Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Millennial kok Jadi Pekerja Konstruksi [Chapter 3]

4 min read

Pekerja Konstruksi Bangunan

Ini adalah kelanjutan dari ceritaku yang sebelumnya. Di mana sebelumnya aku telah bercerita tentang kehidupanku dalam memasuki dunianya para dewasa, menghadapi segala kenyataan dunia yang seolah berkata “wellcome to reality!” Yang lalu mengantarkanku mendapatkan pekerjaan pertama di hidupku dan keluar dari pekerjaan tersebut ketika baru sebulan bekerja di dalamnya.

In fact, setelah keluar dari pekerjaan pertamaku, tidak lantas membuat kehidupanku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku pengangguran sekarang. Dan jujur, aku kembali ke hari-hari suram yang aku lalui sebelumnya.

Sudah ku coba untuk mencari pekerjaan lain, akan tetapi yang ada hanya lowongan-lowongan yang sama sekali tidak menarik perhatianku. Aku jadi jatuh ke dalam kegalauan lagi dan ditambah dengan kejenuhan yang sudah menumpuk selama berminggu bahkan berbulan. Aku ingin sesuatu yang baru.

Dan beruntung, aku mendapatkan kesempatan itu. Aku diajak oleh ayahku untuk bekerja sebagai pekerja konstruksi di luar kota.

Pekerja konstruksi?!

Milenial Kok Jadi Pekerja Konstruksi ( ! )

Ya, ini cerita nyata. Aku merantau di luar kota, terdampar jauh dari rumah, menjadi pekerja konstruksi di sebuah mega proyek yang bernama Krakatau Posco (kalian bisa mencari tahu seperti apa gambarannya di google).

Mungkin bagi sebagian orang profesi ini dipandang sebelah mata, aku tidak akan menyangkalnya. Pekerja konstruksi itu pekerjaan kasar, berat, tidak menuntut pendidikan, jauh dari rumah, dan siapapun bisa menjalani profesi ini asal punya tenaga dan mau diperintah, dan lain sebagainya … mungkin demikian yang akan terlintas, aku juga akan membenarkannya. Lalu, kenapa memilih profesi itu?

Yang menjadi alasan kenapa aku memilih profesi tersebut adalah karena ….

Keinginan Untuk Melihat Dunia Luar

Kalau hanya sekedar ingin melihat dunia luar, bukankah hanya tinggal pergi ke suatu tempat yang ingin didatangi? Ya, tapi itu berwisata namanya. Aku ingin lebih dari sekedar berwisata, apapun negerinya. Aku ingin sesuatu yang baru, sesuatu yang mungkin dapat merubah hidupku.

Ada sebuah kutipan manis yang ku abadikan di dalam buku catatanku:

“To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, to draw closer, to find each other and to feel. That is the purpose of life.”

Aku ingin melakukan hal-hal itu, dan untuk mewujudkannya, aku butuh akses yang bisa mengarahkanku menuju pintu masuknya. Dan pada saat itu akses yang paling memungkinkan bagiku adalah melalui jalan menjadi pekerja konstruksi.

Why?

Karena itu adalah satu-satunya pilihan yang ada di depanku sekarang.

Di samping itu, ada pintu yang dibukakan lebar untukku. Aku tinggal berangkat dan duduk di bangku bus malam bersama rombongan karena ongkos perjalanan ditanggung oleh bos, hanya perlu membawa perlengkapan pribadi serta peralatan kerja sesuai yang diinstruksikan, dan begitu sampai aku langsung bisa bekerja. Se-simple itu.

Dalam perjalanan saja aku semakin yakin dengan langkah yang aku ambil itu. Hatiku berdebar ketika melihat berbagai macam pemandangan lewat  kaca jendela bus malam yang aku naiki. Aku terus bergumam, “aku datang, aku datang, aku datang,”  sampai tidak sadar aku sudah tertidur. Hingga akhirnya aku sampai di terminal Pulogadung (Jakarta) untuk naik bus lain yang menuju kota Cilegon. Dan betapa takjubnya diriku ketika melihat kehidupan yang ada di terminal Pulogadung itu. Riuhnya sudah ramai terdengar begitu masih fajar. Sepetak tempat yang cukup untuk menggambarkan bahwa Jakarta belum tidur. Sebuah dunia yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Tapi maaf, Jakarta, persinggahan pertamaku cuma sebentar dan hanya sekedar untuk numpang kencing lalu pergi untuk melanjutkan perjalanan. Aku akan datang lagi lain waktu.

READ  Ketika Kita Merasa Tersesat dan Tak Bisa Berbuat Apa-Apa

Setelah menghabiskan 6-7 jam perjalanan dari Jakarta, sampailah di Kota Cilegon, salah satu kota industri yang ada di provinsi Banten. Di kota ini lah perjalanan baru itu dimulai.

Di mess aku tinggal bersama ayah dan rombongan dari daerahku sendiri. Mereka semua adalah pakar dalam dunia konstruksi ini. Syarat pengalaman, pasti. Profesional, tentu. Menjadikan aku seorang anak bawang dalam permainannya para dewasa. Tapi aku harus berbaur karena mereka adalah rekanku, dengan tidak melupakan posisiku sebagai yang lebih muda tentunya.

Bangun petang, antri mandi, sarapan, berangkat bersama ke titik penjemputan. Dari sini aku sadar kenapa kedisiplinan itu harus dilakukan terus ke depannya, karena angkutan yang mengantarkan pekerja ke lokasi proyek berangkat tepat waktu. Jika telat, kemungkinan besarnya adalah ditinggal angkutan tersebut. Terlebih lagi setelah tahu bahwa lokasi proyeknya ternyata lumayan jauh (kurang lebih 20 km dari titik penjemputan) dan letaknya ada di paling ujung di dalam sebuah kawasan industri raksasa.

Begitu sampai di lokasi proyek untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa seperti masuk ke dalam dunia lain. Berbeda sekali dengan imajinasiku tentang sebuah proyek konstruksi sebelumnya yang kebanyakan adalah tentang gedung pencakar langit. Krakatau Posco Project benar-benar luar biasa. Dengan luasnya, dengan berbagai macam unit proyeknya, dengan banyaknya pekerja dari berbagai daerah dan etnis, dan dengan segala hal yang ada di dalamnya yang membuatku sadar bahwa ada Indonesia kecil di sini. Atau dunia kecil, mungkin?

Lebih membuatku takjub lagi ketika melihat banyaknya alat-alat berat dan kendaraan pengangkut dengan bentuk yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Ada yang setinggi menara, ada yang sebesar gedung, ada yang rodanya berjumlah ratusan. Sebuah pemandangan yang berhasil membuat diriku mematung untuk sementara. At first I thought that transformers are gathering here. But hell no, I was wrong. This is their base. :’D

Dan aku mulai bekerja. Atau lebih tepatnya, aku mulai belajar menjadi pekerja konstruksi. Semua yang diperintahkan aku kerjakan, sekalipun aku tidak pernah mengelak. Mulai dari pekerjaan yang paling ringan dan mudah untukku seperti pembersihan, hingga sampai ke pekerjaan-pekerjaan berat dengan tingkat kesulitan yang membutuhkan teknik-teknik tertentu. Semua aku lakukan dengan melihat dan meniru, sampai pada akhirnya aku memodifikasinya sesuai dengan kapasitas yang ku miliki dan menemukan teknikku sendiri.

Seiring berjalannya waktu, tidak terasa sudah hampir dua tahun aku menjalani profesi ini. Anggap saja aku sudah profesional, terkecuali untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu yang memang belum pernah aku lakukan sebelumnya, kemampuanku diakui. Aku bahkan bisa membaca gambar (tanpa sekolah teknik). Juga sudah ada beberapa macam proyek yang pernah aku kerjakan, sampai pada akhirnya aku menjadi seorang foreman. Cepat sekali? Anggap saja aku seorang pembelajar yang cepat. Dan di saat aku menjadi foreman ini lah aku mendapat tawaran dari manajer proyek yang sedang aku kerjakan tersebut. Aku ditawari untuk menjadi pemborong di sebuah proyek baru yang akan dipegangnya.

READ  Pandita, Makna Di Balik Sebuah Nama

Menjadi pemborong?

Ya! Menjadi pemborong adalah impiannya para pekerja konstruksi. Akan tetapi tawaran menggiurkan itu dengan sopan aku tolak.

Mungkin kebanyakan dari kalian akan menganggap kalau aku telah membuang atau menyia-nyiakan kesempatan emas yang mungkin hanya satu kali datangnya. Juga mengkhianati begitu saja segala jerih payah dan berbagai proses pahit yang telah aku jalani. Ya, bahkan sampai sekarang aku masih ingat ketika pertama kali disuruh untuk memindahkan sekarung semen utuh di masa awal menjalani profesi ini. Yang andai saja kalian melihatnya pada saat itu, aku akan lebih senang jika kalian tertawa daripada merasa iba kepadaku. Bagaimana tidak, aku yang hanya berbobot 47 kg pada waktu itu, harus mengangkat dan memikul sekarung semen yang beratnya 50 kg sejauh 30 meter. Atau hal-hal yang aku lakukan ketika hanya punya uang Rp. 70.000 untuk hidup selama seminggu. What a sweet memories. Dan masih banyak lagi yang tidak mungkin aku ceritakan semuanya karena akan membuat cerita ini bergenre mellow.

Ada beberapa alasan kenapa aku menolak tawaran tersebut, di samping karena tidak adanya modal untuk memulai … aku menyadari bahwa aku sudah kehilangan hasrat di bidang ini, mengakibatkan apa-apa saja yang aku lakukan jadi menjenuhkan. Dan karena sebab itu akan sangat berbahaya jika aku mengambil kesempatan tadi.

Alasan lainnya adalah karena adanya sebuah rencana yang sudah aku pikirkan jauh-jauh hari. Didasari perasaan aneh yang aku rasakan belakangan hari, kenapa aku jenuh, kenapa aku kehilangan hasrat, aku jadi sering merenungkannya. Sampai di suatu saat aku berpikir apakah sudah aku cukupkan saja hijrahku ini dan mencoba untuk menyingkap tabir itu? Di saat itu terlintas di pikiranku kenapa tidak kuliah saja? Kesempatan untuk kuliah itu bukan mustahil lagi sekarang. Kalaupun aku kehabisan modal di tengah jalan, orang tuaku yang sekarang siap untuk membiayai segala kebutuhan perkuliahanku karena kondisi ekonomi kami sudah membaik. Membayangkan hal itu, entah kenapa membuatku kembali bergairah.

Dan aku pun kuliah.


Di dalam perjalananku pulang, tiba-tiba hatiku terenyuh ketika melihat barisan gedung yang menjulang megah. Aku berbicara pada diriku sendiri:

“Lihatlah mereka …. Mereka tidak tahu, bahwa dibalik kesombongan gedung-gedung yang menancap bumi dan menantang langit itu, ada jerih payah para pekerja konstruksi yang dibayar murah dan kerap bertaruh nyawa siang dan malam.”

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

4 Replies to “Millennial kok Jadi Pekerja Konstruksi [Chapter 3]”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *