Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Batuknya Gunung Merapi (Erupsi) di Tengah Wabah COVID-19

2 min read

Batuknya Gunung Merapi (Erupsi) di Tengah Wabah COVID-19

Merapi tak pernah ingkar janji.


Pandita.ID – Di tengah kepungan wabah virus corona (COVID-19) yang menjangkiti beberapa daerah di dalam negeri, Gunung Merapi kembali batuk (erupsi). Seperti yang terjadi pada Sabtu (28/3) pagi ini, Merapi kembali erupsi dan menghasilkan kolom erupsi setinggi 2.000 meter.

Batuknya Merapi ini nyatanya tidak hanya terjadi pada Sabtu pagi ini saja. Sebelumnya, Gunung Merapi juga telah mengalami erupsi pada Jumat (27/3) pukul 10.46 WIB dengan menghasilkan kolom erupsi setinggi 5.000 meter, dan malam harinya erupsi kembali terjadi pada pukul 21.46 WIB dengan menghasilkan kolom erupsi setinggi 1.000 meter dari puncak.

Selain itu, sebelumnya erupsi juga pernah terjadi pada 3 Maret lalu dengan ketinggian kolom mencapai 6.000 meter. Jadi terhitung selama Maret ini saja Gunung Merapi telah mengalami erupsi sebanyak 4 kali.

Meski telah mengalami beberapa kali erupsi, Gunung Merapi tidak mengalami perubahan status. Gunung yang berada di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah ini tetap berstatus waspada sejak ditetapkan pada 21 Mei 2018 lalu.

Dari peristiwa erupsi Merapi yang terjadi sebulan ini, termasuk hari ini, juga setelah mengingat tanggal penetapan status Merapi di atas, saya jadi teringat kembali akan kenangan saya ketika mendaki Merapi yang saya lakukan pada 31 Maret 2018 lalu yang membuat saya sangat bersyukur hingga kini. Sungguh. Karena selang beberapa hari sepulang saya dari menggapai puncak Gunung Merapi, gunung berapi teraktif di Indonesia itu mengalami erupsi, tepatnya pada 11 Mei 2018, yang mana semestinya menjadi waktu pendakian saya itu dilaksanakan karena bertepatan dengan hari lahir saya.

Ya! Saya bersyukur sekali karena telah mempercepat rencana pendakian saya waktu itu.

READ:  7 Negara Amerika Selatan Tandatangani Pakta Perlindungan Hutan Amazon

Setelah itu, Merapi terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di dunia. Status yang tadinya siaga pun berangsur diubah menjadi waspada. Berkali-kali pula Ia telah menyemburkan isi perutnya, hingga kini, di tengah cobaan yang diakibatkan virus corona (COVID-19) yang bersama tengah kita hadapi sekarang.

Alam memang memiliki sejuta cara untuk berkomunikasi kepada kita, manusia. Hanya saja kita, manusia, yang kerap kali tidak mengindahkannya. Banjir, tanah longsor, gempa, kekeringan yang diakibatkan karena krisis perubahan iklim, dan bencana-bencana lainnya, bahkan wabah sekalipun, merupakan isyarat dari alam (yang atas izin-Nya) telah menunjukan kepada kita bahwa dunia ini sudah tua.

Adakah di sini yang tahu berapa usia Bumi? Saya sendiri tidak tahu berapa angka pastinya, dan hanya berusaha untuk mengerti jika Bumi memang sudah begitu tuanya.

Dari zaman nenek moyang kita semua, manusia selalu menggantungkan hidupnya dari Bumi, dari alam. Apa-apa saja yang kita nikmati hingga sekarang semua berasal dari alam. Bahkan smarthphone yang selalu kita belai setiap harinya saja materialnya berasal dari alam. Semuanya dari alam. Ada yang ingin menyangkal?

Memang, Allah SWT telah menciptakan Bumi dengan segala berkah yang ada padanya untuk manusia manfaatkan dengan bijak seraya bersyukur atas kasih sayang-Nya. Bukan malah mengeksploitasinya dengan serakah! Demikian pula sebagaimana Allah SWT telah menciptakan dan menurunkan manusia ke dunia, yakni tidak lain sebagai khalifah yang salah satu tugasnya adalah menjaga dunia dari kerusakan. Bukan malah memperkosanya.

Ya … Kita manusia harusnya berterimakasih pada alam. Apa jadinya manusia tanpa segala sesuatu yang dihadirkan alam? Bagaimana nasib manusia jika alam tak lagi berpihak kepadanya?

READ:  Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Tidak Berminat untuk Kuliah?

Seperti halnya erupsi Gunung Merapi yang terjadi pagi ini, juga yang telah terjadi beberapa kali sebelumnya, hendaknya kita bisa menjadikan aktivitas alam tersebut sebagai pengingat kita agar senantiasa mengingat Sang Pencipta dan bersyukur kepada-Nya. Ketika Merapi erupsi, Ia memang akan mengeluarkan material vulkanik atau bahkan awan panas (wedhus gembel) yang mengerikan. Tapi lihat apa yang masyarakat sekitar dapat setelahnya, ladang menjadi semakin subur untuk bercocok tanam, pasir dan batu melimpah untuk membangun rumah-rumah, ekonomi kembali berputar, dst, karena akan selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa, bukan begitu?

Sempat pula saya mendengar kabar angin yang beredar di masyarakat setempat terkait erupsi Merapi ini. Sebuah kebar angin yang mengatakan jika meletusnya Gunung Merapi belakangan ini merupakan pertanda akan munculnya Sabdo Palon, salah satu legenda yang sudah dipercayai sebagian besar masyarakat Jawa secara turun temurun—yang Insya Allah akan saya tulis di lain kesempatan.

Dan ternyata tidak sedikit pula yang berpengharapan dan bermunajat melalui batuknya Merapi terkait situasi dan kondisi terkini yang tengah kita hadapi, termasuk saya sendiri.

Ya, semoga batuknya Merapi ini bisa menjadi lantaran sirnanya wabah virus corona (COVID) yang tengah menguji Ibu Pertiwi. Aamiin.


Tetap semangat!
Bersama kita bisa melewatinya.

0
Ahmad Ali Buni
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *