Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

6 Alasan Kalau Kuliah itu Tidak Penting! [Why College: Part 1]

8 min read

6 Alasan Kalau Kuliah itu Tidak Penting!

Kemarin saya berbincang-bincang dengan tetangga saya, seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang makanan, sangat sukses!

Dalam obrolan itu beliau mengutarakan kegelisahannya, banyak sekali yang disampaikannya. Salah satunya seperti kekhawatiran kalau suatu saat, bisa jadi, tidak akan ada lagi petani di desa tempat tinggal kami karena faktanya sekarang jumlah penerusnya semakin sedikit.

Memang, kebanyakan petani di desa kami memperkerjakan buruh tani dari luar daerah untuk menggarap sawahnya. Tetapi, di lain sisi, regenerasi itu tidak berjalan karena kecenderungan orang tua zaman sekarang yang lebih suka mengirimkan anaknya ke perguruan tinggi, dengan tujuan agar masa depannya jauh lebih, dan lain sebagainya—kata beliau. Hmm.

Aku tanyakan kembali kepada beliau, kenapa pula orang tua (petani) itu mengirimkan anaknya ke perguruan tinggi? Ya kalau anaknya mengambil jurusan pertanian, secara karena orang tuanya petani dan punya lahan untuk digarap. Tapi kalau si anak, karena berbagai alasan dan tujuan, mengambil jurusan yang lain? Menurutku pertanyaan ini sekaligus menjawab kenapa jumlah penerus petani semakin sedikit.

Tidak sampai di situ saja, beliau lalu menimpali kalau notabene para orang tua (seperti halnya beliau) memiliki harapan bahwa dengan mengirimkan anaknya masuk ke perguruan tinggi, bertujuan agar kelak anaknya mampu untuk menjawab tuntutan zaman, dapat berinovasi, dan sekaligus sebagai bekalnya di masa depan … yang sekaligus menjadi alasan kenapa beliau hendak menguliahkan anaknya.

Sebuah pernyataan yang (malah) membuatku heran, kenapa beliau tidak mengajari anaknya tentang bisnis yang dilakoninya, dan malah lebih yakin untuk mengirimkan anaknya ke perguruan tinggi? Atau, kalaupun beliau mengirim anaknya ke perguruan tinggi, kenapa tidak menguliahkan anaknya di jurusan yang berkaitan dengan usahanya, melainkan malah sebaliknya?

Yang menjadi kesalahan para orang tua dan masyarakat pada umumnya adalah, bahwa mereka berpikir kalau dengan kuliah masa depan anaknya bisa jadi lebih baik—sebuah keyakinan yang sudah tertanam dalam benak masyarakat kita. Padahal, pada kenyataanya, kuliah tidak menjamin masa depan lulusannya. Salah satu alasan kenapa saya bilang kalau kuliah itu sudah tidak penting lagi sekarang.

Why?

There is a lot of reasons why college is NOT IMPORTANT anymore.

Tapi sebelumnya, saya akan mengingatkan terlebih dahulu bahwa kriteria pembaca saya (it’s inspired by Deddy Corbuzier BTW), terutama untuk artikel ini:

  1. Para milenial muda (kalian semua).
  2. Kalian yang belum kuliah dan bingung mau kuliah jurusan apa.
  3. Kalian yang sedang kuliah, tetapi bingung karena merasa telah salah mengambil jurusan dan berpikir setelah itu kalian mau jadi apa (?)
  4. Kalian yang sudah lulus kuliah (seperti saya), tetapi bekerja di bidang atau tempat yang tidak sesuai dengan
  5. apa yang kalian pikirkan atau impikan, atau bahkan tidak atau belum memiliki pekerjaan sama sekali.
  6. Orang-orang yang tidak cocok dan tidak suka dengan millennialism saya, dan para orang tua atau siapa saja yang menganut pola pikir masyarakat pada umumnya—yang mungkin Anda adalah salah satunya, tetapi aku tidak begitu peduli tentang itu.

Dan berikut 6 alasan kenapa kuliah sudah tidak penting lagi sekarang:

The Reasons Why College is not Important!

1. It’s Already OUT OF DATE!

Kuliah itu sudah ketinggalan zaman. Kenapa? Karena kalau dulu orang pergi kuliah karena kuliah menjadi satu-satunya jalan untuk belajar tentang apa yang tidak diberikan oleh sekolah, apa yang tidak diberikan oleh lingkungan, dan apa saja yang tidak bisa didapatkan kalau tidak dengan kuliah—karena hanya kuliah yang memiliki ilmunya, karena hanya kuliah yang punya bukunya, hanya kuliah yang bisa mengajarkannya melalui dosen dan sistem pendidikannya.

Terlebih lagi, dulu jumlah orang yang kuliah hanya beberapa saja, sekaligus alasan yang membuat lulusan kuliah menjadi begitu spesial dan berbeda dari orang-orang yang tidak kuliah.

Tapi itu dulu. Karena sekarang … sekarang kita bisa belajar dari mana saja, dari apa saja, dan tidak harus dengan kuliah. Belum lagi fakta bahwa yang lulusan kuliah sekarang sudah banyak, dan akan semakin banyak karena yang kuliah juga terus bertambah.

Bayangkan, jika sekarang kalian kuliah, maka kalian termasuk salah satu bagian dari sekian juta orang itu. Jika seperti itu, lalu apa spesialnya kalian? Semua orang melakukannya. Belum lagi jika setelah kalian lulus kuliah ternyata kalian bingung mau kerja apa.

2. Biaya Kuliah itu Mahal & SEMAKIN MAHAL!

Kuliah menjadi semakin mahal dari tahun ke tahun, bahkan terlalu mahal bagi beberapa orang. Inilah kenapa kuliah menjadi momok—kalian menghabiskan uang orang tua kalian untuk kuliah, tetapi kalian tidak tahu setelah itu kalian mau jadi apa.

Suami dari sepupu saya yang paling tua merupakan orang yang perhitungan soal biaya (biaya apa saja), segala topik pembicaraan pun tidak lepas dari perihal yang membahas soal biaya ini dan itu. Saya memakluminya dan mencoba berpikiran positif saja, karena mungkin, salah satunya, dikarenakan oleh naluri bisnisnya yang sudah mendarah daging. Ia pengusaha yang menjual barang-barang elektronik BTW.

Pernah suatu kali dia membahas perihal kuliah yang dijalani anaknya, tentu saja ujung-ujungnya membahas perihal biayanya. LOL. Dan alangkah kagetnya dia begitu menghitung estimasi biaya kuliah yang dijalani anaknya dari awal masuk sampai dengan (setidaknya) empat tahun ke depan.

Dia berpikir jumlahnya begitu besar (terhitung untuk universitas swasta baru yang ada di daerah aka bukan termasuk universitas ternama yang dikenal orang pada umumnya), sampai-sampai dia membayangkan kalau dengan jumlah biaya yang sebesar itu, bisa digunakan untuk memperbesar usahanya atau bahkan untuk membuka usaha baru.

READ  8 Cara Sukses Tanpa Kuliah

Dan lebih membuatnya mengerutkan jidat karena itu baru biaya pokok, belum lagi biaya-biaya lain seperti uang saku, membeli buku, transportasi, dan lain sebagainya yang tidak termasuk di dalamnya.

Apa yang ada di atas merupakan sudut pandang dari orang tua yang kebetulan adalah seorang pengusaha. Sekarang bayangkan kalau itu adalah kalian … bayangkan semua biaya yang kalian ambil dari orang tua kalian—karena saya tidak yakin kalau generasi sekarang kuliah dari biaya atau usahanya sendiri, dan kalaupun ada pasti langka sekali—bayangkan, dengan semua uang yang kalian setorkan ke perguruan tinggi tempat kalian kuliah itu, kalian akan mendapatkan apa? Oh, please my dearest friends … please think about it.

Setelah kalian lulus, dengan semua biaya yang orang tua kalian keluarkan itu, kalian hanya akan mendapatkan ijazah dan beberapa lembar sertifikat (yang entah bakal berguna atau tidak).

Coba kalian pikirkan kalau dengan semua biaya itu kalian bisa menggunakannya untuk hal yang lain—untuk memulai sebuah bisnis mungkin ….

3. Kemungkinan Besar untuk Salah Jurusan (?)

Salah jurusan! Hmm.

Apakah kebetulan kalian salah satunya?

Jika ya, ketahuilah, kalian tidak sendirian. Bahwa ada baaaanyak sekali mahasiswa yang salah ambil jurusan dan bukan jurusan yang mereka mau, tetapi mereka tetap masuk karena mereka berpikir; “it’s okay, mau jurusannya apa tidak masalah, yang penting saya kuliah,” dan lain sebagainya. Bukankah kita semua tidak asing dengan kasus yang seperti ini?

Ada (banyak sekali) orang yang kuliah di jurusan ekonomi hanya karena dia diterima di jurusan itu, dan lain-lain, dan lain-lain.  Dan setelah jalan beberapa semester, baru terasa dampaknya. Dan ini fatal sekali, seriously.

Apa yang terjadi jika ikan ada di darat? Salah mengambil jurusan sama halnya dengan terjebak di tempat yang bukan dunia kalian. Yang menjadi passion kalian apa, tetapi pas kuliah ambil jurusannya apa … tidak nyambung. Akhirnya kalian menjalaninya saja sejalan-jalannya. Atau berpikir mau pindah jurusan, tapi kalian merasa sayang karena sudah terlanjur masuk terlalu dalam, dan pindah jurusan sama dengan mengulang dari awal, berikut juga dengan biaya-biaya yang akan dikeluarkan. Lagi.

Jadi, please, pikirkan kembali hal ini baik-baik sebelum kalian membuang-buang uang orang tua kalian untuk hal yang percuma, bahkan bukan apa yang menjadi passion kalian (karena kalian kuliah hanya karena perguruan tinggi menerima kalian).

Coba renungkan, bagaimana kalian bisa sukses dengan hal yang tidak kalian suka? Atau diganti saja jika sukses bukan tujuan kalian, bagaimana kalian bisa bahagia dengan hal yang tidak kalian suka?

Ingat, kebanyakan mereka yang sukses dan bahagia merupakan orang-orang yang menjalani apa yang mereka suka.

4. College Doesn’t Guarantee Your Future!

Aku sudah membahas hal ini pada postingan yang sebelumanya bahwa tidak ada garansi ketika kalian masuk perguruan tinggi maka kalian akan sukses di masa depan. Pertimbangkan bahwa dengan kuliah, orang bisa sukses dan bisa tidak. Begitu juga dengan tidak kuliah, orang bisa sukses dan bisa tidak. Masuk akal bukan?

Jadi aku punya teman, seorang pegawai negeri, dia bercerita bahwa office boy baru di kantornya adalah seorang lulusan S-2. Sontak membuat semua orang yang mendengar ceritanya pada saat itu terkejut dan bertanya, kok bisa? Ya … singkat cerita, karena sudah terlalu lama menganggur dan tidak kunjung juga mendapatkan pekerjaan, sedangkan kebutuhan hidup tidak bisa dihindari, akhirnya dia melamar pekerjaan sebagai office boy menggunakan ijazah SMA-nya. Wow. Bahkan terkadang ijazah SMA bisa jauh lebih berguna dibandingkan ijazah S-2.

Bukan berarti saya merendahkan profesi sebagai office boy lho ya. Mohon untuk tidak disalahartikan.

Jadi jangan pernah berpikir jika dengan kuliah maka masa depan kalian akan terjamin. No, there is no guarantee. Dan kalaupun kalian mendengar bahwa kuliah dapat menjamin masa depan kalian, itu tidak lebih hanya sekadar mitos yang telah beredar di masyarakat kita.

Sukses tidaknya kamu di masa depan itu sepenuhnya bergantung pada usaha dan kerja keras yang kamu lakukan.

5. Banyak Orang Sukses yang Bukan Lulusan Kuliah!

Ini yang menarik, bagaimana lucunya cara dunia ini ketika mengajak kita untuk bercanda.

Hanya karena seseorang tidak memiliki gelar dari perguruan tinggi, itu tidak berarti dia tidak akan berhasil.

Tahukah kamu, kalau kebanyakan dari orang sukses yang bahkan termasuk orang terkaya di dunia, kebanyakan dari mereka tidak memiliki gelar sarjana.

Mark Zuckerberg

Mark Zuckerberg, pendiri facebook, kuliahnya terbengkalai karena alasan untuk fokus pada pengembangan facebook. Sebuah pengorbanan besar yang membuat facebook besar dan sukses seperti sekarang. Bahkan belum lama ini Mark mendapatkan gelar kehormatan dari Universitas yang sudah ditinggalkannya, Universitas yang sudah berkali-kali menolak ide cemerlangnya.

Jack Dorsey

Jack Dorsey, pendiri twitter, sempat masuk di Missouri University of Science and Technology, tapi kemudian pindah ke New York University. Di sana, ia mulai mendirikan Twitter. Namun akibat terlalu fokus pada proyeknya tersebut, ia akhirnya dikeluarkan alias di-Drop-Out. Namun pengorbanan dan jerih payahnya tersebut terbayar tuntas bukan?

READ  Kenapa Generasi Dulu dan Sekarang Berbeda? 6 Generasi Berbeda dalam 100 Tahun Terakhir

Steve Jobs

Steve Jobs, pendiri Apple, keluar dari Reed College setelah satu semester. Nah!

Michael Dell

Michael Dell, ia mendaftarkan diri pada jurusan pre-med major di University of Texas di Austin sebelum akhirnya keluar setelah satu tahun kuliah. Pada pada 1 April 2018, Dell telah dinobatkan sebagai orang terkaya ke 39 di dunia oleh Forbes dengan kekayaan bersih US $ 23,7 miliar.

Bill Gates

Bill Gates, pendiri microsoft yang sekaligus menjadi orang terkaya di dunia sampai sekarang, ia sempat kuliah di Harvard University sebelum akhirnya dia dikeluarkan. Hmm.

Dan tentu saja masih banyak tokoh-tokoh yang lainnya ….

Orang terkaya di dunia saja tidak memiliki gelar dari perguruan tinggi. So, masih berpikir kalau dengan kuliah bisa menjamin kalian sukses di masa depan? Orang-orang di atas telah membuktikan itu semua.

Dan ini berbanding terbalik dengan mereka-mereka yang lulusan perguruan tinggi, yang mana kebanyakan dari mereka berakhir dengan pekerjaan di sudut kantor, dengan gaji yang mungkin hanya sedikit lebih tinggi dari Upah Minimal Regional, rumah kontrakan, motor atau mobil yang masih kredit …. Saya pribadi pernah merasakannya, bahkan dengan faktor tambahan ‘merantau’, dan itu benar-benar berat sekali sebelum akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan memulai sesuatu yang baru lagi. *Lihat profil saya.*

6. Kuliah Tidak Sama dengan Dunia Nyata!

Apakah kalian pikir perguruan tinggi mempersiapkan kalian untuk tempat kerja dan dunia nyata yang akan kalian hadapi?

Tidak.

Keadaan di kuliah itu sangat berbeda sekali dengan keadaan di dunia nyata. Pengaturan akademik hanya melatih mahasiswa untuk berhasil dalam pengaturan yang spesifik dan terkontrol dalam lingkungan buatan yang dilindungi. Itu bukan dunia nyata.

Di dunia nyata, apa yang akan kalian hadapi adalah sesuatu yang kompleks sekali.

Ambil contoh saja jurusan arsitektur. Di jurusan arsitektur mahasiswanya diajari cara membuat sketsa dan belajar tentang desain bangunan. Tetapi mereka tidak pernah membangun gedung. Mereka tidak terlibat dalam proses membangun sebuah gedung barang sekali pun. Dan di saat mereka terjun ke dunia konstruksi yang sesungguhnya, mereka baru tahu seperti apa bentuk bangunan yang ada di gambar mereka begitu bangunan itu jadi, karena sebelumnya mereka tidak bisa membayangkan seperti apa bangunan itu hanya dengan melihat sketsanya.

*Note: Ini adalah kasus yang selalu saya temui ketika 2 tahun merantau dan bekerja di proyek konstruksi bangunan.

Deddy Corbuzier (tokoh yang sering mengangkat topik ini dalam seminar-seminarnya) pernah mengatakan; bahwa di dalam kuliah, kalian hanya diajari tentang 1 + 1 = 2, sedangkan di dunia nyata (lebih sering) 1 + 1 ≠ 2. Di dunia nyata 1 + 1 bisa sama dengan 3 karena ada yang memberi, di dunia nyata 1 + 1 bisa tetap 1 karena ada yang mengambil, dan itu tidak pernah diajarkan di perguruan tinggi tempat kalian kuliah. Never at all.

Berdagang, cara mengambil untungnya adalah dengan membeli barang dengan harga yang lebih murah dan kemudian menjualnya dengan harga yang lebih mahal. Masuk akal.

Akan tetapi, kuliah tidak mengajari kalian bagaimana jika kalian nanti gagal, bagaimana jika kalian nanti ditipu, atau bagaimana jika usaha kalian nanti jatuh bangkrut—inilah kenyataan-kenyataan yang akan kalian hadapi di dunia nyata nantinya, dan kuliah tidak mengajarkan tentang hal itu.

So ….

Setelah beberapa saat urat di kening sempat tegang karena membaca tulisan yang bisa mengundang pro dan kontra, akhirnya sampai juga pada bagian penutup … yang ternyata masih cukup panjang untuk dibaca.

Saya tidak memiliki niatan untuk mengatakan bahwa saya selalu benar, karena apa yang saya tulis adalah berdasarkan pengalaman pribadi, referensinya pun saya pilih berdasarkan apa yang sesuai dengan pengalaman saya tersebut. Dan semua itu murni untuk tujuan sharing and carrying.

Tidak ada yang mengatakan bahwa pendidikan kuliah sama sekali tidak berguna. Ini dapat memperluas wawasan kalian secara intelektual, memberi kalian kesempatan untuk belajar tentang berbagai hal, tempat, dan orang-orang yang mungkin tidak pernah kalian temukan sebelumnya. Saya menulis artikel ini pun karena saya sendiri pernah kuliah.

Di perguruan tinggi, kalian akan bertemu orang-orang dengan berbagai pendapat dan gaya hidup yang akan menantang pemikiran kalian dengan cara yang baru. Tetapi tidak perlu menghadiri kuliah untuk menemukan diri kalian dalam lingkungan yang seperti itu. Kalian kemungkinan akan bertemu orang-orang di lingkungan kalian yang dapat membuat kalian terpapar ide-ide dan cara berpikir yang baru.

Menjadi pembelajar seumur hidup yang terus-menerus memperbaiki diri sendiri, itulah cara belajar terbaik untuk meraih sukses.

Di dunia nyata yang terus berubah, sayangnya perguruan tinggi tidak berubah cukup cepat. Selama beberapa dekade, sudah terlalu banyak masyarakat yang setuju dengan gagasan bahwa setiap orang perlu mendapatkan setidaknya gelar sarjana untuk masa depan mereka.

Tetapi waktu telah berubah. Yang lebih penting sekarang adalah memiliki keterampilan untuk melakukan pekerjaan itu, bukan selembar sertifikat yang menunjukkan bahwa kalian telah menghabiskan waktu setidaknya 4 tahun dalam bergelut untuk mempelajari suatu topik.

Dan jangan jatuh hati pada jaminan yang tersirat bahwa gelar sarjana adalah tiket kalian menuju kesuksesan. Jangan pernah.

Pendidikan itu penting, tetapi kuliah tidak.

quote pendidikan itu penting, tapi kuliah tidak

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

One Reply to “6 Alasan Kalau Kuliah itu Tidak Penting! [Why College:…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *