Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Bumi Manusia, Film yang Diangkat dari Novel Epic karya Pram

4 min read

Bumi Manusia, Film yang Diangkat dari Novel Epic karya Pram

*Note: Artikel ini merupakan postingan ulang dari artikel yang sebelumnya telah diposting pada Juli 2019.*


Pandita.ID – Kabar baik untuk para penggemar dan penikmat karya Pram. Ya, akhirnya! Novel epic karya “Sang Maestro” sastra Indonesia (bahkan dunia), Bumi Manusia, akhirnya rampung dan telah tayang di bioskop kesayangan.

Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini mulai tayang pada 15 Agustus 2019, bebarengan dengan film lain yang juga diangkat dari karya Pram, yakni “Perburuan“.

Frederica, Produser film Bumi Manusia dan Perburuan, menyatakan bahwa dirilisnya kedua film tersebut secara bebarengan ditujukan sebagai bentuk perayaan sebuah perjalanan hidup sosok sastrawan legendaris, Pram, yang jatuhnya di bulan Agustus dan sekaligus untuk merayakan HUT kemerdekaan RI.

Diangkatnya novel Bumi Manusia ke layar lebar ini memang sangat menarik, dan tak ayal membuat banyak kalangan (termasuk saya pribadi) tidak sabar untuk segera menontonnya dengan berbagai ekspektasi yang ada. Kenapa? Simak ulasan berikut.

Film Bumi Manusia

1. Diangkat dari Novel Masterpiece Karya Pramoedya Ananta Toer

Seperti yang telah disampaikan di awal, film Bumi Manusia ini diangkat dari novel dengan judul yang sama karya “Sang Maestro” Pramoedya Ananta Toer atau yang lebih akrab disapa Pram.

Kebesaran nama Pram sebagai seorang sastrawan tak hanya diakui dalam dunia sastra dalam negeri, tetapi juga bergaung dan bergema sampai ke manca negera.

Hal ini terbukti dari banyaknya deretan penghargaan yang diraihnya. Sang Maestro bahkan pernah berkali-kali menjadi kandidat teratas peraih penghargaan Nobel Sastra, yang mana sampai sekarang ia masih menjadi satu-satunya sastrawan Indonesia yang sampai pada pencapaian itu.

Pramoedya Ananta Toer kerap menyebut buku-buku yang ditulisnya sebagai ‘anak-anak rohaninya’. Dan dari sekian banyak anak rohaninya, empat novel yang dikenal dengan ‘Tetralogi Buru‘ merupakan karya monumentalnya—beberapa menyebutnya sebagai masterpiece. Keempat novel tersebut yakni Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1985).

Akhirnya, tahun ini kita bakal menyaksikan Bumi Manusia dalam versi filmnya. Namun, sebelum menonton filmnya, ada baiknya kalau kamu juga baca bukunya.

Soalnya sayang sekali kalau kamu sampai tidak kenal dengan novel yang mendunia ini. Bahkan, oleh para pegiat literasi, Tetralogi Buru merupakan salah satu bacaan wajib yang direkomendasikan untuk dibaca oleh Millennials dan Gen-Z.

Kenapa? Alasannya akan disampaikan pada poin kelima.

Selain itu, dengan membaca bukunya, berarti secara langsung kamu telah mengetahui jalan cerita film Bumi Manusia bukan?

2. Disutradarai oleh Hanung Bramantyo

Siapa yang tak kenal dengan Hanung Bramantyo, seorang sutradara yang sudah tidak asing lagi dalam dunia perfilman Indonesia. Sederetan film-film garapannya sukses dalam mewarnai khasanah perfilman Indonesia.

READ  Biografi Sang Maestro Pramoedya Ananta Toer

Generasi Milenial awal mana yang tak tahu dengan film Catatan Akhir Sekolah yang booming di tahun (2005), lalu Get Married (2007) dan Get Married 2 (2009), Ayat-Ayat Cinta (2008), Perempuan Berkalung Sorban (2009), Sang Pencerah (2010), Perahu Kertas 1 (2012) dan Perahu Kertas 2 (2013) yang juga diagkat dari novel best seller karya Dewi ‘Dee’ Lestari, lalu ada Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), Rudy Habibie (2016), Kartini (2017), dan deretan film-film lain yang disutradari olehnya.

3. Dibintangi Iqbaal Ramadhan sebagai Minke (Tokoh Utama)

Film yang naskahnya ditulis oleh Salman Aristo ini akan menampilkan menampilkan Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, Sha Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh, dan Mawar de Jongh sebagai Annelies.

Selain itu, film Bumi Manusia ini akan menampilkan aksi dari Ayu Laksmi, Donny Damara, Bryan Domani, Giorgino Abraham dan Jerome Kurniawan.

Mungkin ini yang bisa menjadi salah satu alasan bagi para kaum hawa untuk menonton film Bumi Manusia. Hmm.

Iqbaal Ramadhan, aktor yang sebelumnya telah sukses besar dalam memerankan tokoh ‘Dilan’ yang charming kembali memerankan tokoh utama, yakni sebagai ‘Minke’ dalam film Bumi Manusia.

Sebelumnya, jauh-jauh hari ketika kabar novel Bumi Manusia akan diangkat ke layar lebar dengan status Iqbaal sebagai aktor yang memerankan karakter ‘Minke’, tidak sedikit pihak-pihak yang yang menyangsikan keberhasilan Iqbaal dalam memerankan karakter tersebut.

Bahkan banyak yang beranggapan kalau Iqbaal bukanlah aktor yang pas untuk memerankan ‘Minke’.

Hal ini didasarkan pada sosok Iqbaal yang pada dasarnya tidak memiliki potongan model seperti ‘Minke’ serta kekhawatiran lain akan image ‘Dilan’ yang masih melekat dalam pandangan masyarakat akan dirinya.

Hal ini pun diakui oleh sang aktor, Iqbaal mengaku bahwa salah satu tantangannya adalah melepas peran ‘Dilan’ yang melekat pada dirinya.

Penasaran seperti apa ‘Minke’ yang diperankan oleh Iqbaal Ramdhan? Kita tunggu saja.

4. Durasi Film Bumi Manusia Bakal Sepanjang Avengers: End Game

Salah satu spoiler yang dibeberkan oleh pihak Falcon Pictures adalah bahwa film Bumi Manusia ini nantinya akan berdurasi selama 2 jam 52 menit.

Hampir 3 Jam, wow! Durasi yang lama itu tak ayal akan menjadikan Bumi Manusia sebagai film Indonesia yang bakal sepanjang Avengers: End Game!

Yaaa, sebenarnya durasi lama ini terbilang wajar sih, apalagi jika melihat isi novel Bumi Manusia sendiri yang kurang lebih ada 530 halaman.

Akan tetapi tetap saja bagi film asli karya anak bangsa hal ini merupakan pengecualian, karena sepengetahuan saya belum ada film dalam negeri yang durasinya sepanjang durasi film Bumi Manusia.

Atau mungkin sebelumnya sudah lebih dulu ada film Indonesia yang durasinya sepanjang itu tetapi saya belum mengetahuinya? Mohon koreksinya.

5. Belajar Sejarah dan Menjadi Indonesia dari Karya Pramoedya

Kenapa oleh para pegiat literasi roman Tetralogi Buru dengan Bumi Manusia sebagai serial pertamanya menjadi buku yang wajib dibaca Millennials dan Gen-Z?

Hmm. Tidak hanya bercerita tentang romantisme antara Minke dan Annelies, Bumi Manusia (beserta keempat karya lainnya dalam Tetralogi Buru) merupakan upaya Pram untuk menjawab: “Apa itu Indonesia.”

READ  Sebuah Dongeng Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

Serial roman Tetralogi Buru ini sendiri mengambil latarbelakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20.

Dengan membacanya, waktu kita akan dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para “Srikandi” yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern. [Bumi Manusia, 1980]

Pada masa itu, perkara menjadi Indonesia sedang hangat—jika tidak bisa dikatakan panas—ia mulai memikirkan sebuah serial novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia (Tempo, 19 Mei 2008).

Minke, karakter utama dalam serial novel ini terinspirasi dari sosok nyata Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS), Bapak Pers Nasional sekaligus Pahlawan Nasional, pendiri surat kabar berbahasa Melayu pertama, Medan Prijaji.

TAS juga dikenal sebagai tokoh yang mendirikan organisasi pribumi pertama, Syarikat Dagang Islam (SDI). TAS adalah model sempurna dari embrio Indonesia modern, karena perintis pers dan salah satu tokoh awal nasionalisme di permulaan abad 20.

Selaku sutradara film Bumi Manusia, Hanung menyampaikan dari sudut pandangnnya tentang apa yang sebenarnya menjadi maksud dan tujuan Pram dalam Bumi Manusia. Ia berkata, “melalui tokoh Minke, Pram sebenarnya ingin berbicara tentang manusia Indonesia. Apa sih Indonesia itu? Apa itu pribumi? Dan, manusia yang bisa menentukan dirinya sendiri itu yang seperti apa?”

Hanung pun kemudian mengingat masa-masa itu. Sambil menangis, ia mengatakan jika sangat mengapresiasi karya-karya Sang Maestro.

“Pas saya masih umur 17 tahun, saya harus bersembunyi untuk membaca karya beliau. Karena takut ketahuan dan di penjara.” [Hanung Bramantyo]

Fakta Bumi Manusia

*Fakta: Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa semasa pemerintahan orde baru, karya-karya Pramoedya Ananta Toer termasuk salah satu karya sastra yang dilarang terbit dan dibaca karena dianggap mengandung konsep komunisme, marxisme, dan leninisme.

Bahkan tidak sedikit anak-anak rohaninya, karya-karyanya, yang menjadi korban vandalisme rezim yang berkuasa saat itu—beberapa disita, beberapa dihanguskan.

Sayang sekali, padahal pada masa itu belum ada sistem back-up data seperti pada masa sekarang: Anak-anak rohaninya gugur—di antaranya adalah karya yang berjudul Panggil Aku Kartini Saja 3 dan 4.

Dan barulah pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, karya-karya Pramoedya Ananta Toer mulai bebas untuk dibaca dan diterbitkan. Meski tidak semua anak-anak rohaninya selamat, namun kita masih bisa menjumpai beberapa karyanya yang tak bosan berada di jajaran rak best seller seperti halnya Bumi Manusia dan serial Tetralogi Buru lainnya.

So, Millennials, sudah pada nonton film Bumi Manusia belum?

Nah, sembari menonton filmnya, ada baiknya kalau kalian juga membaca roman Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, dimulai dari Bumi Manusia.


Kita Harus Bangga Menjadi Orang Indonesia


 

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *