Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Film Perburuan, Adaptasi Novel Pramoedya dari Balik Penjara

3 min read

Film Perburuan, Adaptasi Novel Pramoedya dari Balik Penjara

*Note: Artikel ini merupakan postingan ulang dari artikel yang sebelumnya telah diposting pada Juli 2019.*


Pandita.ID – Apakah Millennials sudah ramai menemui spoiler yang bertebaran tentang film “Perburuan”?

Hmm.

Sebenarnya dengan adanya spoiler juga tidak terlalu penting sih, kalau, kalau ya …, kalau Millennials sebelumnya sudah pernah membaca novel Perburuan. Hehe.

Tapi bagi kalian yang mungkin belum pernah membaca novel karya Sang Maestro, dan mungkin belum tahu seperti apa gambaran film Perburuan ini, ada baiknya Millennials menyimak ulasan berikut ini. Mari ….

Film Perburuan

Seperti yang kita tahu, belum lama ini Falcon Pictures telah membeberkan poster film Bumi Manusia dan merilis jadwal tayangnya, yaitu pada 15 Agustus 2019. Dan tak berselang lama, Falcon Pictures kembali mengumumkan akan segera merilis poster “Perburuan” pada Rabu 26 Juni, hari ini.

Jadwal Tayang

Perburuan akan ditayangkan di bioskop Indonesia pada 15 Agustus 2019, bersamaan dengan penayangan film Bumi Manusia setelah sebelumnya film Perburuan ini rencananya akan ditayangkan pada 2016.

Proses Produksi

Falcon Pictures membeli hak adaptasi novel Perburuan bebarengan dengan novel Bumi Manusia yang juga merupakan karya Sang Maesto, Pramoedya Ananta Toer. Dan sutradara yang dipilih adalah Richard Oh.

Sebenarnya rencana produksi film ini sudah bermula pada 2015, tetapi karena satu dan lain alasan pertengahan harus diundur ke pertengahan Juli 2018.

Richard awalnya ingin mengadaptasi novel Gadis Pantai yang juga ditulis Pram, tetapi Falcon Pictures menilai novel itu terlalu bertele-tele karena tekanan sosial yang diangkat dalam novel itu sedikit rumit ketika ditampilkan ke dalam film. Setelah sebelumya, Frederica (produser) menyebut Astuti Ananta, putri Pram Sang Maestro, telah menawarkan Gadis Pantai dan Perburuan untuk difilmkan.

Dibintangi oleh Adipati Dolken

Film yang disutradari oleh Richard Oh ini menggandeng Adipati Dolken sebagai aktor utamanya.

Sudah pada tahu lah ya siapa itu Adipati Dolken …. (?)

Dari sederet film-film yang pernah dimainkan oleh sang aktor seperti Malaikat Tanpa Sayap, Perahu Kertas, Teman Tapi Menikah, Adipati selalu sukses dalam memerankan perannya. Berbagai penghargaan pun telah disabet olehnya.

Sosok Adipati Dolken dalam Film Perburuan

Dari pengumuman yang di-publish di akun Instagram @falconpictures_, tampak sosok sang aktor yang memerankan karakter Raden Hardo mengenakan seragam mirip milik Tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang berwarna hijau—beberapa bahkan memuji penampilan Adipati mirip Leonardo De Caprio dalam film-film dengan genre yang kurang lebih sama.

READ  Bumi Manusia, Film yang Diangkat dari Novel Epic karya Pram

Hmm. Apakah aksi sang aktor akan sesuai dengan apa yang dieluh-eluhkan?

Diangkat dari Novel “Perburuan” yang Ditulis di Balik Penjara

Seperti halnya film Bumi Manusia yang diadaptasi dari karya Sang Maestro, film Perburuan juga diadaptasi dari novel dengan judul dan pengarang yang sama.

Sejarah mencatat bahwa naskah novel Perburuan lahir di Balik penjara Pulau Buru.

Seperti halnya serial roman Tetralogi Buru yang lahir dalam masa pengasingan, Pram menyelamatkan naskah novel Perburuan melalui tamu yang mengunjunginya. Ialah Resink, sahabat Sang Maestro yang menyelundupkan dan menyelamatkan “anak-anak rohani” Pram keluar dari Pulau Buru.

*Catatan: Perburuan termasuk satu dari karya-karya Pram yang dilarang beredar dan dibaca pada masa pemerintahan orde baru.

Seperti apa cerita yang diabadikan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novel Perburuan? Berikut sinopsisnya:

Sinopsis Perburuan

Perburuan mengisahkan perjuangan seorang anak Wedana yang bernama Raden Hardo yang hidup pada masa pemerintahan Jepang. Dulunya ia adalah seorang tentara Seinendan, namun ia menjadi buronan Jepang sebab pemberontakan yang telah ia lakukan. Cacat fisik pada tubuhnya yang bercirikan panjang tangan kanan melebihi tangan kiri menjadikan ciri khas dalam proses pencariannya.

Selama diburu oleh Jepang, Hardo menyamar menjadi seorang kere atau gelandangan yang selalu berjalan menyusuri Jakarta untuk menghilangkan jejaknya dari Jepang.

Semenjak ia menjadi buronan Jepang, ayahnya yang menjabat sebagai Wedana Karangjati dipecat. Bahkan, kedua orang tuanya disuruh untuk mencari dan mengepung anaknya sendiri untuk dibantai.

Informasi tersebut diketahuinya ketika secara tanpa sengaja Hardo bertemu dengan ayahnya di sebuah gubuk di tengah sawah. Pada saat itu Hardo sedang beristirahat, dan ayahnya yang lari dari penggrebekan judi tak sengaja sampai di gubuk tempat Hardo beristirahat.

Pada saat itu pula sang ayah bercerita bahwa ia telah dipecat dan ibunya telah meninggal dunia karena tidak kuat menahan sakit dan beban yang dipikulnya ketika menjalani perjalanan untuk mencari Hardo.

Sang ayah merasa sangat bahagia begitu bertemu dengan Hardo, dan sang ayah juga haqqul yakin bahwa seorang kere yang sedang diajakya bicara itu memang benar anaknya. Akan tetapi, Hardo tidak mau mengatakan jati dirinya yang sebenarnya, malah ia mengatakan kepada sang ayah bahwa ia bukanlah Hardo melainkan kawan anaknya, bahkan ia mengatakan bahwa ia tidak akan menceritakan apapun tentang keberadaan Hardo.

READ  Sebuah Dongeng Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

Naas, pertemuan tak sengaja antara Hardo dengan ayahnya itu cepat tercium oleh Jepang, sehingga penggrebekan kembali terjadi di gubuk tersebut saat sang ayah sedang membakar jagung untuknya. Beruntung Hardo sudah lari menyelamatkan diri terlebih dahulu ketika sirene tanda penggrebekan itu berbunyi.

Selang waktu, Jepang mendapat informasi tentang keberadaan Hardo dari lurah Karangjati yang tak lain adalah ayah dari tunangannya sendiri, Ningsih. Sebelum ia bertemu dengan ayahnya, ia bertemu dengan ayah Ningsih yang merayu Hardo agar kembali pulang, namun Hardo tidak mau dan mengatakan akan kembali apabila Jepang belum menyerah. Ia merasa bahwa lurah tersebut akan berkhianat kepadanya dan memberikan informasi tentang keberadaannya.

Semenjak penggrebekan di gubuk tengah sawah itu, ayahnya diinterogasi dan ditangkap oleh Jepang. Akan tetapi ia tidak terbukti bersalah, sehingga Jepang meminta pertanggungjawaban atas informasi yang diberikan oleh si Lurah dan membuatnya ikut terseret dalam kasus perburuan Hardo. Si Lurah pun babak belur dihajar oleh tentara Jepang atas kesalahan informasi dan terus dimintai keterangan tentang keberadaan Hardo.

Tanpa berpikir panjang, si Lurah turut menyebutkan tentang anak semata wayangnya yang bernama Ningsih sebagai kekasih Hardo. Jepang pun memberikan mandat kepada scodanco Karmin untuk menangkap dan menginterogasi Ningsih.

Karmin sebenarnya adalah sahabat Hardo yang berhasil lolos dari perburuan dan telah berkhianat kepada kawan-kawannya, yaitu Hardo, Dipo, dan Kartiman. Ia juga yang menyebabkan kawan-kawannya menjadi buronan meski ia tidak pernah mengatakan tentang keberadaan kawan-kawannya itu.

Setelah diinterogasi, Ningsih dibawa oleh Jepang dan hendak ditahan bersama ayahnya sebelum Hardo menyerahkan diri.

Kabar kekalahan Jepang atas Sekutu telah menggemparkan keadaan dan membuat panik tentara Jepang. Terlebih lagi kedatangan Hardo, Dipo, dan Kartiman yang membuat Ningsih beserta ayahnya terselamatkan.

Namun sayang …. (Saya kira cukup sampai di sini saja sinopsis yang dapat saya berikan karena jika diteruskan justru akan berbau spoiler yang ‘mungkin’ akan mengecewakan.)

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

One Reply to “Film Perburuan, Adaptasi Novel Pramoedya dari Balik Penjara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *