Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Meneruskan Tongkat Estafet & Nyala Pelita Mbah Moen

1 min read

Meneruskan Estafet & Nyala Pelita Mbah Moen

Pandita.ID – Selasa 6 Agustus 2019, Indonesia kembali berduka, kehilangan salah satu Ulama’ Sepuh Karismatik yang sering menjadi tumpuan permasalahan kebangsaan dan internasional.

Mbah Kyai Haji Maimoen Zubair, siapa yang tak mengenal beliau? Pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang ini tak hanya karismatik, namun juga merupakan sosok yang legendaris. Dan pada Selasa (6/8/19) lalu, beliau telah berpulang ke Rahmatullah. Mbah Moen wafat setelah melaksanakan shalat Shubuh di Makkah dan dikebumikan di pemakaman Al-Ma’la.

Tak hanya di kalangan Muslim, dukacita telah menghampiri berbagai lapisan masyarakat atas kehilangan yang begitu besar ini. Karena Sang Kyai tak hanya teladan bagi segolongan umat, namun beliau juga merupakan seorang Guru Besar bagi bangsa yang bhineka ini. Kita kehilangan seorang Waliyullah.

Seperti halnya artikel yang ditulis oleh Gus Candra Malik di Geo Times yang berjudul “Meneruskan Mbah Moen Menjaga Indonesia”—sumber utama tulisan ini, banyak orang yang berkisah tentang sosok salah satu Mustasyar PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) yang tak hanya memiliki pengaruh besar di dunia Islam Indonesia, tetapi juga di dunia. Belum lagi peran dan jasa besar beliau untuk negeri ini ….

Terlebih setelah wafatnya Mbah Moen, Gus Mus yang juga seorang Mustasyar PBNU telah mengingatkan kepada kita: “Mautul ‘alim mautul ‘alam, matinya seorang alim adalah matinya alam.” Memang, kita bukan hanya kehilangan sosok, tapi kita juga kehilangan ilmu. Karena kematian seseorang yang berilmu disertai padamnya cahaya ilmu.

Saya memang bukan seorang yang memiliki kedekatan dengan beliau, bukan sanak saudara, bukan pula santrinya, bahkan belum pernah bertemu langsung barang sekali pun—dan sayangnya demikian … namun, entah kenapa saya jadi berpikir bahwa wafatnya sejumlah Kyai Sepuh dalam 5 tahun terakhir ini melainkan sebagai pertanda bahwa peralihan antar generasi harus dan tengah berlangsung.

READ  RA Kartini, Tokoh Emansipasi Wanita Indonesia Pertama

Khususnya untuk warga NU, bahwa sudah semestinya kita sadar betul bahwa kita tidak bisa terus-terusan hanya mengandalkan Gus Mus, Habib Lutfi bin Yahya, dan Ulama’-Ulama’ lainnya yang telah mengabdikan sepanjang hayatnya untuk tanah air—seperti halnya Mbah Moen dan para pendahulu bangsa ini.

Bahwa tongkat estafet itu harus diteruskan, pelita itu harus terus menyala.

Dan syukur Alkhamdulillah, dewasa kini telah muncul sejumlah Kyai Muda yang oleh sebagian besar masyarakat meyakini pada diri mereka lah tongkat estafet itu dapat diteruskan dan nyala pelita itu tetap terjaga, terutama dalam meneruskan perjuangan Nahdlatul Ulama’. Sosok para Kyai Muda tersebut di antaranya seperti Gus Candra Malik, Gus Miftah, Gus Muwaffiq, Gus Prof. Nadirsyah Hosen, Gus Baha’, dan Kyai-Kyai Muda lainnya.

Dan tentu saja, kita sebagai generasi muda NU harus memastikan tetap berdiri di garda paling depan. Sesuai bidang masing-masing, kita harus terus bangkit dan bergerak. Bersatu padu dengan segenap elemen bangsa yang satu nusa, satu bangsa, satu bahasa persatuan, dan satu tujuan meneruskan tongkat estafet dan nyala pelita: Menjaga Indonesia.

1
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

2 Replies to “Meneruskan Tongkat Estafet & Nyala Pelita Mbah Moen”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *