Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Jatuh dalam Quarter-Life Crisis? Break Free!

3 min read

Quarter Life Crisis

Pandita.ID – Aku tidak tahu kapan sebenarnya hal ini mulai menimpaku. Sampai pada suatu kondisi yang masih jelas teringat adalah ketika aku lulus dari bangku kuliah. Segala sesuatu dalam hidupku tampak terbalik. Aku kesulitan mencari pekerjaan dengan gelar sarjana yang ku miliki, membuatku kembali ke pekerjaan lama di dunia konstruksi yang ternyata bagiku sudah tidak menarik lagi.

Aku mulai mempertanyakan hidupku; “apakah aku akan mendapatkan kesuksesan seperti apa yang aku bayangkan? Apakah aku benar-benar dapat memberi dampak kepada dunia? Apakah aku (sudah atau akan) bahagia?” Aku bahkan mempertanyakan tentang “apa gunanya semua ini?”

…. Dan aku telah menemukan diriku telah jatuh dalam fase quarter-life crisis.

Quarter-Life Crisis

Quarter-life crisis atau seperti apa yang di katakan The Muse sebagai “periode pencarian jiwa dan stress yang intens yang terjadi di usia pertengahan 20-an hingga awal 30-an.” 

Biasanya, quarter-life crisis terjadi karena kondisi dimana kamu tidak dapat mencapai potensi penuh atau tertinggal.

Yang menjadi masalah inti quarter-life crisis mengarah kepada ketidaksesuaian (not fitting in). Dan hal ini berdampak langsung terhadap aspek psikologis seperti depresi, yang bisa jadi membuat seseorang semakin jatuh dan memperkuat quarter-life crisis yang dialaminya.

Menurut The Guardian, quarter-life crisis mempengaruhi 86% kaum Milenial … seperti dihambat oleh rasa tidak aman, kekecewaan, kesepian, dan depresi.

4 Fase Quarter-life Crisis

Disebutkan bahwa setidaknya ada 4 fase dalam krisis ini:

Fase pertama, didefinisikan dengan merasa ‘terkunci’ pada suatu pekerjaan atau hubungan, atau keduanya. Kata Robinson, “itu adalah ilusi perasaan terjebak, kamu bisa pergi tetapi kamu merasa tidak bisa.”

Fase kedua ditandai oleh perasaan yang berkembang bahwa perubahan itu mungkin. Pemisahan mental dan fisik ini dari komitmen sebelumnya mengarah ke segala macam pergolakan emosional. Ini memungkinkan eksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru dengan kaitan yang lebih dekat dengan minat, preferensi, dan perasaan diri.

Fase ketiga adalah periode membangun kembali kehidupan baru.

Fase keempat adalah memperkuat komitmen baru yang mencerminkan minat, aspirasi, dan nilai-nilai baru anak muda itu.

READ  Kisahku Memasuki Dunianya Para Dewasa [Chapter 1]

Millennials, ini bukan tentang kapan kalian akan mengalami quarter-life crisis tetapi lebih kepada ‘jika kalian mengalaminya’.

Dan untungnya, quarter-life crisis tidak menjadi suatu hal yang harus ditakuti, melainkan menunjukkan kepada kita bahwa itu benar-benar dapat menjadi hal yang perlu kita alami untuk membawa hidup kita ke tingkat berikutnya.

Bangkit dari Quarter-Life Crisis

Jika kamu di sini, itu berarti kamu juga siap untuk keluar dari kebuntuan. Jangan khawatir tentang berapa banyak tanda-tanda krisis kehidupan yang kamu miliki sekarang. Yang paling penting adalah kamu telah mengetahui hidupmu tidak bergerak dengan benar dan sekarang saatnya untuk mengubah cara kamu bertindak.

Kita boleh saja jatuh dalam quarter-life crisis, itu wajar … tetapi kita juga harus kembali ke permukaan atau akan tenggelam.

Robert MacNaughton, salah satu pendiri dan CEO Integral Center di Boulder, CO, sebuah organisasi yang berada di ujung tombak pengembangan pribadi dan relasional, berbagi tentang bagaimana kamu dapat memasuki quarter-life crisis dan mengubah arahmu di jalan menuju pemenuhan dan layanan, sebagai berikut:

1. Buatlah hal-hal yang ingin kamu lihat di dunia

Mark Zuckerberg memulai membangun facebook dengan idenya untuk membuat sebuah buku direktori bagi semua mahasiswa secara online. Ia merasa itu penting karena di universitasnya tidak ada pembagian face-book (semacam buku perkenalan antara mahasiswa baru dimana ada foto dan data diri setiap mahasiswa yang kuliah di Harvard). Dan faktanya, dia selalu ditolak mentah-mentah oleh pihak kampus setiap kali dia menawarkannya untuk dijadikan nyata. Dan sekarang?

2. Berhenti mencoba untuk menyenangkan orang lain

Banyak diantara kita mengantisipasi apa yang orang lain inginkan dan berusaha memenuhi kebutuhan mereka. Tetapi ketika kita menciptakan semata-mata untuk orang lain, itu membuat kita merasa kosong, dan seringkali kita tidak dapat memuaskan mereka sama sekali.

Nah! Alih-alih, fokuslah pada diri sendiri dan ciptakan sesuatu demi kesenangan Anda sendiri.

… karena tidak mungkin bagi kita untuk menyenangkan semua orang, sampai kapanpun.

3. Dengar suara hatimu

“Tujuan hidupmu tidak membentakmu, tapi berbisik. Kamu harus mendengarkan apa yang berbisik kepadamu dan apa yang menggelitik hatimu.” [MacNaughton]

Mungkin sulit untuk mengenali suara hati sendiri setelah menghabiskan sebagian besar hidup dengan mendengarkan orang lain. Jadi, dengarkan baik-baik. Saksikan apa yang menggairahkan dan menuju ke arah sukacitamu.

READ  Apa Tujuanmu: Untuk Mendapatkan Pekerjaan atau Untuk Mencari Nafkah?

4. Temukan identitas diri dengan mencoba hal-hal baru

Bisa jadi … bisa jadi kamu yang sekarang tidak mengenal diri sendiri sebaik yang kamu kira.

“Perang identitas kita, mencari tahu siapa kita, dan apa yang kita pedulikan, adalah peluang kita. Inilah alasan untuk bangun tidur di pagi hari. Mulailah bisnis, poskan sesuatu di facebook dan lihat apa yang terjadi.” [MacNaughton]

5. Ketuk perlawananmu

Perhatikan di mana kamu merasa tahan untuk mengambil tindakan atau mengalami kesulitan dengan sesuatu. Sumur-sumur perlawanan ini adalah sumber terbesar bagi kita untuk menemukan di mana keunggulan kita dan di mana kita memiliki ruang untuk tumbuh.

“Ketakutanmu adalah pembebasanmu. Di mana perlawanan dan kecemasan tertinggimu adalah dividen terbesar untuk pengembanganmu sendiri dan di mana kamu menemukan mengapa kamu di sini dan apa yang akan menjadi layanan terbesarmu untuk kebutuhan dunia.” [MacNaughton]


Titik Balik ketika Aku Bangkit dari Quarter-Life Crisis

Aku merasa seperti sedang berdiri di tengah persimpangan jalan, sendirian. Hanya diam.

Tidak ada seorangpun yang bisa aku toleh pada saat itu, dan aku sangat kebingungan tentang jalan mana yang harus aku pilih … aku takut aku akan mengalami kegagalan yang lainnya.

Lalu aku berpikir, daripada aku menyerah, daripada aku balik kanan yang akan membuatku semakin tertinggal, lebih baik aku terus berjalan ke depan … dan aku terus berjalan.

Dan kalau aku saja bisa melewatinya, berarti kalian juga bisa.


Kamu bisa!

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

2 Replies to “Jatuh dalam Quarter-Life Crisis? Break Free!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *