Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Memperingati Isra’ Mi’raj dan Nyepi di Tengah Wabah Virus Corona

4 min read

Memperingati Isra' Mi'raj dan Nyepi di Tengah Wabah Virus Corona

Pandita.ID – Dalam sejarah umat Islam, sekitar tahun 619 – 621 (tahun ke-10 kenabian) Masehi dikenal sebagai “Tahun Kesedihan”. Pada saat itu umat Muslim terus-menerus ditindas dan dianiaya. Dan pada tahun itu pula Nabi Muhammad SAW mengalami hal yang amat sangat menyedihkan, yaitu beliau ditinggal wafat oleh istri tercinta, Siti Khadijah, yang selama 25 tahun selalu setia mendampingi Rasulullah, yang selalu mengorbankan jiwa, tenaga, pikiran, harta benda dan segalanya demi perjuangan Rasulullah.

Tidak hanya itu saja, kesedihan Rasulullah ditambah dengan wafatnya sang paman tercinta, Abu Thalib, yang selama hayatnya selalu melindungi Rasulullah dari kekejaman dan kedzaliman kaum Quraisy. Tanpa perlindungan Sang Paman yang sudah tiada, Rasulullah dan umat Muslim mengalami penindasan yang semakin memprihatinkan di Mekah.

Di tengah-tengah kesulitan inilah, tepatnya pada tanggal 27 Rajab, sejarah menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki ‘pengalaman yang mencerahkan’, yang dikenal sebagai Isra’ dan Mi’raj.

Isra’ Mi’raj adalah sebuah peristiwa yang agung dalam sejarah umat Islam, yaitu peristiwa yang terjadi ketika Allah SWT memberikan keistimewaan (mukjizat) kepada Nabi Muhammad SAW untuk melakukan perjalanan mulia dengan ditemani malaikat Jibril, yang dimulai dengan perjalanan darat dengan berjalan kaki dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha—yang dikenal sebagai Isra’. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan naiknya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha (dengan mengendarai Buraq) untuk menghadap Allah SWT.

Keterangan mengenai peristiwa ini juga terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 1, Allah SWT berfirman:

سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [QS. 17:1]

Melansir dari NU Online, Ali Muhammad Shalabi menjelaskan dalam kitab Sirah Nabawiyah: ‘Irdlu Waqâi’ wa Tahlîl Ihdats, juz 1 halaman 209, bahwa terdapat beberapa pelajaran penting dari peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami oleh Rasulullah ini. Salah satunya, bahwa Isra’ Mi’raj adalah sebuah kemuliaan dan keistimewaan dari Allah SWT kepada hambanya tercinta. Bahwa di balik perintah Isra’ hingga Mi’raj Rasulullah SAW adalah karena Allah SWT ingin menguatkan hati Rasulullah dengan melihat secara langsung kebesaran-Nya. Sehingga hati Rasulullah tidak berlarut-larut dalam kesedihan (karena banyak umatnya yang ditindas, serta mengalami kehilangan besar ditinggal wafat istri dan paman tercintanya) dan semakin teguh dalam menyebarkan syiar Islam.

Begitu pula dengan hari ini, yang mana bertepatan dengan tanggal 27 Rajab, kita pun memperingati Hari Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW … meskipun dalam (bentuk) peringatan Isra’ Mi’raj kali ini (mungkin) akan ada yang berbeda karena kita sedang berada di dalam situasi dan kondisi di mana virus corona COVID-19 tengah mewabah. Ya, mungkin dalam peringatan Isra’ Mi’raj kali ini, mungkin di beberapa daerah tidak akan ada pengajian akbar yang diadakan, atau majelis sholawat, majelis dzikir, dan lain sebagainya sebagai bentuk peringatan hari besar ini karena kita sekarang tengah diimbau untuk melakukan social distancing sebagai langkah untuk menghindari penularan dan penyebaran virus corona COVID-19, atau kalau boleh saya bilang ‘demi kebaikan bersama’.

READ:  Motivasi Ramadhan: Kisah Tauladan tentang Puasa di Musim Panas [#5]

Dan jika direnungkan kembali, dikaitkan dengan sejarah peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami oleh Rasulullah di atas, bukankah kita sekarang juga sedang berada di dalam tahun yang penuh dengan kesedihan?

Ya! Sebut saja salah satunya karena virus corona COVID-19, betapa hampir seluruh belahan dunia sekarang tengah berduka karena banyaknya korban jiwa yang berjatuhan? Bahkan tidak sedikit pula tempat-tempat yang situasinya berubah jadi mencekam karenanya.

Kita semua tengah bersedih sekarang. Tidak sedikit yang kehilangan sanak keluarga, kerabat, dan teman dekat karena corona. Tidak sedikit pula yang mata pencahariannya hilang karena efek dari status lockdown, padahal kebutuhan masih harus dipenuhi. Tidak sedikit pula yang masih berjuang dan bekerja di tengah ancaman infeksi. Lihat saja para dokter dan tenaga medis yang masih berperang di sana di saat kita sekarang sedang duduk manis di rumah. Atau para pekerja keamanan yang masih dinas seperti biasa. Atau para buruh pabrik dan pekerja harian lain yang masih harus terus bekerja demi tuntutan perusahaan serta supaya tungku di dapur tetap mengepul ….

Bagi yang percaya jika selalu ada makna di balik sebuah peristiwa, momen-momen seperti sekarang pasti turut membuat hanyut dalam perenungan. Kenapa wabah ini sampai menjadi pandemi? Kenapa banyak sekali korban yang berjatuhan? Kenapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi? Dan kenapa kita mesti mengalami semua ini?

Dari peristiwa Isra’ Mi’raj sendiri Rasulullah SAW pulang dengan membawa oleh-oleh perintah sholat wajib lima waktu. Lima waktu dalam sehari untuk bersujud mengingat Sang Pencipta. Hingga sekarang, bagaimanakah pengamalan kita terhadap perintah ibadah sholat lima waktu tersebut?

Ya, segala hal yang berkaitan perihal sholat memang kembali pada masing-masing insan yang berkewajiban, dan hanya Allah SWT lah yang berhak memberikan penilaian. Hanya saja, saya akhir-akhir ini jadi sering termenung: Kenapa wabah virus corona ini mesti terjadi pada saat yang berdekatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj yang memiliki sejarah sedemikian rupa pada masanya?

….

Mohon maaf jika tulisan saya kali ini kesannya jadi melebar ke mana-mana, padahal tujuan saya hanya satu: Yaitu menyampaikan kalau (mungkin) sekarang adalah waktu di mana kita harus mulai mengintrospeksi diri dan lebih peduli terhadap sesama. Terlebih jika kita mengaitkannya dengan sejarah sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj itu diturunkan.

READ:  Cerita Bagaimana Saya Ingin Menghadirkan Hutan ke Rumah

Apalagi jika kita merenungkan hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani yang sangat relevan dengan situasi dan kondisi saat ini:

“Di akhir zaman nanti banyak wabah penyakit melanda manusia di dunia, hanya umatku yang terhindar karena mereka memelihara wudhunya.” [HR. Thabrani]

Menjaga wudhu merupakan Sunnah Rasul. Terdapat pula beberapa referensi yang menerangkan tentang keutamaan jika seseorang terus menerus dalam keadaan suci atau berwudhu. Dan terlepas dari hal itu, wudhu memiliki korelasi dengan ibadah-ibadah lain. Misal, kita harus wudhu terlebih dahulu jika hendak menyentuh dan membaca Al-Qur’an dan memegang mushaf, membersihkan hadats, dan tentu saja sebagai syarat sah sholat, dsb.

Untuk sholat, karena situasi dan kondisi yang diakibatkan oleh wabah virus corona COVID-19, beberapa daerah sekarang sedang diimbau untuk melaksanakan sholat di rumah—yang banyak pula referensi sejarahnya. Ya, anggap saja ini sebagai salah satu langkah yang harus kita lakukan sebagai bentuk social distancing, yang mana hampir mirip seperti apa yang dilakukan umat Hindu ketika memperingati Hari Raya Nyepi (mohon maaf jika opini saya ini terkesan terlalu memaksa).

Oh, ya, 3 hari lagi dari sekarang saudara kita yang beragama Hindu akan merayakan Hari Raya Nyepi, yang mana tujuan utamanya adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta).

Itulah mengapa saya memberi judul tulisan ini Memperingati Isra’ Mi’raj dan Nyepi di Tengah Wabah Virus Corona COVID-19.

Kenapa?

Karena 2020 menjadi tahun kesedihan bagi kita semua, begitu pula dengan latar belakang sejarah dari peristiwa Isra’ Mi’raj yang semalam kita peringati. Kemudian tanggal 25 Maret lusa, saudara kita yang beragama Hindu akan merayakan Hari Raya Nyepi. Dan kita memperingati kedua hari besar itu di tengah wabah virus corona yang terus menghantui.

Dan apakah waktu dari semua rentetan peristiwa ini hanya kebetulan semata? Saya kembalikan semuanya ke masing-masing pembaca. Begitu pula terkait pelajaran apa yang bisa kita ambil dari semua peristiwa yang telah terjadi.

Namun yang jelas, dan yang paling berdampak besar, inilah waktu tepat di mana kita mesti lebih mendekatkan diri dengan Sang Khaliq seraya mengintrospeksi diri, dan di saat yang sama sisi humanis kita diuji untuk lebih peduli.

0
Ahmad Ali Buni
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *