Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Kisah di Balik Lahirnya Roman Tetralogi Buru yang Fenomenal

4 min read

Kisah di Balik Lahirnya Roman Tetralogi Buru yang Fenomenal

Pandita.ID – Seperti tidak ada habisnya jika membicarakan tentang sosok Pram maupun karya-karyanya yang fenomenal. Selalu saja ada hal-hal yang menarik untuk dibahas.

Bumi Manusia, Anak Semua bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, siapa yang tak kenal dengan empat karya masterpiece ini? Tetralogi Buru, begitu kita mengenalnya. Sebuah mahakarya yang digadang banyak orang sebagai buah karya terbaik dari Sang Maestro, Pramoedya Ananta Toer.

Terlebih lagi, dua dari karyanya yang diangkat menjadi film layar lebar telah tayang di bioskop-bioskop dalam negeri, yakni Bumi Manusia dan Perburuan. Jadi tidak heran jika belakangan jadi semakin riuh hal-hal yang menyangkut tentang sang pengarang dan karyanya.

Namun di samping itu, adakah yang tahu seperti apa kisah di balik lahirnya roman Tetralogi Buru yang fenomenal itu?

Lahirnya Roman Tetralogi Buru

Pada akhir tahun 1980, Pramoedya Ananta Toer (Pram) melahirkan karya awal dari rangkaian Tetralogi Buru, yakni novel Bumi Manusia, yang pada saat itu Pram baru satu tahun keluar dari penjara di pulau buru.

Sebenarnya ide untuk menulis Tetralogi Buru sudah ada sejak awal tahun 1960, tetapi mahakarya tersebut baru diedarkan di masyarakat pada tahun 1980.

Mengetahui hal ini, lantas muncul pertanyaan seperti kenapa novel tersebut perlu dibuat?

Alasan adalah karena Pram, Sang Maestro, melihat pengajaran sekolah semata tidak cukup untuk membudayakan kecintaan bangsa pada sejarah pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan. Dan Pram juga beranggapan semua ucapan tentang patriotisme, kecintaan pada tanah air dan bangsa, baik itu melalui pembicaraan, pidato, nyanyian atau pun deklamasi ini tinggal slogan tanpa isi, tidak edukatif, dan juga tidak jujur.

Penyelamatan Naskah Tetralogi Buru

Tetralogi Buru adalah serial novel masterpiece yang ditulis oleh Sang Maestro ketika menjadi tahanan politik di Pulau Buru pada masa pemerintahan orde baru. Sedangkan pada masa penahanan tersebut, Pram dilarang untuk menulis. Bagaimana bisa?

Tentu dalam hal ini, Pram bergerilya dalam proses penulisan naskahnya. Tetapi tetap saja cara tersebut tidak cukup untuk menjamin keselamatan anak rohani-nya itu.

Untuk menyelamatkan naskah Tetralogi Buru, karena Pram menulis roman tersebut ketika masih di dalam penjara, Pram dibantu oleh sahabatnya yang bernama Prof. Mr. G.J. Resink, atau yang biasa di panggil oleh Pram dengan “Han”. Karena Resink adalah sosok yang menyelamatkan naskah Perburuan dan Keluarga Gerilja, demikian pula yang terjadi pada Tetralogi Buru. Resink menyelundupkan naskah mahakarya itu keluar penjara ketika ia berkunjung sebagai tamu di Pulau Buru.

Dalam pembukaan Bumi Manusia, Pram mengabadikan nama sahabatnya itu: “Han, memang bukan sesuatu yang baru. Jalan setapak ini memang sudah sering ditempuh, hanya yang sekarang perjalanan pematokan.” Dari pernyataan tersebut terasa sekali bahwa Pram merasa sangat berhutang budi pada sahabatnya tersebut.

READ  Dalam Rindu

Novel atau Roman Tetralogi Buru terdiri dari empat jilid (yang pertama berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) dengan setiap setiap jilidnya yang saling berkait satu sama lain.

Sekilas Tentang Minke, Tokoh Utama dalam Tetralogi Buru

Tokoh utama dalam Tetralogi Buru adalah seorang protagonis yang bernama Minke. Namun, sebenarnya tokoh Minke dalam karya tersebut adalah perwujudan dari Tirto Adhi Soerjo (TAS), nasionalis angkatan pertama yang sampai pada waktu itu kurang mendapat perhatian dalam penulisan sejarah nasional.

Minke adalah anak seorang priyayi atau bangsawan Jawa. Pada masa riwayat ini berlangsung menjadi anggota keluarga bangsawan memberi hak istimewa kepada orang di tanah jajahan, dengan syarat asal ia bersedia menyesuaikan diri dengan tuntutan rangkap sistem yang antara lain:

Pertama, bersikap sesuai dengan hukum-hukum kebudayaan bangsawan. Dan yang kedua, tunduk pada kemauan penguasa kolonial yang memanfaatkan golongan bangsawan Jawa untuk mempertahankan kekuasaan dan kewibawaannya dengan kekuatan fisik yang minimal.

Atas dasar ini pula anak para priyayi diperbolehkan untuk menuntut ilmu dan masuk sekolah terbaik yang dimiliki oleh pemerintah kolonial, tidak terkecuali Minke.

Proses belajar Minke berlangsung cukup lama, berliku, dan berbelit-belit. Minke sekolah ditengah-tengah orang Belanda, yang selalu bersikap rasis. Namun, dari sekolah tersebut Minke mempelajari ilmu pengetahuan Eropa, dan Minke terkagum-kagum. Akan tetapi, pada akhirnya Minke kecewa terhadap segala ilmu yang didapatnya itu, terutama pada sistem hukum kolonial yang secara tragis merenggut istrinya, Annelies.

Pada waktu yang sama pula, Minke juga bertemu dengan guru bahasa Belanda yang termasuk aliran etis, Juffrouw Magda Peters. Dari sana Minke sadar bahwa ada jurang yang bersifat rasial.

Semenjak awal Minke sendiri sudah mempertanyakan nasibnya sebagai golongan pribumi yang selalu dilecehkan. Sebagai contoh, antara kelahiran Minke dengan Sri Ratu Wilhelmina mempunyai tanggal, bulan, serta tahun kelahiran yang sama, yakni 31 Agustus 1880. Perbedaannya hanyalah pada jam dan kelamin saja.

Jika didasarkan pada perhitungan astrologi, jelas keduanya mempunyai nasib yang sama. Tetapi apa yang terjadi … yang satu menjadi ratu sementara yang lain menjadi kawulanya. Dengan realitas sosial semacam ini, Minke akhirnya sependapat dengan apa yang di katakan Magda Peters yang merujuk pada pendapat Thomas Aquinas, bahwa astrologi tidak lebih sebagai lelucon belaka.

Kesadaran sistem yang timpang bukan saja menimpa pada dirinya, tapi juga pada semua rakyat Indonesia. Apalagi bagi mereka yang secara status sosial tidak memiliki kedudukan, petani misal.

Hal-hal semacam itu secara jelas diceritakan pada seri kedua Tetralogi Buru, Anak Semua Bangsa, ketika suatu saat Minke bertemu dengan seorang petani yang bernama Trunodongso. Trunodongso adalah petani (padi) yang dipaksa menanam tebu di sawahnya sendiri—jika menolak maka keluarganya akan diusir dari tanahnya sendiri.

Sementara itu dalam dua jilid yang terakhir, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, bercerita tentang lahirnya Sarekat Dagang Islam (SDI). SDI merupakan organisasi pribumi pertama yang juga menjadi cikal bakal lahirnya Syarikat Islam (SI) di Indonesia.

READ  Prolog [Chapter 0]

Gambaran Serial Roman Tetralogi Buru

Tetralogi Buru

 

Jilid Pertama: Bumi Manusia

Pada Bumi Manusia Pram mencoba untuk merekam dan memotret kekaguman orang-orang pribumi (khususnya orang Jawa) yang begitu terpesona pada kemajuan ilmu pengetahuan yang baru dilihatnya.

Meskipun tidak semua orang Jawa dan kaum pribumi pada umumnya kagum akan kemajuan ilmu pengetahuan yang dimaksud, karena kemajuan tersebut tidak bisa dinikmati oleh semua orang Jawa, melainkan yang bisa menikmati fasilitas tersebut hanya para bangsawan, sebab untuk menikmati hal tersebut harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Dalam serial yang pertama ini Minke bertemu dengan Nyai Ontosoroh, seorang gundik yang sangat kaya dan cerdas. Karena kecerdasannya, Nyai tersebut mampu mengasai tuannya. Nyai itu juga yang memberikan Minke pengajaran tentang ‘Revolusi Perancis’ yang membuka matanya dalam melihat feodalisme yang selama ini ada di depan matanya.

Bumi Manusia tidak hanya sebentuk kekaguman saja, tetapi di dalamnya juga terdapat kisah perjuangan untuk menentang ketidakadilan yang diciptakan oleh pemerintah kolonial. Meski pada akhirnya Minke tidak muncul sama sekali sebagai pemenang yang berhasil menumbangkan ketidakadilan dalam sistem ini, melainkan justru harus menghadapi kenyataan pahit: Kalah sehabis-habisnya dengan ditandai direnggutnya Annelies dari sisinya.

Bumi Manusia ditutup dengan nada yang sangat pahit:

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Namun, justru dari akhir cerita dan kalimat penutup yang seperti ini, pembaca dibuat menyadari adanya ketidakadilan dalam sistem kolonialisme .

Jilid Kedua: Anak Semua Bangsa

Dalam jilid yang kedua yang berjudul Anak Semua Bangsa, Minke bertemu dengan sepasang kekasih, etnis Tionghoa, yang ternyata mereka berdua adalah pelarian dari negaranya karena berusaha melawan kaisar.

Kedua orang Tionghoa tersebut beraliran sosialis. Dari sinilah Minke untuk pertama kalinya belajar tentang sosialisme.

Hal tersebut juga didukung oleh Nyai Ontosoroh, justru Nyai Ontosoroh juga menyuruh Minke untuk menulis kepada media Belanda. Hingga pada akhir cerita Anak Semua Bangsa ini, Minke diminta untuk mendirikan media pers sendiri yang berbahasa Melayu. Bahasa Melayu ini dipilih karena bahasa tersebut dapat dibaca dan dimengerti oleh setiap pribumi, sehingga media tersebut lebih merakyat. Dan akhirnya, lahirlah media pers yang bernama Medan.

Jilid Ketiga: Jejak Langkah

Jejak Langkah menggambarkan lahirnya organisasi-organisasi besar yang mempengaruhi perjalanan perjuangan Indonesia dalam meraih kemerdekaan seperti Sarekat Dagang Islam, Serikat Islam, Boedi Oetomo, dan organisasi lainnya, hingga perjuangan-perjuangan organisasi-organisasi tersebut dan latar belakang lahirnya organisasi.

Jilid Keempat: Rumah Kaca

Di sini Minke semakin sadar dan yakin bahwa alat perjuangan yang paling ampuh adalah jurnalistik, tetapi pada saat yang bersamaan gerak-gerik Minke mulai diawasi oleh Belanda begitu juga dengan organisasi-organisasi yang ada.

Jadi, dalam Rumah Kaca Pram menggambarkan orang Indonesia yang hidup pada masa itu tak ubahnya seperti berada dalam sebuah almari kaca.


“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.”

— Pramoedya Ananta Toer —


0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *