, perempuan adalah madrasah pertama bagi manusia.

Sebenarnya masih banyak lagi pemikiran dan gagasan beliau yang belum tersampaikan dalam artikel ini, ya … mungkin lain waktu bisa disambung dan dilengkapi lagi. Atau, mungkin ada di antara Millennials atau sudara-saudari yang ingin menambahi? Monggo, saya persilahkan dengan senang hati.


“Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu.”

— Gus Dur —

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *