Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

4 Golongan Manusia dalam Menyambut Ramadhan [#1]

3 min read

4 Golongan Manusia dalam Menyambut Ramadhan

Tipologi Manusia dalam Menyambut Ramadhan

Dalam menyambut tibanya Bulan Suci Ramadhan, terdapat setidaknya 4 golongan dalam kaum muslim, antara lain:

1. Golongan yang Antusias

Golongan yang pertama adalah golongan yang sangat antusias dalam menyambut Ramadhan; karena sadar akan banyaknya rahmat dan pahala yang akan mereka dapatkan di bulan yang suci itu.

Mereka adalah golongan yang menyadari sepenuhnya makna sejati dan nilai yang ada dalam bulan Ramadhan. Sehingga, jauh-jauh hari sebelum bulan suci ini hadir di hadapannya, mereka telah berkemas untuk mengarungi perjalanan rohani yang demikian mengasyikkan.

Mereka telah bersiap! Semua perbekalan untuk menjalani perjalanan rohani itu telah mereka persiapkan dengan sebaik-baiknya dan sematang-matangnya. Mereka menyadari bahwa perjalanan rohani yang akan ditempuhnya dalam sebulan itu bukan perjalanan yang mudah dan gampang, Ia memerlukan stamina fisik dan rohani yang prima dan mapan, sehingga perjalanan itu bisa dilakukan dan dilalui dengan baik.

Pelatihan-pelatihan pembuka dilakukan. Seperti melakukan puasa-puasa sunnah di bulan Sya’ban, atau pada bulan Rajab. Intinya, kelompok yang satu ini betul-betul siap untuk menghadapi perjalanan rohani selama bulan Ramadhan.

Merekalah para pemburu takwa. Mereka mengerti benar peta perjalanan rohani itu dengan sebaik-baiknya. Sehingga, secara mental mereka tidak terkejut dan bahkan merasakan hentakan kenikmatan kala hendak memasuki bulan suci ini. Akan tetapi, dan sayangnya, diperkirakan bahwa golongan ini bukanlah golongan mayoritas yang ada di tengah umat dewasa kini. Sangat disayangkan sekali.

2. Golongan yang Biasa-Biasa Saja

Golongan yang kedua adalah mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut kedatangan bulan suci ini—tanpa ekspresi dan apresiasi yang berarti. Dan kenapa bisa seperti itu?

Banyak faktornya. Namun, kebanyakan karena mereka tidak mengerti apa sebenarnya yang ada dalam bulan Ramadhan.

Jadi, tak ada riak spiritual dan gairah jiwa yang menyeruak penuh kegembiraan menyambut bulan ampunan yang suci ini. Kehadiran Ramadhan sama sekali tidak mempengaruhi kebangkitan spiritual-nya, tidak menggerakkan urat-urat kepekaan nuraninya. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang bergeser. Sebagian sedemikian dingin dan sebagian lagi ‘seperti berwajah lurus’,  walaupun suasana bulan suci Ramadhan telah memercikkan kehangatan-kehangatan; hati mereka tak lagi terangsang untuk mendekap erat sang tamu agung ini.

READ  Cara Terbaik Menyambut Ramadhan

Di bulan Ramadhan nan suci ini, bukan hal yang tidak mungkin bahwa manusia semacam ini banyak jumlahnya. Bahkan, terlebih di dunia yang semakin tua ini, bisa jadi mereka merupakan bagian paling besar dari lapisan umat ini—namun harapan saya semoga saja tidak. Dan tentu saja kita semua berharap dan berdoa semoga tidak demikian.

Untuk mereka, berkah-berkah Ramadhan bisa jadi tiada guna dan bisa jadi memang tidak berhak untuk mereka dapatkan. Dan Allah tahu apa yang terbaik.

3. Golongan yang Bergembira

Golongan yang ketiga adalah kelompok yang bergembira dengan kehadiran bulan Ramadhan, karena mereka merasa bahwa kedatangan bulan Ramadhan dianggap akan membuat mereka menangguk keuntungan yang besar.

Siapakah mereka?

Mereka adalah sosok-sosok pencari nafkah dengan kehadiran bulan suci—rejeki musiman. Di benak mereka, yang bertaburan bukan pahala-pahala yang Allah SWT turunkan dari langit karena amal ibadahnya yang sempurna, melainkan yang terbayang dalam benaknya adalah honor-honor jutaan atau amplop-amplop dalam sekali tampil di publik, di media televisi, atau di mana saja yang dianggap mendatangkan uang.

Hatinya sama sekali tidak terpaut dengan iman dan ihtisab di bulan Ramadhan. Yang terlintas dalam benaknya adalah seberapa banyak penghasilan yang akan ia dapatkan dengan kehadiran bulan suci ini. Baginya, tidak penting apakah bulan ini bulan ampunan atau bukan bulan ampunan, yang paling penting aliran uang mengalir deras ke kantong atau rekeningnya.

Sosok ini bisa menimpa seorang pedagang, bisa seorang artis dan selebritis pada umumnya, bisa seorang kiyai, bisa seroang ustad ternama, bisa seorang qari dan qori’ah, bisa seorang pendakwah kondang, bisa seorang presenter, bisa seorang pengelola televisi, radio, pengelola pengajian, pengelola transportasi, dan siapa saja yang menjadikan profit keuntungan (uang) sebagai target utama pada saat Ramadhan datang menjelang.

Kelompok ini, ada dan bahkan jauh-jauh hari telah melakukan kalkulasi sejauh mana Ramadhan kali ini bisa ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

READ  Motivasi Ramadhan: Kisah Tauladan tentang Puasa di Musim Panas [#5]

Ia memang puasa, namun puasanya kosong dari makna dan spirit Ramadhan yang sebenarnya. Mereka memang puasa, namun puasa yang tidak memiliki bobot apa-apa. Tapi tetap saja, bahwa Allah SWT adalah satu-satunya yang berhak menilai.

Dan Allah tahu apa yang terbaik.

4. Golongan yang Ketakutan

Dan golongan yang terakhir adalah mereka yang begitu ketakutan dengan kehadiran Ramadhan. Kelompok ini kita anggap sebagai kelompok yang sangat parah dibandingkan dengan kelompok yang kedua dan yang kelompok yang ketiga.

Kelompok ini menganggap Ramadhan sebagai momok yang selalu membayanginya. Sebulan sebelum Ramadhan datang, mereka telah menggigil karena akan tiba bulan suci ini. Mereka merasa ngeri karena harus menahan makan dan minum, harus sembunyi-sembunyi jika mereka tidak puasa, mereka harus malu jika ketahuan sedang makan-minum, dan lain sebagainya.

Dan bukan itu saja, ada di antara mereka yang merasa terancam roda kehidupannya dengan kedatangan bulan suci ini. Mereka merasa bahwa Ramadhan telah menyumbat rizkinya. Mereka bisa saja terdiri dari pelaku bisnis haram, para pengelola club malam yang diharuskan untuk tutup selama bulan Ramadhan. Mereka bisa saja adalah para pedagang makanan di pinggir-pinggir jalan, yang seakan hidup menjadi kiamat karena penghasilan drastis berkurang. Mereka bisa saja pengelola restoran atau siapa saja yang menganggap bahwa Ramadhan bukan bulan penyucian diri dan jiwa. Dan lain sebagainya.

Mereka tidak termasuk kelompok pemburu takwa, bukan pula manusia yang mengharap ridha Penciptanya. Mereka tidak akan mendapatkan nilai apa-apa di bulan yang mulia ini, karena mereka termasuk kelompok manusia pongah yang dengan terang-terangan tampil di depan orang menampilkan keberaniannya bahwa mereka tidak puasa (tanpa undur syar’i atau alasan-alasan tertentu). Untuk yang terakhir ini, adalah hak Allah SWT untuk memasukkannya ke dalam neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Nah, yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, termasuk golongan yang manakah kita?

Kita semua pasti berharap dan mengusahakan supaya bisa termasuk dalam golongan yang pertama, golongan yang semangat menyambut kedatangan Ramadhan yang mulia. Semangat memeluk nilai-nilai dan semangat pula dalam memaknainya. Semoga.

Salam.

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *