Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Maharani Shima, Sang Ratu Adil dari Kerajaan Kalingga

6 min read

Maharani Shima, Sang Ratu Adil dari Kerajaan Kalingga

Pandita.ID – Berbicara tentang sejarah kerajaan di Indonesia, terlebih khususnya yang menyangkut Jepara, tidak akan lepas dari sosok “Tiga Putri” lintas generasi yang menjadi ikon dari Kota Ukir. Tiga Putri Agung yang masih dan akan terus harum nama dan jasanya, ialah Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan R.A. Kartini.

Bukan hanya sebagai penyaluran atas ketertarikan saya terhadap sejarah, namun juga sebagai media kampanye yang ditujukan untuk Millennials (khususnya) dan generasi muda pada umumnya agar mau belajar dari apa yang ada di masa lalu—yang kita sebut sebagai sejarah.

Dan mula-mula dari artikel ini, saya akan mengajak kalian semua untuk lebih mengenal ketiga sosok Putri Agung di atas, dimulai dari seorang wanita besar pertama yang menjadi pemimpin sebuah kerajaan besar bernama Kalingga: Ratu Shima.

Kisah Kemasyhuran Maharani Shima, Sang Ratu Adil dari Kerajaan Kalingga

Ada sebuah kisah yang sangat terkenal tentang sosok Ratu Shima yang masyhur hingga ke mancanegara, yang diabadikan oleh para sejarawan pada masanya:

Alkisah, ada sebuah kerajaan maju yang “gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja” yang dipimpin oleh seorang penguasa yang adil nan bijaksana. Ia dikenal dengan nama Ratu Shima, Sang Ratu Adil yang memimpin Kerajaan Kalingga. Benar dia seorang wanita, tapi dia memerintah dengan tegas, berlandaskan pada asas kejujuran dan keadilan, sehingga tidak ada seorangpun dari rakyatnya yang berani melanggar peraturan yang dititahkannya.

Berita dari Tiongkok meriwayatkan bahwa hukum dan keadilan di Kalingga diterapkan dengan sangat tegas oleh Ratu Shima. Barang siapa yang terbukti melakukan perbuatan yang tidak terpuji, maka akan dihukum dengan hukuman yang setimpal. Siapapun, dari kalangan kerajaan sendiri pun. Tanpa pandang bulu.

Salah satu hukum yang paling terkenal sebagai penggambaran ketegasan Ratu Shima adalah: Barang siapa yang mencuri, maka akan dipotong tangannya.

Raja Ta-Shih (dalam catatan Tiongkok disebut sebagai Raja Da-Zi), salah seorang raja dari Timur Tengah, pun penasaran mendengar berita tentang keadilan dan ketegasan Sang Ratu. Karena penasaran dengan ketegasan Sang Ratu, Raja Ta-Shih datang secara diam-diam ke Kalingga untuk membuktikannya sendiri: Diletakkannya sekantong emas di tengah-tengah persimpangan jalan dekat alun-alun.

Namun, karena rakyat Kalingga terbiasa jujur dan patuh pada hukum yang telah ditetapkan oleh Sang Ratu, kantong yang berisi emas itu tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya. Tak ada seorangpun yang berani menyentuhnya, hingga tiga tahun berselang.

Sampai pada suatu ketika, putra Sang Ratu, Pangeran Narayana, berjalan melewati lokasi sekantong harta benda tersebut berada. Sang Pangeran tidak sengaja menyentuh kantong tersebut, membuat kantong tersebut terbuka dan mengeluarkan isinya. Sontak situasi menjadi gaduh, karena Sang Pangeran telah menyentuh sesuatu yang bukan miliknya.

Di sinilah ketegasan dan kebijaksanaan Sang Ratu Adil diuji. Pangeran Narayana adalah anak kandungnya sendiri, yang bahkan sudah dinobatkan sebagai Putra Mahkota yang akan menjadi penerusnya.

Tapi dharma harus dijalankan. Hukum harus ditegakkan. Tanpa pandang bulu.

Karena malu, Ratu Shima marah besar sampai ingin membunuh putra kandungnya itu sekaligus sebagai hukuman yang pantas dijatuhkan kepada Sang Pangeran. Namun, beruntung hal itu keburu dicegah oleh para menteri dan saksi yang ada.

“Kesalahanmu terletak di kakimu, maka dari itu sudah selayaknya jika kakimu dipotong,” kata Sang Ratu yang masih dalam keadaan malu dan marah kepada putranya.

Dan sekali lagi para menteri dan saksi-saksi pun kembali memohon dan menghalanginya atas dasar karena kaki pangeran “tidak sengaja” menyentuhnya. Akhirnya, Sang Ratu hanya memotong jari-jari kaki Sang Pangeran yang menyentuh kantong tersebut (beberapa versi lain menyebutkan hanya ibu jari kaki pangeran yang dipotong).

Melalui sikap dan tindak-tanduknya, Ratu Shima memberikan contoh kepada rakyatnya.

Dalang dari peristiwa tersebut, Raja Ta-Shih, pun segan dan menggugurkan niatnya yang pernah terbersit untuk menyerang negara Sang Ratu.

READ  Prolog [Chapter 0]

Ya … demikian kisah singkat tentang Ratu Shima yang amat terkenal. Dan, tidak adakah di antara kalian yang penasaran, “bagaimana Ratu Shima yang mana adalah seorang wanita bisa menjadi pemimpin sebuah kerajaan/negara? Mengantarkan Kalingga ke puncak keemasannya pula.” Hmm. Adakah di antara kalian yang penasaran tentang hal-hal semacam itu? Mari kita runutkan berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ada.

Biografi Singkat Ratu Shima

Maharani Shima atau Ratu Shima adalah putri seorang pemuka agama Hindu-Syiwa di wilayah Sriwijaya. Ia lahir pada tahun 611 Masehi di sekitar wilayah yang kini dikenal sebagai Musi Banyuasin. Kemudian pada tahun 628 Masehi, pada usianya yang ke 17 tahun, Ia diperistri oleh Pangeran Kertikeyasinga—putra mahkota Kerajaan Kalingga, yang juga merupakan keponakan dari penguasa Kerajaan Melayu Sribuja.

Karena telah menjadi istri Putra Mahkota Kalingga, Maharani Shima diboyong meninggalkan tanah kelahirannya menuju Kalingga yang pusat pemerintahannya berada di Jepara—menyeberangi laut Jawa melewati kawasan pantai utara Jepara. Beberapa sumber sejarah ada yang meriwayatkan bahwa Maharani Shima sempat hijrah ke daerah dataran tinggi yang dikenal sebagai wilayah Adi Hyang (Leluhur Agung) atau yang sekarang lebih kita kenal sebagai Dieng ketika Ia telah menjadi istri Kertikeyasinga. Di Negeri di Atas Awan inilah kemudian Maharani Shima yang merupakan seorang pemeluk Hindu Syiwa yang taat pernah tinggal.

Demikian biografi singkat mengenai asal-usul Maharani Shima. Memang, sampai sekarang belum (lagi) ditemukan bukti-bukti lain yang dapat memperkuat dan melengkapi asal-usul pun silsilah Ratu Shima. Namun, yang pasti: Ratu Shima (dengan suaminya – Raja Kertikeyasinga) merupakan leluhur yang menurunkan trah raja-raja di pulau Jawa pada periode-periode setelahnya.

Menjadi Ratu di Kalingga

Sampai sekarang bukti sejarah menyebutkan bahwa Kalingga merupakan kerajaan ketiga tertua yang pernah tercatat dalam sejarah Nusantara dengan pamor pemimpinnya yang sangat terkenal, Ratu Shima. Wataknya yang cenderung keras selaras dengan namanya sendiri yang berasal dari bahasa Jawa “Simo” yang artinya “Singa”, membuatnya begitu disegani dan dihormati karena ketegasannya dalam menegakkan hukum yang tak pandang kasta pun derajat.

Sebelumnya, Ratu Shima adalah sosok yang ada di belakang layar. Pada tahun 648 Masehi, Kertikeyasinga naik tahta menjadi raja Kalingga. Setelah 26 tahun kepemerintahannya, tepatnya pada tahun 674 Masehi, Raja Kertikeyasinga mangkat. Karena kedua penerusnya, yakni Parwati dan Narayana masih kecil, maka dari itu Ratu Shima yang naik tahta menggantikan suaminya dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara.

Nah, dari sinilah sepak terjang Ratu Shima bermula, hingga berhasil membawa Kalingga ke masa keemasannya.

Peta Kekuasaan Kerajaan Kalingga
Peta Kekuasaan Kerajaan Kalingga

Kalingga benar-benar mencapai puncak kejayaannya pada masa Ratu Shima. Selama 21 tahun kepemerintahannya, Kalingga menjadi satu-satunya kerajaan besar di Jawa, khususnya Jawa Tengah, yang menguasai pesisir utara Jawa.

Pada era Ratu Shima, pelabuhan milik Kalingga menjadi salah satu pusat perdagangan paling sibuk di Jawa, yang menjadi tempat pertemuan banyak orang dari berbagai bangsa. Karenanya, Kalingga berhasil mengambil-alih peran bandar dagang paling ramai yang mula-mulanya dikuasai oleh Tarumanegara yang berada di pesisir utara Jawa bagian barat. Bahkan, Kalingga telah menjalin relasi dalam bidang perekonomian dengan kekaisaran di Cina sejak abad ke-5 Masehi.

Tidak hanya dalam sektor perniagaan saja, perekonomian Kalingga semakin maju berkat majunya sektor-sektor lainnya. Seperti halnya dalam sektor pertanian, yang pada era Ratu Shima memakai sistem subak—sistem pertanian yang juga diterapkan oleh petani-petani Hindu di Pulau Dewata.

Selain itu, penduduk Kalingga juga terkenal akan produk-produk kerajinan tangan dan industri kreatifnya yang berkualitas. Juga Kalingga semakin maju karena memiliki SDM yang terampil dalam bidang pertukangan, seperti membangun rumah, pembuatan kapal dan perahu, pembuatan perabotan rumah tangga, dan lain sebagainya.

Image Ratu Shima dalam memimpin Kalingga memang sangat luar biasa. Mulai dari rakyat biasa sampai ke lingkar elit kerajaan dan pemerintahan, semua mencintai dan segan kepada beliau. Bahkan, kabar burung mengatakan bahwa tidak ada seorang anggota kerajaan pun yang berani berhadapan muka atau bertatap mata dengan beliau.

READ  Kutipan Surat-Surat RA Kartini dan Cita-Citanya yang Besar

Situasi dan kondisi yang seperti itu justru membuat Ratu Shima resah dalam hatinya, karena Ia menilai bahwa kepatuhan rakyat kepadanya terlalu berlebihan. Tak urung hal ini membuatnya selalu bertanya-tanya; kenapa rakyat Kalingga, para pejabat, keluarga, semuanya, tidak ada yang berani berbeda pendapat dengannya.

Bahkan pernah sekali waktu Ratu Shima menguji kesetiaan lingkaran elitnya dengan memutasi, merotasi, atau bahkan memensiunkan para pejabat pemerintahan yang duduk di posisi-posisi penting di lingkungan istana. Namun, mereka, para pejabat-pejabat itu tidak ada yang mengeluh sedikitpun. Semua pihak yang terkait tetap mengaku bersyukur atas kebijakan yang telah ditetapkan oleh Sang Ratu. Meskipun dilihat dari pandangan awam terlihat tidak menguntungkan, bagi mereka kebijakan Ratu Shima dianggap telah memberi berkah.

Tidak sampai di situ saja, Ratu Shima juga menjunjung tinggi pluralisme dan mengayomi pemeluk agama lain. Sebagai buktinya, di Jepara terdapat sebuah desa yang bernama Desa Plajan, sebuah desa yang menjadi simbol pluralisme dan toleransi beragama di Jepara karena semua pemeluk agama tinggal bersama dengan rukun di dalamnya, baik Islam, Protestan, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu hidup berdampingan sampai sekarang.

Hubungan Dengan Kekhalifahan

Selain menjalin relasi dengan kekaisaran Cina (sebagaimana yang terdapat dalam catatan dinasti Tang dan riwayat I-Tsing) dan pedagang-pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia, Kalingga juga memiliki hubungan dengan kekhalifahan Islam. Hubungan ini terjadi pada tahun 30 H atau 651 Masehi. Dengan kata lain, hubungan tersebut terjadi pada era Raja Kertikeyasinga (suami Ratu Shima) masih hidup dan pada era kekhalifahan Ustman bin Affan.

Hanya berselang 20 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW, pada masa itu, Khalifah Ustman mengirimkan utusannya untuk mengenalkan Islam ke daratan Cina yang kemudian juga singgah ke Bumi Nusantara.

Khalifah Ustman (644 – 657 M) juga pernah mengirimkan delegasi atau perwakilannya yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan untuk berkunjung ke Tanah Jawa, tepatnya Jepara (yang dulu bernama Kalingga). Alhasil, putra Ratu Shima, yang tidak lain adalah Pangeran Narayana, mengucapkan syahadat dan masuk Islam.

Karena bukti catatan sejarah ini, ada beberapa pihak (termasuk saya) yang menghubung-hubungkan, atau lebih tepatnya bertanya-tanya: Apakah hukuman “potong tangan bagi orang yang mencuri” yang diterapkan oleh Ratu Shima merupakan pengaruh Islam?

Bisa jadi.

Ibu dari Raja-Raja di Jawa

Seperti yang telah disebutkan di awal, bahwa Ratu Shima merupakan leluhur yang menurunkan trah raja-raja di Jawa.

Jadi, begini runut benang merahnya ….

Putri Ratu Shima, Parwati, menikah dengan putra mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Rahyang Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja ke-2 dari Kerajaan Galuh. Dari pernikahan tersebut lahirlah Sanaha (cucu Ratu Shima) yang juga menikah dengan raja ke-3 dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasena. Dari Sanaha dan Raja Bratasena, lahirlah Sanjaya yang kelak membangun Wangsa Sanjaya atau Mataram Kuno (723 – 732 M).

Sebelum Ratu Sima mangkat, Kerajaan Kalingga dibagi menjadi dua wilayah. Di bagian utara disebut dengan Bumi Mataram, diserahkan kepada Parwati (695 – 716 M). Sedangkan di bagian selatan disebut dengan Bumi Sambara, yang dipimpin oleh Raja Narayana, yang bergelar Iswarakesawa Lingga Jagatnata Buwanatala (695 – 742 M).

Raja Narayana memiliki cucu yang bernama Sudiwara yang kelak menikah dengan Sanjaya (cucu Parwati). Dari pernikahan antara sesama cicit Ratu Shima ini lahirlah Rakai Panangkaran yang lahir tahun 717 M. Dialah yang di kemudian hari menurunkan raja-raja di Jawa Tengah.

Demikianlah sejarah singkat Sang Maharani Ratu Shima, seorang Wanita Agung yang secara langsung dan tidak langsung telah mendidik kita, memberikan contoh, dan mengajarkan tentang hal-hal penting yang nyatanya mulai memudar dalam aspek kehidupan kita dewasa kini.

Tapi apa itu yang mulai memudar dalam aspek kehidupan kita dewasa kini? Itulah pertanyaan yang layaknya menjadi renungan kita setelah menengok sejarah yang sebelumnya telah kita punggungi.

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *