Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Kisahku Memasuki Dunianya Para Dewasa [Chapter 1]

2 min read

My Story Enters the Adults World Pandita.ID

The Start of My Journey

Dengan segala kemanjaan yang disuguhkan oleh perkembangan dan kemajuan dunia fana pada masanya, tak ayal jika terlahir sebagai seorang milenial dianggap lebih beruntung bagi sebagian orang. Namun, apakah benar demikian? Tidak juga. Terlebih bagi milenial sepertiku. Kenapa?
Aku milenial, sejak lahir (11 Mei 1993), generasi yang terlahir pada masa peralihan menyambut milenium baru. Itu faktanya. Akan tetapi, nyatanya apa yang kuhadapi dalam hidup ini tidak seperti pandangan kelap-kelipnya sebagian orang terhadap milenial.
Banyak struggling dalam hidupku. Aku terlahir dalam keluarga yang kurang berada. Gaya hidup sederhana adalah sebuah keharusan dan berusaha untuk jauh-jauh dari apa-apa saja yang berbau kemewahan.

Highschool Life

Terlebih dampak krisis yang dimulai pada akhir 90an, yang imbasnya sangat kami sekeluarga rasakan. Yang paling teringat … membayar SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) yang nominalnya hanya puluhan ribu saja kerap pakai uang hutang. Uang jajan sekolah pun hanya cukup untuk membeli minum atau snack ringan dan ongkos angkutan umum. Dan baru bisa menikmati yang namanya fasilitas sepeda motor dari orang tua adalah ketika semester genap kelas VII SMA. Itu pun karena satu-satunya sepeda motor yang kami miliki tidak ada yang memakai lagi alias nganggur, karena yang biasa menggunakannya (ayah saya) memutuskan untuk merantau dengan profesi baru demi menghidupi keluarganya.
Dan handphone? Haha. Aku baru memiliki yang namanya handphone waktu kelas VIII SMA (awal tahun 2010). Berkat perjuangan menabung tentunya. Itu saja hanya sekelas Nokia 1202 di saat teman-teman sebayaku pada menikmati symbian dan kamera dengan berbagai macam resolusi.
Oooh, masa putih abu-abuku.
But, hey … kenapa lebih memilih untuk bersekolah di SMA? Bukankah waktu itu sedang ramai-ramainya bersekolah di Sekolah Kejuruan? Bahkan pemerintah saja gencar mempromosikan untuk bersekolah di sekolah kejuruan dengan alasan lulusannya lebih siap kerja dan lain sebagainya.
Ya … orang tuaku saja menyarankan untuk bersekolah di sekolah kejuran. Dan aku pun mengiyakannya, menuruti saran orang tua. Tapi entah nasib apa, ketika aku mendaftar jurusan yang aku pilih sudah didaftar sekitar 1000an pendaftar, padahal kuota maksimal yang diterima hanya 250an siswa. Jurusan yang lain pun juga hampir sama kasusnya.  Di sekolah kejuruan yang lain pun. Dan itu baru di hari pertama. “Just make me want to say “what the f*^%???!!!”
 
Jelas aku tidak jadi mendaftar di sekolah kejuruan. Dan aku lega. Kenapa? Karena dari awal aku memang tidak memiliki niat untuk mengambil sekolah kejuruan. Aku lebih ingin bersekolah di SMA  impianku karena … aku ingin menjadi seorang guru.

But Reality Is A Twist Climax Sometimes

Pada masa-masa sekolahku, aku selalu bersikukuh dengan cita-citaku untuk menjadi seorang guru. Membayangkan bagaimana aku berdiri di depan kelas, tidak hanya mengajarkan apa yang dikonsepkan oleh kurikulum namun juga mendidik wajah-wajah muda di depanku dengan nilai-nilai luhur para pendahulu … adalah impian terindah yang kumiliki.
Dan bicara mengenai putih abu-abu, menjelang masa itu lewat, kiprah para milenial itu menyita perhatian berbagai pihak. Karena bayangan akan tuntutan dan persaingan hidup di masa depan, trend melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan banyak diadopsi oleh masyarakat. Pendidikan adalah segalanya.
Karena pentingnya pendidikan, jumlah mahasiswa baru di berbagai daerah meningkat pesat. Karena alasan untuk menggapai cita-cita, atau karena gengsi dan merasa harus mengikuti trend agar dapat bersaing di masa depan; kampus laris.
Sedangkan aku ….
Menjelang kelulusanku di sekolah menengah, kedua orang tuaku mengajak bicara dan menyampaikan bahwa mereka tidak bisa/tidak sanggup untuk membiayaiku kuliah di perguruan tinggi yang lumayan bergengsi (karena jurusan pendidikan guru waktu itu hanya ada di beberapa universitas tersebut). Kesimpulannya, aku tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Dan cita-cita menjadi guru itu mesti aku pendam tanpa menceritakan kepada mereka bahwa menjadi guru adalah cita-citaku, jalan hidup yang ingin kujalani di masa depan. Sounds like a sad story, right?
Aku jatuh dalam kesedihan dan krisis kegalauan yang belum pernah aku tanggung sebelumnya.
Karena gugurnya kesempatan untuk duduk di bangku perkuliahan, aku jadi sering merenung dan berpikir keras. Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan?
Dalam kebisuan aku berteriak; “seseorang, siapa saja, tolong beri aku pencerahan!”

 

READ  Maharani Shima, Sang Ratu Adil dari Kerajaan Kalingga

Membutuhkan waktu berminggu bahkan berbulan bagiku untuk bisa berdamai dengan hati dan pikiran, ikhlas namanaya. Adalah sepucuk kata-kata motivasi dari seseorang yang aku jadikan panutan. Dia berkata:

“Pendidikan tidak menjamin kesuksesan kita di masa depan.”

Dan itu seperti rudal balistik bagiku, melenyapkan segala kesuraman yang menimpaku dengan daya ledaknya. Hingga akhirnya aku bisa memutuskan apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Aku ingin mencari kerja saja.
Ya, awal yang bagus. Tapi kerja apa? Satu masalah terselesaikan, muncul masalah baru lagi.
Karena hanya bermodalkan ijazah sekolah menengah atas membuatku tidak bisa pilih-pilih dalam hal mencari dan melamar kerja. Belum lagi banyaknya saingan dari lulusan sekolah kejuruan yang katakanlah lebih siap untuk terjun ke dunia kerja. Jadi aku lamar saja semua lowongan pekerjaan yang ada. Sampai pada akhirnya aku mendapatkan panggilan interview pertamaku, dan diterima bekerja sebagai pekerja bagian produksi di sebuah pabrik.
Aku bahagia untuk sementara waktu. Sementara saja. Karena ironisnya, baru sebulan bekerja aku memutuskan untuk keluar. Hanya sebulan.
Why?!
Aku ingin mengenalmu. Mari berteman!
0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

2 Replies to “Kisahku Memasuki Dunianya Para Dewasa [Chapter 1]”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *