Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Hutan Indonesia Bukan Seikat Kayu Bakar

3 min read

Hutan Indonesia Bukan Seikat Kayu Bakar

Pandita.ID – Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia dikenal memiliki hutan yang sangat luas. Tempat bagi keanekaragaman hayati, rumah bagi flora dan fauna endemik yang di ambang kepunahan. Tapi, kini wajah paru-paru dunia itu berangsur-angsur telah berubah. Luasnya kian menyusut dari tahun ke tahun sebagai akibat dari deforestasi gencar-gencaran yang dilakukan oleh manusia. Entah itu karena pembalakan liar, atau yang paling parahnya, karena pembakaran yang disengaja oleh pihak-pihak tertentu yang menginginkan cara praktis untuk membuka lahan.

Ada asap, ada api. Begitulah kira-kira ungkapan yang pas untuk menggambarkan masalah ini.

Seperti yang masih hangat, perihal kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) parah yang terjadi di Kalimantan dan Sumatra selama 2019 ini, polisi telah menetapkan 175 individu dan empat korporasi sawit sebagai tersangka.

Ya …. Lagi-lagi ketamakan manusia—terutama para pemilik modal—untuk membuka maupun memperluas lahannya dengan cara instan akan tetapi tidak memperdulikan dampak lingkungan dan kerugian yang ditanggung oleh orang lain, merekalah dalang sekaligus aktor di balik semua kengerian ini. Merekalah pihak-pihak yang telah merubah wajah hutan kita. Hutan-hutan Indonesia yang tadinya ramah dan suka menebar kesejukan, kini telah mereka ubah menjadi teror berkat amukan si jago merah yang menghasilkan kepulan asap pekat yang menyebar ke mana-mana.

Di Indonesia sendiri, bencana karhutla bukan merupakan hal yang baru kali ini kita temui. Hampir setiap tahunnya bencana buatan manusia ini kerap terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Dan parahnya, rata-rata kebakaran itu terjadi di tengah-tengah musim panas yang sedang terik-teriknya.

Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, mengapa kasus karhutla selalu terulang kembali? Mengapa persoalan karhutla seakan tidak pernah selesai melanda negeri kita? Dan tindakan apa saja yang perlu dilakukan pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan ini?

Lagi-lagi, lemahnya pengawasan dan penegakan hukum yang ada di negeri ini lah yang kerap dimanfaatkan oleh para pemain nakal untuk berkilah. Begitu pula pada kasus karhutla. Pengawasan dan penegakan hukum, yang mana seharusnya dapat dijadikan sebagai instrumen untuk menimbulkan efek jera, maupun bagian dari upaya pencegahan dari terulangnya kejadian, justru seolah-olah lemah dan tidak jalan. Disadari atau tidak, kita masih melihat bahwa pemerintah pada kenyataannya masih lemah dari sisi pengawasan dan juga penegakan hukum terkait dengan kebakaran yang terjadi saat ini.

READ  Kebakaran Parah Hutan Amazon Membuat Bumi Semakin dalam Bahaya!

Di sisi lain, dugaan adanya permainan antara perusahaan-perusahaan pelaku pembakaran dengan oknum di pemerintahan pun bermunculan. Hmm … adanya indikasi ihwal adanya permainan itu sebenarnya bisa saja terjadi, bahkan tidak menutup kemungkinan jika praktiknya ada di berbagai level yang ada, bisa jadi. Dan, lagi-lagi jawaban dari permasalahannya kembali pada pengawasan dan penegakan hukum. Kalau hukum itu benar-benar tegak, siapapun orangnya juga akan pikir-pikir untuk melewati batas itu.

Siapapun yang melek informasi dan aktif di dunia maya pasti tahu, betapa ramainya orang-orang di dunia bersimpati atas kebakaran parah yang melanda hutan hujan Amazon belum lama ini. Tidak terkecuali kita, warga Indonesia, tidak sedikit pula di antara kita yang ikut bersimpati atau sekadar ikut meramaikan berbagai hashtag yang kerap menjadi trending atas bencana yang menimpa Amazon. Padahal, kalau kita mau membuka mata, sebenarnya Indonesia juga tengah ditimpa bencana yang kurang lebih sama. Betapa banyak saudara-saudari kita di Jambi, di Riau, dan saudara-saudari kita yang tinggal di beberapa wilayah di Kalimantan pada berteriak karena asap. Tidak sebentar, setidaknya sudah sejak Januari mereka menghirup udara yang bercampur dengan jerebu setiap harinya, hingga sekarang.

Hingga Agustus kemarin saja, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mengungkapkan setidaknya 1.136 warganya telah terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebagai dampak dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih terjadi di sejumlah kawasan di Riau. Lebih dari separuhnya adalah mereka yang termasuk dalam usia produktif yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Ini baru data yang ada di Pekanbaru (Riau), belum lagi di daerah lainnya.

Sungguh ironi memang, di mana pemerintah mengatakan musim kemarau yang lebih panjang dari biasanyalah yang menjadi faktor utama karhutla dan semakin mempersulit proses pemadaman …. Ada juga yang bilang kalau kebakaran parah yang terjadi sekarang sebagai akibat dari perubahan iklim …. Hei, bukankah ini sama halnya dengan pembicaraan mengenai “duluan mana ayam dengan telur?”

READ  Petunjuk untuk Memilih Presiden pada 17 April 2019

Jadi begini, jika memulainya dari tema besar perubahan iklim, yang mana itu telah menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan waktunya tidak periodik seperti dulu lagi. Kemarau panjang inilah yang membantu material seperti pohon dan gambut menjadi semakin kering dan mudah terbakar. Hingga kemudian ada pembukaan lahan, dan ternyata pembukaan lahan tersebut menggunakan metode land clearing atau kalau menurut bahasa saya itu ‘bakar habis’.

Atau mungkin urutannya dibalik; dimulai dari adanya pembukaan lahan untuk investasi perkebunan, hutan atau ladang gambut dipilih, kemudian eksekusinya pakai cara bakar habis (entah memang sengaja direncanakan atau tidak, tetapi rata-rata kasus terjadi di musim kering), kebakaran parah terjadi, emisi (asap) lepas, kemudian perubahan iklim semakin menjadi. Terserah mau dari mana mulainya, semua tergantung dari cara membangun narasinya. Toh, kita semua tahu kalau tidak akan terjadi kebakaran ini jika tidak ada tangan jahil yang memulai menyulut api.

Mungkin sampai sekarang ada beberapa orang di luar sana yang bertanya-tanya tentang api yang tak kunjung padam. Namun kita semua tahu, bahwa ribuan pahlawan yang tergabung dalam Satgas Karhutla terus berjibaku dengan api, tanpa libur. Belum lagi dengan kendala-kendala yang ditemui.

Kita semua pasti berharap agar kebakaran hutan dan lahan tahun ini dapat segera dihentikan. Juga kepada pemerintah, kita semua pasti berharap agar upaya pemerintah yang kita lihat dari dulu masih lemah, yaitu dari sisi pengawasan dan penegakan hukum, dapat diperkuat dan ditegakkan. Dan tentunya kita berharap akan adanya upaya yang benar-benar serius untuk melindungi hutan dan ladang gambut yang tersisa, karena inilah material yang mudah terbakar.

Dan lebih dari itu, kita semua tentu berharap agar hutan-hutan di Indonesia dapat kembali seperti dulu lagi. Hutan yang asri, melindungi, dan menghidupi. Bukan jadi hutan yang dialihfungsikan dan dieksploitasi, dibabat habis diberangus api, lalu ditambang ataupun ditanami sawit yang hasilnya hanya dinikmati segelintir elit. Dan jangan sampai … jangan sampai hutan-hutan di Indonesia jadi kayu bakar yang bertumpuk rapi di dapurnya para kapitalis.

Jadi, kembalikan hutan kami.

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *