Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Papua: Kitorang Semua Basudara, Indonesia Rumah Kita Bersama

2 min read

Papua adalah Kita

Pandita.ID – Betapa belakangan ini Indonesia negeri kita tercinta coba dicerai-beraikan …. Coba untuk digoyahkan …. Coba digegerkan …. Coba diusik ….

Baru saja rampung pilpres yang penuh dengan polemik, intrik dan drama, kini Indonesia kembali diuji keutuhannya. Dan parahnya, kali ini isu rasial yang dijadikan sebagai pemantiknya.

Ya! Sekarang saya sedang berbicara tentang Papua, yang beritanya ramai dinarasikan tak hanya oleh media-media lokal, yang tidak sedikit pula coba disimpang-siurkan, dan tidak sedikit pula yang menggunakannya untuk menggiring opini kita.

Namun, sudah sewajarnya kalau hal itu tidaklah mempan terhadap kita, Millennials. Sebagai generasi yang melek akan dunia digital, saya yakin teman-teman semua cerdas dalam memilah informasi yang disuguhkan. Saya yakin teman-teman semua bijak dalam mencerna kabar yang ada dan tahu harus bersikap bagaimana. Terlebih jika menengok sejarah nation kita, tentu kita akan semakin yakin kalau segala isu dan kabar yang tidak mengenakkan itu hanyalah satu dari sekian upaya oleh segolongan pihak untuk mencerai-beraikan kita, mengadu domba kita, karena pada kenyataannya, sejak dulu kala Papua adalah kita.

Papua adalah Kita

Papua sejak awal merupakan bagian dari persaudaraan dengan Indonesia. Meskipun dalam sejarahnya Papua baru kembali ke pelukan Indonesia pada tahun 1963, namun lihat dari rasa senasib sepenanggungan akibat penjajahan oleh Belanda, sebenarnya Papua sudah dari awal menjadi bagian dari kemerdekaan Indonesia. Bung Karno sendiri pernah menegaskan hal ini dalam pidatonya:

“Orang kadang-kadang berkata, “masukkan Irian Barat ke dalam wilayah ibu pertiwi.” Salah! Tidak! Irian Barat sejak daripada dulu sudah masuk ke dalam wilayah Republik Indonesia.” [Ir. Soekarno]

Belanda sendiri mengakui hal ini. Buktinya adalah dengan menjanjikan akan mengembalikan Irian Barat kepada Indonesia, hanya saja tanggal penyerahannya ditunda dua tahun setelah Konferensi Meja Bundar—sebuah janji yang akhirnya diingkari.

READ  1 Mei, Sejarah Hari Buruh Internasional & May Day di Indonesia Saat Ini

Belanda sendiri berusaha menjadikan Irian Barat sebagai negara boneka yang terpisah. Pengingkaran ini meningkatkan ketegangan Indonesia dengan Belanda, sehingga akhirnya terjadi konfrontrasi dan Presiden Soekarno mengeluarkan perintah Trikora.

Upaya merebut kembali Papua tidaklah mudah dan murah. Beberapa prajurit terbaik kita gugur dalam beberapa insiden. Walaupun sejarah memperlihatkan naik dan turunnya kondisi di Papua, namun pada akhirnya sejarah berbalik dan hingga saat ini Papua adalah bagian dari Indonesia, tumbuh dan membangun bersama-sama.

Satu Kesatuan yang Tak Terpisahkan

Tahu lagu “Dari Sabang Sampai Merauke”?

Bagaimana dari Lagu Wajib Nasional itu telah digambarkan Indonesia sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ibaratkan saja satu kesatuan itu layaknya badan kita, apa yang terjadi jika salah satu bagian dari badan kita merasakan sakit? Tentu saja anggota badan yang lain akan merasakannya.

Atau yang paling buruknya adalah, bayangkan apa jadinya jika Merauke hilang? Atau, apa jadinya jika Sabang hilang? Apa jadinya badan kita?

Memang, isu kewilayahan dan kesukuan yang basi dan tidak mendidik sebagai bangsa sangatlah disayangkan. Tapi perbedaan merupakan harta kekayaan Indonesia. Karenanya tidak boleh ada diskriminasi terhadap semua rakyat Indonesia, tak terkecuali terhadap rakyat Papua.

Kita juga mesti selalu mengingat ini baik-baik, bahwa Indonesia dibangun dari perbedaan. Itulah kenapa NKRI merupakan harga mati. Pancasila pun telah disepakati sebagai dasar dan falsafah bangsa Indonesia.

Mengutip dari pidato Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ketika menjadi inspektur Upacara Kemerdekaan kemarin:

“Jangan ada lagi ada niatan mengganti ideologi bangsa. Jangan ada lagi ada ungkapan; ah kamu Batak, Kamu Papua, kamu Bugis, kamu Sunda, kamu Madura, atau kamu Jawa, jangan pernah ada lagi.

Perbincangan kita harus melompat jauh ke depan. Kita ini diciptakan atas satu jalinan sebagai sapu lidi yang diikat kuat, yang jika lepas ikatannya, ambyar kebangsaan kita ini. Yang jika lepas ikatannya, akan ambyar negara kita. Yang jika lepas ikatannya, kita akan ambyar ber-Indonesia Raya.

Sejarah telah mengikat kuat kita. Perasaan senasib sepenanggungan telah menyatukan kita. Pancasila telah mendasari kita sebagai bangsa dan negara besar.

Yakinlah, kecemerlangan bangsa ini takkan lama lagi. Indonesia akan berjaya seribu windu lamanya. Bahkan lebih.”

Karena meskipun ber-bhineka, kita tetap tunggal ika. Dan siapa saja yang tidak menghargai perbedaan dan prikemanusian, mereka bukanlah orang Indonesia. Maka dari itu, mari kita bersama-sama merawat negara yang dibangun di atas pondasi Pancasila ini.

READ  Petunjuk untuk Memilih Presiden pada 17 April 2019

Tetap terus rapatkan barisan, tetap terus bergandengan tangan, Indonesia akan jayamahe.


Kitorang semua basudara, Indonesia rumah kita bersama.

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *