Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Inilah Klimaks dari Kisahku – Millennials Must Read! [Chapter 4]

2 min read

Klimaks dari Kisahku

Di awal cerita sebelumnya aku bercerita bahwa aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru. Akan tetapi karena terhalang oleh kondisi ekonomi keluargaku, aku tidak bisa kuliah. Mimpi itu gugur. Lalu genre hidupku pun berubah. Mengantarkanku berpetualang melalui jalan sebagai pekerja konstruksi. Dan karena genre hidupku adalah petualangan, maka setiap jalan yang aku lalui adalah jalan menuju pintu yang mengarahkanku memasuki dunia baru.

I Went to College

Kutinggalkan segala pencapaianku di dunia proyek konstruksi, aku kuliah. Tetapi tidak mengambil jurusan pendidikan guru, melainkan jurusan manajemen. Apakah aku mengkhianati impian muliaku dulu? Bisa jadi.

Semua perjalanan dan pengalaman hidup yang membuatku mengambil keputusan itu. Pikirku, kelak hidupku akan menjadi lebih baik jika aku mengambil keputusan itu. Di lain sisi, kuliah dengan jurusan manajemen lebih murah dan terjangkau untukku ketimbang kuliah dengan jurusan pendidikan guru yang hanya ada di perguruan tinggi ternama. Dan yang paling penting, pokoknya aku harus kuliah dulu. Jujur, mau apapun jurusannya sebenarnya tidak masalah bagiku. Yang penting aku bisa kuliah.

Got My Degree

Aku selalu takjub dengan kecepatan belajarku. Ku selesaikan kuliahku dalam 7 semester. Tidak peduli berapapun nilai yang ku dapat, selama aku bisa lulus secepatnya itu tidak masalah. Aku ingin mengejar 2 tahun ketertinggalanku. Dan aku lulus, menyandang gelar sarjana. Bagiku ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Entah kalau kalian.

Graduate

Then What?

Ya, setelah sekian tahun berjuang untuk meraih gelar sarjana, terus sekarang apa? Melanjutkan ke pascasarjana? Aku tidak mampu. Membuka usaha? Banyak ide yang muncul, tetapi karena tidak adanya modal jadi mesti dipikir dua kali. Mencari pekerjaan? Jawaban yang umum, tetapi paling masuk akal. Bukankah kebanyakan orang kuliah demi tujuan untuk mendapatkan pekerjaan? Ya, banyak sekali.

READ  Millennial kok Jadi Pekerja Konstruksi [Chapter 3]

Aku mulai mencari pekerjaan dan terus mencari, melamar lowongan yang ada dan terus melamar, dan menunggu panggilan dari salah satu perusahaan-perusahaan itu. Lalu, dengan lampu menyala di atas kepala, muncul sebuah ide, kenapa tidak ikut seleksi pegawai negeri saja? Dari pada hanya diam menunggu, siapa tahu diri ini dibutuhkan menjadi abdi negara. Tapi, namanya juga belum rejekinya. I failed.

Lanjut mencari pekerjaan lagi, melamar lagi, dan menunggu lagi. Sampai tidak terasa sudah beberapa bulan terlewati. Dan ini jelas tidak baik. Efeknya tidak baik.

Karena terlalu lama menunggu, membuatku tidak berdaya dalam segi finansial. Akhirnya aku kembali ke dunia proyek konstruksi. Ke Jakarta ku berlabuh. Membantu ayahku untuk pekerjaan finishing sebuah distrik apartemen mewah di kawasan SCBD. Yang ternyata berakhir dengan tunggakan upah yang belum terbayarkan (sampai sekarang). Subkontraktor tempatku bernaung pailit dengan dalih tidak adanya kucuran dana dari pihak Owner Project yang dapat digunakan untuk menutup itu. Dan parahnya ayahku bukan satu-satunya yang kena getahnya. Semua rekan sejawat merasakan hal yang sama, bahkan beberapa dengan nominal mencapai ratusan juta yang belum terbayarkan. Beruntung, aku dan ayahku tidak punya hutang terhadap pekerja, kami masih mampu membayar upah anak buah kami meski menghabiskan tabungan sendiri.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa atas kerugian ini, dengan gelar sarjanaku pun. Karena hal ini, membuatku merasa dunia proyek konstruksi ini sudah bukan duniaku lagi. Bukan karena kegagalan, sungguh aku sudah berkali-kali menghadapi yang namanya gagal dan bangkit, tetapi memang karena perasaan bahwa aku tidak bisa lagi bernafas di dunia konstruksi. Sampai kini aku sudah tidak kembali ke dunia itu.

READ  Millennials, Siapakah Mereka Sebenarnya?

And Then What Now?!

Mencari pekerjaan? Ya, aku malanjutkannya. Mencari, melamar, dan menunggu. Teruuuusssss. Lalu ikut seleksi pegawai negeri lagi, gagal lagi. Mendapatkan panggilan interview, tapi cuma sampai di situ. Inilah kenyataannya ketika aku menggunakan gelarku untuk mencari pekerjaan.

No job at all for me.

Ketika aku melirik pekerjaan administrasi pemerintahan, yang direkrut adalah anaknya bapak ini atau anaknya bapak itu. Ketika aku melamar di sebuah perusahaan swasta, yang diterima adalah kerabatnya kepala bidang ini atau kerabatnya kepala bidang itu. Atau ketika aku melamar pekerjaan di bank, yang lolos seleksi adalah titipan dari si ini atau titipan dari si itu. Yaaa, aku memakluminya. Siapapun dia pasti ingin membantu keluarga atau kerabatnya supaya memiliki tempat untuk  bernaung. Tidak masalah jika background-nya jurusan penjaskes, bisa menjadi seorang HRD. Yang jurusannya pendidikan guru, bisa menjadi staff admin, dan lain sebagainya.

Tak ada yang lebih meyakinkan kecuali menyadari bahwa dunia lebih gila darimu.

Aku sekarang tidak sedang nyinyir, tapi inilah kenyataan yang aku hadapi. Lalu, apakah lantas membuatku menyerah?

No! Justru ini yang membuatku semakin berhasrat untuk menyibak tabir. Terlebih aku selalu percaya bahwa: Tujuan hidup ini adalah untuk mencari pekerjaan kita yang sesungguhnya, lalu menjalaninya dengan sepenuh hati, dan bertanggung jawab atas segalanya. Itulah ‘lakon’, peran yang harus kita mainkan dalam panggung semesta alam.

 

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *