Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Cerita Bagaimana Saya Ingin Menghadirkan Hutan ke Rumah

4 min read

Bagaimana Saya Ingin Menghadirkan Hutan ke Rumah

Jika hutan adalah paru-paru dunia, lantas apa yang menjadi paru-paru di rumah atau di lingkungan sekitar kita? Inilah alasan kenapa saya terobsesi ingin menghadirkan hutan di rumah.


Pandita.ID – Banyak orang di sekitar saya yang heran dengan kegemaran saya ini. Tidak sedikit pula yang bertanya (entah hanya sekedar berkomentar), “cah lanang kok dolanan kembang,” atau “cah lanang kok seneng rumat-rumat kembang,” dan lain sebagainya.

Hmm, jika ada pertanyaan atau komentar mereka yang kalau di telinga saya itu terdengar sengak atau bahkan merendahkan, lebih sering sisi humoris saya yang menjawabnya: “lha daripada dolanan wedokan …,” atau “daripada ngrumati kembang bank …,” dan semacamnya. Yaaa, sebenarnya tergantung siapa juga yang ngajak bicara, sih.

Kalau menurut kalian bagaimana? Apa pendapat kalian tentang laki-laki pertengahan 20-an yang hobinya menanam tanaman seperti pohon atau bunga, hmm?

Saya sendiri masih ingat betul kapan saya mulai benar-benar tertarik dengan hobi yang satu ini. Tepatnya pada tahun 2013 ketika saya kembali pulang ke Jepara dari perantauan saya di Cilegon (Banten). Berbeda sekali dengan di Jepara, di Cilegon saya tinggal di sebuah kontrakan yang berada di pemukiman padat penduduk yang lokasinya dekat dengan pusat kota. Di lingkungan tempat saya ngontrak itu, saya dipaksa untuk beradaptasi dengan sebuah lingkungan dengan hawa yang terik dengan kualitas udara yang kering. Kalau siang kepanasan, kalau malam masih kegerahan. Ya Allah ….

Namanya juga pemukiman padat penduduk, bagunan rumah berdiri berderet begitu rapatnya, dengan sesekali gang sempit yang menjadi pemisahnya. Pikir saya; andai saja setiap rumah paling tidak punya satu pohon, pasti lingkungan ini tidak akan sebegini panasnya. Tapi rasa-rasanya itu hampir tidak mungkin … ya, mau ditanam di mana? Nggak ada lahannya. Teras rumah saja langsung beradu dengan jalan atau gang.

Belum lagi kenyataan bahwa kebanyakan para penghuni yang tinggal di sana hanya mengontrak, seperti saya. Jadi opsi yang paling memungkinkan adalah menanam tanaman dalam pot yang sekaligus sebagai penghias rumah. Tapi itu pun hanya beberapa orang saja yang melakukannya—berdasarkan pengalaman selama kurang-lebih dua tahun saya tinggal di sana. Selebihnya, kebanyak lebih memilih untuk memasang pendingin ruangan atau mengandalkan nyala kipas angin bagi mereka yang terhalang dana. Ya, setiap orang punya pemikiran dan pilihannya masing-masing.

Itu baru di tempat saya tinggal, belum lagi di tempat saya kerja. Oh, iya, saya lupa memberi tahu di awal. FYI, saya di Cilegon bekerja sebagai buruh bangunan proyek. Ya, jadi kuli bangunan, dari satu proyek ke proyek yang lain. Di antara semua proyek, ada satu proyek yang paling berkesan bagi saya, namanya Krakatau Posco Project—sebuah pabrik baja milik perusahaan raksasa PT. Krakatau Steel (BUMN). Kenapa? Karena selain menjadi tempat paling lama saya nguli, banyak pula pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan dari sana.

READ:  Krisis Perubahan Iklim dan Runtuhnya Peradaban Manusia

Di tempat itu, saya telah menyaksikan bagaimana hamparan rawa dan pantai yang diurug menjadi sebuah lahan (bakal proyek) dengan luas sekitar 150 hektar. Gunung mana yang tanahnya dipindahkan ke sana? Kata orang sana, sudah habis 2 gunung kecil (kalau saya lebih menyebutnya sebagai bukit) untuk mengurug lahannya saja, hingga menjadi sebuah lahan siap kerja yang membuat saya membayangkan bagaimana rupa padang mahsyar nantinya. Ya, meskipun pada akhirnya imajinasi saya itu seiring waktu berubah sedikit demi sedikit sejak beton dan baja dengan galaknya mulai ditanam di padang mahsyar itu. Dan saya adalah termasuk salah satu orang yang ikut menanam barisan beton dan baja yang ada di sana.

Jadi, dari sedikit cerita yang saya dapat dari Cilegon itu, sebenarnya yang ingin sekali mengungkapkan kegelisahan saya: Kenapa manusia bisa begitu acuhnya dengan lingkungan? Apakah yang telah dikorbankan itu akan setimpal dengan hasilnya? Tentu saja hal ini bak koin dengan dua sisinya.

Terlintas pula dalam benak saya, bagaimana kalau itu terjadi di kampung halaman saya? Bagaimana jadinya nanti kalau sampai hijaunya Bumi Jeparaku sedikit demi sedikit berkurang karena digeser oleh berdirinya pabrik-pabrik baru—yang di sisi lain telah membuka lapangan kerja baru bagi ribuan pencari pekerjaan, apakah Jepara juga akan menjadi sepanas Cilegon? Atau akan menjadi seperti kota-kota lain yang lebih dulu dijamah industrialisasi seperti Semarang atau Demak misal?

Ya, terlepas dari kekhawatiran besar saya di atas, ada pengalaman lain ketika saya sudah kembali ke kampung halaman. Ada tiga pohon mangga dan satu pohon palm kipas berukuran besar di sebelah barat rumah saya yang karena beberapa alasan harus ditebang. Nah, padahal di depan rumah kami masih ada beberapa pohon besar, apalagi di pekarangan belakang rumah, namun begitu empat pohon tadi ditebang, semua orang yang tinggal serumah dengan saya merasakan dampaknya kalau rumah kami jadi sedikit lebih panas dari biasanya. Hmm.

Sempat pula saya berdebat dengan kakek dan nenek saya ketika mereka saya ajak berdiskusi perihal pohon apa yang bakal ditanam di lahan yang kini tengah kosong itu. Dan ya, kami berdebat. Kalian tahu kenapa? Kakek saya tidak ingin menanaminya dengan pohon apapun. Allahu Akbar …. Beda dengan nenek saya, kalau beliau malah ingin menanaminya dengan pohon singkong. Duh Gusti …. Jadi di kesempatan itu saya jelaskan berkali-kali kalau kita sudah kehilangan 3 pohon besar, dan terasa sekali seperti apa dampaknya.

Dan Alkhamdulillah, akhirnya mereka mau menerima sekaligus memberikan izin atas ide saya untuk menanam pohon kembali. Karena begitu kita menebang satu pohon, kita juga harus menggantinya (paling tidak) dengan menanam satu pohon kembali. Kalau tidak begitu, bagaimana jadinya Bumi kita nanti kalau manusianya lebih suka menebang ketimbang menanam?

READ:  Benarkah Nasionalisme Tidak Ada Dalilnya?

Selain itu, alasan lain kenapa saya begitu tergerak untuk terus menanam mungkin datang dari obsesi saya yang ingin menghadirkan hutan ke rumah. Hahaha, itu mungkin terdengar muluk-muluk tapi aku sungguh-sungguh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum saya kehilangan 4 pohon tadi, saya sudah mengumpulkan beberapa koleksi tanaman untuk menghiasi rumah saya. Di antara tanaman-tanaman itu ada yang merupakan tanaman bunga dan hias seperti mawar, kenangan, melati, pancawarna, adenium (desert rose), anggrek, aglonema, anthurium, tanaman ular (lidah mertua), dan beberapa tanaman hias lainnya. Di antaranya ada yang saya tanam dalam pot dan ada pula yang saya ground di halaman karena ukurannya yang lumayan.

Apakah itu memiliki dampak yang signifikan terhadap lingkungan? Dengan berani saya katakan, “ya!” Dari segi kualitas udara saja itu terasa sekali, apalagi jika kita memiliki beberapa tanaman penyegar udara (misal seperti lidah mertua dan lainnya) di rumah kita. Belum lagi dari segi mental … bahkan sudah menjadi rahasian umum bahwa salah satu hal yang paling dirindukan oleh para pendaki gunung adalah luasnya bentang pemandangan hijau yang tidak dapat ditemukan diperkotaan—ini juga yang menjadi salah satu alasan kenapa saya kembali mendaki dan mendaki lagi. Dan, bayangkan, secuil dari pemandangan hijau itu kini ada di rumahmu, mengisi setiap sudutnya. Betapa menenangkannya ….

Dan percaya atau tidak kalau kebiasaan baik ini bisa menular? Saya sendiri telah membuktikannya selama tujuh tahun ini, kalau kebiasaan atau hobi menanam dan merawat tanaman yang saya lakukan ini telah menular ke orang-orang terdekat saya, seperti keluarga, tetangga, bahkan ke teman-teman saya (baik laki-laki maupun perempuan). Tidak percaya? Silahkan buktikan sendiri.

Sampai sekarang saya berkeyakinan bahwa semua orang bisa membuat hutannya sendiri. Karena pada dasarnya syaratnya pun tidak sulit; hanya butuh sedikit dorongan untuk belajar dan memulai—mungkin kamu juga perlu untuk menyisihkan sedikit biaya untuk membeli ini dan itu atau bahkan terkadang tidak perlu sama sekali, dan tidak pelit ketika nantinya ada orang yang meminta salah satu tanaman kita yang berlebih. Kira-kira seperti itulah cara bagaimana saya memulai untuk menghadirkan hutan di rumah saya—meski sekarang penampakannya masih jauh dari apa yang saya konsepkan, namun terus saya upayakan. Bahkan sekarang saya jadi memiliki teman-teman yang tidak hanya se-hobi, melainkan se-visi pula.

Ya, saya tahu, apa yang saya (dan teman-teman saya) lakukan ini belum ada apa-apanya untuk menjawab “kekhawatiran besar” yang saya ceritakan di awal. Tapi kita semua tahu, bahwa hal-hal besar itu seringkali bermula dari hal-hal kecil. Bukan begitu?

Jadi, bagaimana? Apakah kamu tertarik untuk mulai membuat hutanmu sendiri? Jika kamu bingung mau mulai dari mana, saya siap untuk menjadi rekan diskusimu. Sekian dari cerita saya kali ini, Salam Harmoni.

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *