Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Kutipan Surat-Surat RA Kartini dan Cita-Citanya yang Besar

3 min read

Kutipan Sura-Surat Kartini dan Cita-Cita Besarnya

Pandita.IDR.A. Kartini, Pahlawan Nasional dan Tokoh Wanita yang paling dikenal berkat perjuangan-perjuangannya dalam membela hak dan kesetaraan bagi kaumnya, pelopor emansipasi wanita Indonesia pertama.

Karena anak seorang Bupati, Kartini dapat mengenyam pendidikan. Itu pun hanya sampai sekolah dasar, karena pada usianya yang ke-12 ia dianggap sudah pantas untuk dipingit.

Yang pasti bukan karena keinginannya sendiri, namun seperti itulah budaya yang ada pada masa si Gadis Jepara kita. Budaya yang telah membuat si Gadis Jepara kita bak burung dalam sangkar.

Itu baru seorang Kartini yang mana adalah anak seorang Bupati, belum lagi perempuan-perempuan biasa yang nasibnya tak seberuntung dirinya. Kalian bisa membayangkannya sendiri ….

Namun pingitan tidak lantas menghentikannya. Meski tidak mengenyam pendidikan yang tinggi, Gadis Jepara kita terus berusaha untuk memperluas pengetahuan dan wawasannya melalui membaca dan menulis. Dia aktif berkorespondensi dengan teman-temannya yang berada di Eropa. Kelak, surat-surat yang ditulisnya kepada teman-teman penanya itu dikumpulkan oleh Jacques Henrij Abendanon, dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang fenomenal: Habis Gelap Terbitlah Terang.

Terbitnya buku Habis Gelap Terbitlah Terang (yang pertama kali oleh JH Abendanon) yang berisi kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini begitu menyita perhatian khalayak. Tak hanya pada teman-teman penanya, tetapi juga pada kebanyakan masyarakat Belanda dan Pribumi. Bahkan, tidak sedikit pula tokoh-tokoh nasional yang terinspirasi oleh surat-surat yang ditulisnya. Sampai sekarang pun.

Seperti apa surat-surat Kartini yang disebutkan sebagai buah pemikiran yang begitu menginspirasi itu? Berikut beberapa kutipan surat-surat Kartini seperti yang terdapat dalam buku fenomenal Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kutipan Surat-Surat RA Kartini

Surat Kartini kepada Nona Zeehandelaar

25 Mei 1899: “Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata “Emansipasi” belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi di kala itu telah hidup di dalam hati sanubari saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri.”

18 Agustus 1899: “Bagi saya ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan fikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya.”

Surat Kartini kepada Nyonya Van Kool

Agustus 1901: “Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya.

READ  Ratu Kalinyamat, Wanita Tangguh dan Pemberani dari Jepara

20 Agustus 1902: “Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga-tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memilki buku selain buku pelajaran sekolah.”

Kutipan Surat Kartini kepada Stella

25 Mei 1899: “Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa.”

18 Agustus 1899: “Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi.

Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar.

Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut “kuda liar”.

Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini.

Peduli apa aku dengan segala tata cara itu …. Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu …. Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan.”

Kutipan Surat Kartini kepada Nyonya Ovink Soer

1900: “Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih.”

Kutipan Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon

6 Nopember 1899: “…. Duh, Tuhan, kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agama di pun di atas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad-abad telah lewat menjadi biang-keladi peperangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam.”

READ  Membuka Jendela Dunia dengan Membaca

27 Oktober 1902: “Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada Yang Maha Tinggi.”

12 Desember 1902: “Kami beriktiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup berdiri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih suka dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula.”

14 Desember 1902: “Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.”


Demikian beberapa kutipan surat-surat Kartini yang ditulisnya kepada teman-teman korespondensinya di Belanda.

Cita-Cita Besar Kartini

Perjuangan Kartini dalam mewujudkan agar perempuan mendapatkan hak-hak yang setara dengan kaum laki-laki benar-benar tidak mudah. Dia pun menyadari hal itu semasa hidupnya.

Seperti yang terungkap dalam suratnya kepada Nyonya Rosa Abendanon (istri JH Abendanon) tanggal 7 Oktober 1900 dalam buku fenomenal Habis Gelap Terbitlah Terang—yang mana menjadi salah satu kutipan favorit saya dan sekaligus menjadi penutup artikel ini:

“Belum selang lama ini saya dan Ibu bercakap-cakap ihwal perempuan. Lalu saya nyatakan sekian kalinya lagi, bahwa saya hendak lepas. Berusaha sendiri, melayang bebas bagai burung di langit.

Kata Ibu, ‘Tetapi belum ada orang kita yang berbuat begitu ….’

Saya tahu, jalan yang hendak saya tempuh itu sukar, banyak duri dan onaknya dan lubang-lubangnya. Jalan itu berbatu-batu, berlekak-lekuk, licin. Jalan itu … belum dirintis.

Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan mandiri.

….

Setelah melalui banyak sekali penderitaan dan kesedihan, kami bertekad menciptakan sesuatu. Bagi rakyat kami. Terutama yang bermanfaat bagi kaum wanita kami—meskipun kecilnya. Andaikata ini pun tidak terlaksana, semoga penderitaan dan perjuangan kami berhasil menarik perhatian khalayak ramai terhadap keadaan-keadaan yang perlu diperbaiki.

Dan andaikata itu pun tidak dapat kami capai … setidaknya kami telah berusaha berbuat baik, dan kami yakin benar bahwa air mata kami, yang kini nampaknya mengalir sia-sia itu, akan ikut menumbuhkan benih yang kelak akan mekar menjadi bunga-bunga yang akan menyehatkan generasi-generasi mendatang.”

[Kartini]

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

One Reply to “Kutipan Surat-Surat RA Kartini dan Cita-Citanya yang Besar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *