Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Kenapa Generasi Dulu dan Sekarang Berbeda? 6 Generasi Berbeda dalam 100 Tahun Terakhir

8 min read

Kenapa Generasi Dulu dan Sekarang Berbeda? 6 generasi berbeda dalam 100 tahun terakhir

Kenapa Generasi Dulu dan Sekarang Berbeda?

Berawal dari cerita yang saya alami di keseharian …. Pedalamanku tersentil ketika berada dalam sebuah situasi yang sering menempatkan pribadi masa kini (terkadang diriku sendiri) yang dibanding-bandingkan dengan pribadi di masa lalu. Baik itu dari segi karakter, pola pikir, kebiasaan, dan perihal lainnya. Seperti halnya dialog yang menerangkan bagaimana sikap dan tindakan generasi terdahulu dalam menjalani liku kehidupan di tengah kesulitan yang mereka hadapi, atau sekadar cerita kerasnya dan beratnya hidup yang mereka alami pada saat itu. Dan semua itu diperbandingkan dengan apa-apa saja yang ada pada generasi sekarang.

Aku ambilkan contoh saja seperti dialog yang terjadi pada momen ketika keluarga besarku tengah berkumpul belum lama ini. Di tengah-tengah perbincangan, kakekku mengutarakan pandangannya ke cucu-cucunya yang masih sekolah, “generasi sekarang enak, ya. Dapat uang saku buat jajan sampai kenyang, berangkat ke sekolah juga sudah difasilitasi motor plus uang jatah bensinnya, bawa gadget canggih, bla bla bla …. Nah, zaman dulu, bisa sekolah saja sudah syukur …,” kurang lebihnya.

Mungkin tidak akan sama persis, tapi aku yakin kalian tidak asing dengan dialog semacam itu. Atau bahkan pernah mengalaminya. Dan terlebih hal semacam itu merupakan hal yang wajar, karena baik dari apa yang ada di zaman dulu dengan sekarang pada dasarnya memang segala sesuatunya berbeda.

6 Generasi Berbeda dalam 100 Tahun Terakhir

Tidak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi yang berjalan dengan cepatnya membuat dunia ini semakin canggih. Dan seiring perubahan dan berjalannya waktu, terbentuklah golongan-golongan generasi baru dengan karakteristik dan pola pikir yang berbeda. Masing-masing generasi tersebut memiliki label atau penamaan tersendiri. Selain sebagai indikator tahun kelahiran, juga sebagai suatu interpretasi serta latar belakang peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi labelisasi itu sendiri.

1. Generasi Veteran atau Pre Baby Boomers (1945 dan Sebelumnya)

Generasi Veteran

Di dalam generasi ini sendiri terdapat tiga generasi seperti Lost Generation (Generation of 1914) yang telah berjuang dalam Perang Dunia I, Greatest Generation (G.I. Generation) yang berjuang dalam Perang Dunia II, dan Silent Generation (Children of the Great Depression) yaitu zaman kemelesetan teruk yang memberi kesan terdalam kepada generasi ini.

Di Indonesia banyak yang menyebut generasi ini dengan ‘Generasi 45’. Bisa dibilang generasi ini adalah generasi tertua dan paling senior dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Jika dilihat dari tahun kelahirannya, usia generasi ini kurang lebih 73 tahun ke atas. Bisa dibayangkan sebanyak apa pengalaman hidup generasi ini yang membuat mereka dianggap sebagai generasi yang mudah menerima dan menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan semasa hidupnya.

Banyak tokoh-tokoh penting dan terkenal di dunia yang lahir pada generasi ini. Dan tentu salah satu di antaranya adalah The Founder Fathers kita.

2. Generasi Baby Boomers (1946 – 1964)

Baby Boomers

Generasi Baby Boomers adalah generasi yang lahir pada rentang tahun 1946 sampai dengan tahun 1964 masehi. Dengan kata lain, Baby Boomers adalah generasi yang lahir setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Secara literal, Baby Boomers berarti ‘ledakan bayi’. Pelabelan ini dilatarbelakangi karena pasca Perang Dunia II angka kesuburan manusia dan kelahiran bayi sangat tinggi. Hingga akhirnya, pada tahun 1964, pil pengontrol kehamilan mulai diperkenalkan ke publik dan menjadi populer di dunia yang secara signifikan berpengaruh terhadap angka ledakan bayi sekaligus mengakhiri fenomena tersebut.

Selain pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi pada generasi ini juga sedang meningkat sebagai akibat dari penataan ulang di berbagai aspek kehidupan. Icon dari generasi ini adalah ‘kami’. Dimana adat istiadat masih dipegang teguh, dan bahasa-bahasa slank belum berkembang. Namun tidak sedikit dari Baby Boomers yang akrab dengan budaya hippies akibat dinamika budaya yang terjadi di tahun 60-an. Dinamika budaya tersebut lah yang mempengaruhi pandangan politik, gaya berbusana, literatur, dan pandangan hidup para Baby Boomers.

Yang menjadi karakteristik khusus dari Baby Boomers adalah tidak sedikit yang menilai jika generasi ini cenderung masih ‘kolot’, namun di sisi lain sangat matang dalam mengambil sebuah keputusan untuk menghindari resiko. Juga fakta bahwa generasi ini cenderung tidak menyukai kritik.

Harta kekayaan dan pengakuan sosial adalah tujuan utama mereka. Namun di satu sisi mereka merupakan generasi yang anti peperangan, menjunjung kesetaraan hak dan kesempatan, beranggapan impossible is nothing, sangat setia terhadap keluarga terutama anak, optimis dan ambisius, fokus pada pengembangan diri, dapat mempengaruhi orang lain, memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, orientasi kelompok, dan anti pemerintah.

Dalam lingkungan kerja juga Baby Boomers lebih bersifat demokratis, menyukai hierarki perusahaan yang horizontal dan suasana yang hangat dan ramah di kantor, tidak menyukai konflik, juga memberikan kesempatan yang sama terhadap sesama rekan kerjanya. Tetapi, di satu sisi Baby Boomers mengharapkan semua pekerja menjadi workaholic, tidak menyukai adanya perubahan, cenderung menghakimi, dan self-centered.

Etika dalam bekerja pada generasi Baby Boomers juga memiliki ciri tersendiri. Baby boomers merupakan generasi pekerja keras dan akan lebih bekerja keras ketika mendapatkan motivasi, memiliki daya tahan kerja yang baik demi pengembangan dirinya, mementingkan kualitas daripada kuantitas dan efesiensi dalam bekerja.

Meski pandangan akan pekerjaan dan kehidupan personal para Baby Boomers tidak seimbang, yaitu dimana generasi beranggapan bahwa ‘hidup untuk bekerja’. Namun, dedikasi dan loyalitas mereka dalam bekerja patut diakui.

Dalam banyak hal, mungkin hal-hal ini yang paling berkesan dari Baby Boomers dibandingkan dengan generasi lainnya: Banyak dari kita tahu jika Baby Boomers lebih suka bertemu untuk berbicara empat mata ketimbang menggunakan media komunikasi pada umumnya. Saat ditanya pun akan menjawab seperlunya, tetapi berharap agar ada pertanyaan yang lebih lanjut. Juga suka berbicara dengan tidak menggunakan manipulasi bahasa dan diplomatisasi.

READ  Apa Tujuanmu: Untuk Mendapatkan Pekerjaan atau Untuk Mencari Nafkah?

Untuk saat ini, kehidupan seorang Baby Boomers telah memasuki masa istirahat di hari tuanya, dan mungkin orang tua kalian adalah salah satunya. Jadi, bagaimana pendapat kalian tentang Baby Boomers?

3. Generasi X atau Gen-X (1965 – 1980)

Generasi X

Generasi X atau yang lebih populer disebut dengan Gen-X adalah mereka yang lahir pada rentang tahun 1965 sampai dengan tahun 1980 masehi.

Generasi ini terlahir pada masa-masa gejolak dan era transisi global seperti Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur, Perang Vietnam, serta Revolusi Tenteram yang ditandai dengan runtuhnya Tembok Berlin.

Pelabelan generasi X ini diambil dari sebuah novel yang sangat terkenal karya Douglas Coupland yang berjudul “Generation X: Tales for An Accelerated Culture”. Novelis yang menolak menjadi jubir generasi X ini menyampaikan bahwa melalui novelnya Douglas ingin menunjukkan bagaimana masyarakat yang terlahir sebagai generasi X ‘memandang sesuatu’.

Dinamika budaya yuppie atau eksekutif muda yang bekerja di kota sangat populer di masa generasi X. Hal itu dikarenakan para yuppies ini memiliki orientasi yang kuat dalam membangun karir mereka di usia muda.

Selain itu, di sisi teknologi, masa ketika generasi ini lahir merupakan awal dipergunakannya komputer, televisi kabel, video games, dan internet. Yang mana secara langsung dan tidak langsung membuat generasi ini mulai berinovasi untuk mempermudah kehidupan manusia, yang hasilnya kita gunakan dan nikmati sekarang ini.

Icon yang diusung generasi X adalah ‘saya’. Dan berbeda dengan baby boomers dengan falsafahnya yang ‘hidup untuk bekerja’, generasi X berpandangan bahwa ‘kerja untuk hidup’.

Timbulnya pertentangan dengan struktur yang bersifat tradisional menyebabkan generasi X mulai mengenal dan membangun usahanya sendiri. Hal ini dipengaruhi pula akibat dari derasnya informasi yang membuat generasi X semakin imajinatif dan kreatif. Tidak terkecuali dalam bidang bisnis. Dengan iklan-iklan kreatif yang tersebar melalui berbagai macam media membuat citra sebuah produk untuk menarik para konsumennya.

Selain merupakan generasi dengan kepribadian yang mandiri, generasi X juga memiliki karakter yang pragmatis, berpikiran luas, menyenangkan, mementingkan kesinambungan, pluralisme, memiliki jiwa pengusaha dan ekspektasi kerja yang tinggi, menyukai pekerjaan yang nonformal, dan cenderung skeptis.

Sedangkan untuk lingkungan kerja, generasi X lebih menyukai suasana kerja yang tidak kaku, meminimalisir pekerjaan, jenjang karir yang jelas dan cepat, dan menyukai struktur dan informasi yang jelas berkaitan dengan manajemen perusahaan.

Dalam hal komunikasi juga berbeda dengan generasi sebelumnya. Cara komunikasi generasi X cenderung lebih menyukai komunikasi yang informal. Namun disatu sisi tidak suka berbasa-basi, bicaranya lugas dan to the point. Dan lebih suka menggunakan email untuk menjelaskan suatu hal daripada melalui personal chat.

Terlepas dari hal-hal yang melekat pada generasi X, sejatinya generasi X sangat terbuka. Bahkan menurut pandangan saya pribadi, merekalah pemrakarsa adanya keterbukaan untuk kritik dan saran agar dapat dijadikan sebagai bahan dalam berbenah. Bahkan kebiasan ‘kritik dan saran’ tersebut seperti sudah menjadi sebuah budaya yang bertahan sampai sekarang.

Dari segi falsafah hidup juga sudah berbeda sekali dengan generasi sebelumnya. Falsafah hidup mereka adalah ‘bekerja untuk hidup’, bukan ‘hidup untuk bekerja’, sehingga antara dunia pekerjaan, kehidupan pribadi, dan keluarga cenderung seimbang.

Melihat dari banyaknya pemimpin, baik di dalam suatu negara atau perusahaan, sampai sekarang posisi tersebut masih didominasi oleh para Gen-X.

4. Generasi Y atau Millennials (1981 – 1994)

Generasi Milenial

Generasi Y adalah generasi yang lahir pada rentang tahun 1981 sampai dengan tahun 1994 masehi. Generasi ini disebut juga sebagai generasi Milenial atau di Indonesia sendiri banyak yang menyebutnya dengan ‘kaum Milenial’. Umumnya Milenial merupakan anak dari Baby Boomers dan Gen-X yang sudah tua.

Label Milenial yang disematkan bagi generasi ini sendiri diambil dari buku yang berjudul “Millennials Rising: The Next Great Generation” karya William Strauss dan Neil Howe, yang mana adalah penemu dari ‘teori generasi’ sekaligus pencetus penamaan generasi Milenial ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam berbagai hal milenial memiliki gap dan terobosan yang jauh dibanding dengan generasi sebelum-sebelumnya. Kaum milenial digadang-gadang sedemikian rupa tidak lain karena faktor dimana masa tumbuh dan berkembang mereka ada di dalam periode milenium baru.

Selain mengalami fase transisi dari segala hal yang bersifat analog ke digital, milenial dibesarkan pada era persatuan dan era daur ulang dengan nilai-nilai bahwa mereka adalah generasi yang istimewa, bisa dan bebas menjadi apa saja, optimistis, confident yang tinggi, dan teamwork yang sangat baik.

Selain itu mereka tumbuh seiring dengan semakin matangnya nilai-nilai persamaan dan HAM, yang mana berpengaruh terhadap karakter mereka yang dinilai lebih demokratis. Dari sekian kelebihan yang ada pada Milenial, bisa diringkas bahwa generasi ini merupakan generasi yang extra ordinary.

Dari berbagai sumber dan pengamatan saya, terdapat beberapa pembeda dalam segi karakter yang dimiliki generasi Milenial ini. Milenial dicap sebagai generasi yang realistis, disiplin, memiliki kepercayaan diri yang tinggi, mementingkan prestasi kerja, penuh keinginan, menyukai perbedaan, serta memiliki toleransi yang tinggi, cenderung memanfaatkan fasilitas berbasis teknologi, dan lebih suka untuk membangun usahanya sendiri.

Demikian pula dalam segi pekerjaan. Milenial cenderung menyukai lingkungan kerja dengan struktur yang jelas dalam bekerja namun dengan suasana yang kekeluargaan, fleksibel, serta kolaborasi antar rekan kerja yang baik.

Untuk kewajiban dalam bekerja pada diri mereka telah terpatri sebagai generasi yang pekerja keras, giat dan ulet, berekspektasi tinggi, berorientasi pada cara kerja, ambisius dan multitasking, serta memprioritaskan deadline meski ditempuh dengan cara lembur sudah merupakan hal yang biasa. Hal-hal tersebut tentu tidak lepas dari etika para Milenial yang telah menganggap tempat kerja sebagai rumah kedua mereka.

READ  Tulis Pernyataan Misi Hidupmu!

Pola komunikasi kaum Milenial juga berbeda dengan generasi-generasi yang lain. Ketika membicarakan sesuatu hal yang dianggapnya penting, pembicaraan tersebut cenderung akan dilakukan secara empat mata, meskipun pada awalnya pembicaraan tersebut diawali dengan via chat pribadi.

Untuk pengembangan dirinya, Milenial akan cenderung untuk bertanya, meminta atau menawarkan kritik dan saran. Milenal memiliki anggapan bahwa penghargaan tertinggi bagi mereka adalah pencapaian batin mereka ketika pekerjaannya, karyanya, dan segala macam hal yang dilakukannya dinilai berarti bagi hal-hal tertentu.

Sebagai generasi yang sudah mengenal teknologi, dalam beberapa aspek kehidupan para Milenial dimudahkan dengan majunya teknologi dan berbagai fasilitas yang berbasis komputerisasi. Pada akhirnya, hal tersebut pula yang mempengaruhi gaya hidup kaum Milenial itu sendiri.

Bagi Milenial, keseimbangan antara gaya hidup dan pekerjaan menjadi hal yang penting bagi mereka. Dan karena hal itu pula, Milenial akan cenderung mencari pekerjaan yang dapat menunjang gaya hidupnya atau mereka akan berhenti dan mencari pekerjaan lainnya.

Bisa dibilang, banyak dari kaum Milenial yang masih berkutat, sibuk mencari kemapanan dalam aspek pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Ya, meski tidak bisa dipungkiri jika beberapa dari kaum Milenial sudah berada di puncak kesuksesan pada usia yang terbilang muda.

5. Generasi Z atau iGeneration (1995 – 2010)

Generasi Z

Generasi Z adalah generasi yang terlahir pada rentang tahun 1995 sebagai awal kelahiran sampai dengan tahun 2010 masehi sebagai akhir kelahiran generasi ini. Merupakan generasi peralihan generasi Y (Milenial) dimana segalanya semakin canggih. Banyak di antaranya adalah keturunan dari Gen-X dan Milenial.

Banyak yang menyebut generasi Z dengan iGeneration (iGen), generasi net atau generasi internet, atau sebagian masyarakat tertentu di Indonesia banyak yang menyebutnya sebagai generasi ‘nunduk’ dengan konotasi yang negatif. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan generasi Z yang (mostly) sedari kecil sudah akrab dengan berbagai gadget canggih yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka.

iGen sendiri tidak bisa disamakan dengan generasi Milenial karena karakter kepribadian dua generasi ini sangat berbeda. iGen tumbuh besar dengan smartphone atau gadget lainnya, yang mana hal tersebut tidak terjadi pada masa tumbuh generasi Milenial. Kehidupan iGen tidak bisa lepas dan cenderung bergantung pada teknologi dan lebih mementingkan popularitas diri di media sosial.

Karena berbagai faktor, banyak yang menyebutkan bahwa iGen memiliki pola pikir yang cenderung ingin segalanya serba instan. Seperti halnya asal-usul penamaan iGen sendiri, yang mana diambil dari buku yang berjudul “iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy–and Completely Unprepared for Adulthood” karya Jean M. Twenge.

Dalam buku tersebut Jean menyampaikan bahwa kebiasan iGen yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan gadget dibandingkan berinteraksi langsung dengan manusia lain menyebabkan iGen berpotensi sulit untuk bahagia dan menjadi pribadi yang lebih pesimis ketimbang generasi sebelumnya.

Sekarang ini, sebagian iGen merupakan remaja yang masih struggling dengan pencarian jati diri mereka, namun tidak sedikit pula dari mereka yang sudah memiliki penghasilan yang cukup besar dari bidang-bidang seni dan nonformal lainnya.

Masih sedikit sekali yang bisa disimpulkan dari generasi ini mengingat usia iGen sendiri masih muda dan akan terus berkembang menjadi satu generasi dengan pembawaan yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya.

6. Generasi A atau Alpha (2011 – sekarang)

Generasi Alpha

Generasi Alpha adalah generasi yang terlahir pada rentang tahun 2011 sebagai awal kelahiran sampai dengan sekarang. Belum bisa dipastikan rentang tahun untuk akhir kelahiran dari generasi ini. Namun, beberapa sumber yang saya dapatkan menyebutkan bahwa generasi Alpha terlahir sampai dengan tahun 2025.

Disebut pula sebagai generasi abad 21, orang pertama yang membuka topik ini adalah Mark McCrindle, seorang analis demografi sosial. Dalam makalahnya yang berjudul “Beyond Z: Meet Generation Alpha”, McCrindle mengungkapkan bahwa generasi setelah generasi Z akan dinamai sesuai abjad, yaitu A atau Alpha.

Disebutkan bahwa ada sekitar 2,5 juta bayi terlahir setiap minggunya, yang jika dikalkulasikan jumlah tersebut akan membengkak menjadi sekitar 2 miliar pada tahun 2025. McCrindle juga menyampaikan bahwa generasi ini akan menjadi generasi paling banyak yang pernah ada.

Pada umumnya sebagian besar generasi Alpha merupakan anak-anak dari generasi Milenial. Generasi Milenial, termasuk saya pribadi, bisa dibilang sebagai generasi pertama yang mengenal kemajuan teknologi, dan berbagai perubahan dan perkembangan yang menjadi bagian dari transisi milenium baru. Namun, di satu sisi kita masih bersinggungan dengan nilai-nilai budaya tradisional yang kental dan kuat yang dibawa oleh orang tua maupun para pendahulu kita.

Hal ini jelas berbeda sekali dengan apa yang dihadapi oleh generasi baru kita ini. Tentu hal ini pula lah yang menjadi tantangan bagi kita, generasi X dan Milenial utamanya, sebagai orang tua yang memiliki andil besar dalam menuntun generasi penerus kita ke arah yang lebih baik.

Kenali Mereka dan Diri Anda

Dengan mengetahui dan memahami berbagai perbedaan yang ada pada masing-masing generasi, kita akan semakin mengenal karakter, pola pikir, dan paradigma hidup masing-masing. Dengan saling memahami, semoga kita bisa lebih bijak dalam bersikap dan menempatkan diri, lebih-lebih memberi warna dalam hidup ini.

Dengan demikian, tidak penting lagi ‘generasi yang manakah anda?’ akan tetapi, ‘ingin menjadi generasi yang seperti apa, anda?’

1
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

One Reply to “Kenapa Generasi Dulu dan Sekarang Berbeda? 6 Generasi Berbeda…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *