Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Pemikir atau Pekerja, Tipe yang Manakah Kamu?

3 min read

Pemikir atau Pekerja,Tipe yang Manakah Kamu?

Sekitar satu bulan yang lalu aku menghadiri sebuah acara perkumpulan yang kami adakan secara rutin tiap bulannya. Sebuah arisan bergilir yang ditujukan untuk merawat tali silaturahmi teman-teman seperjuangan sewaktu kuliah. Di sana, pada sebuah kesempatan aku berbincang-bincang dengan temanku yang ternyata sudah beralih profesi dari seorang staff (middle level) di sebuah kontraktor menjadi seorang pemborong. Dia keluar dari perusahaan, meninggalkan posisi amannya, dan bertransisi menjadi seorang pemborong. Sebuah keputusan besar yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.

Sebagian orang mungkin akan mempertanyakan “kenapa” dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaan itu? Melihat dia punya posisi yang tidak rendah di perusahaan tersebut, gaji yang terbilang besar, bonus, asuransi, dan segala tunjangan yang bisa dapatkan.

Tapi aku tidak kaget dengan transisi yang dilakukannya. Aku menganggapnya sebagai sebuah kewajaran, dan dia juga menganggap kalau aku mengerti alasannya. Ya. Setidaknya dia tahu kalau aku sedikit-banyak tahu seperti apa rasanya ‘bernafas’ di dunia konstruksi. Aku tahu betul seperti apa dunia konstruksi itu.

Tapi bukan ini yang akan aku bahas sekarang, tetapi tentang sebuah pertanyaan yang dilontarkanya kepadaku. Setelah bercerita seputar profesi barunya, temanku ini tiba-tiba bertanya:

“Bro, kamu ini tipe pemikir atau tipe pekerja?”

Sebuah pertanyaan yang tidak umum, menurutku, yang jujur sempat membuatku mengerutkan dahi untuk beberapa saat sebelum menjawabnya. Dan sebelum aku memberitahukan jawaban apa yang berikan tentang pertanyaan itu, ada baiknya kalau kita bahas dulu mengenai dua tipe ini.

Si Pemikir & Si Pekerja

Dilansir dari Medium, pernyataan yang sering terlontar untuk menggambarkan ‘pemikir‘ bahwa dia adalah orang yang mampu untuk atau sedang bergulat dengan teori-teori, filsafat, dan buku atau sumber referensi lainnya.

Si pemikir bisa jadi akan terkesan lebih sibuk dengan mendefinisikan segala sesuatu baik dari segi materiil maupun yang abstrak, misalnya saja mencoba untuk menafsirkan dunia atau menafsirkan hidup.

Namun akan membuat kita menjadi naif jika kita hanya membatasi si pemikir hanya untuk golongan para filsuf saja. Sebab bagi Sungkar E. Gautama dalam bukunya yang berjudul Konsep Berpikir, seseorang yang merencanakan sesuatu atau mengidentifikasi, menganalisa dan menarik kesimpulan suatu masalah lengkap dengan solusinya, telah mengalami proses berpikir. Untuk itulah dia disebut sebagai pemikir.

Lantas bagaimana dengan si ‘pekerja‘?

Pekerja, sesuai dengan yang termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah seseorang yang bekerja atau dia yang menghasilkan upah seperti halnya seorang buruh atau seorang karyawan.

READ  10 Pertanda Kamu Akan Sukses di Masa Depan

Sekarang kita perluas definisi tersebut bahwa pekerja adalah seseorang yang lebih menggunakan aspek fisik pada kegiatan tertentu. Sehingga ketika seseorang lebih banyak menggunakan aspek fisik dibandingkan mengerutkan jidat, dia bisa disebut sebagai pekerja.

Dari definisi di atas sekarang terlihat bahwa pemikir dan pekerja telah ditempatkan pada sebuah dikotomi, atau dengan kata lain merupakan dua hal yang telah terpisahkan atau sengaja dipisahkan.

Seperti halnya pertanyaan yang dilontarkan oleh temanku di atas. Temanku ini, secara sadar atau tidak sadar telah membuat sekat antara pemikir dan pekerja. Suatu hal yang wajar tentunya. Apalagi kalau kita melihat apa yang ada di sekitar kita tentang bagaimana orang-orang beranggapan perihal pemikir dan pekerja.

Kita umpamakan saja di dalam dunia kerja, yang ada di pikiran orang-orang kemungkinan besar pasti akan seperti ini: Pemikir itu cenderung mengarah kepada seorang bos atau atasan, sedangkan pekerja adalah orang-orang yang mengerjakan perintah dari bos atau atasan tersebut. Am I right?

Tidak bisa dipungkiri kalau ternyata memang ada sebagian orang yang merupakan ‘pemikir’, seperti halnya bos atau atasan yang hanya menggunakan daya pikirnya dalam bekerja yang dituangkan dalam rencana-rencana dan perintah yang diberikan kepada bawahannya. Seperti ini banyak kita temui.

Dan ada pula orang-orang yang merupakan ‘pekerja’, seperti halnya para buruh atau karyawan yang dalam pekerjaannya hanya menggunakan aktivitas fisik untuk merealisasikan apa yang menjadi rencana dan perintah dari atasannya. Tidak sedikit yang semacam ini. Sebuah contoh untuk dikotomi antara pemikir dan pekerja.

Pemikir atau Pekerja, tipe yang manakah kamu?

Karena dikotomi atau pemisahan antara ‘pemikir’ dan ‘pekerja’ seperti yang ada di atas inilah yang membuatku tidak bisa langsung menjawab pertanyaan dari temanku begitu pertanyaan itu ditanyakan. Kenapa? Karena ada kalanya aku menjadi seorang pemikir dan ada kalanya aku menjadi seorang pekerja. Bahkan tidak jarang pula aku menjadi seorang pemikir dan pekerja dalam waktu yang sama. Anggap saja sebuah improvisasi. Tapi bisakah?

Jujur aku sedikit kesusahan untuk menjelaskannya. Namun di bawah ini ada sebuah cerita yang mungkin bisa sedikit memberikan gambaran:

Belajar dari Kiichiro Toyoda, Pendiri Toyota

Pada suatu masa di mana Toyota belum sebesar sekarang, ada sebuah kejadian unik yang sering dijadikan sebagai inspirasi dalam mata kuliah manajemen yang pernah saya ikuti. Ceritanya kurang lebih seperti ini:

Ketika proses produksi sedang berlangsung, ada sebuah mesin yang rusak, dan hal itu lantas membuat semua proses produksi menjadi tersendat. Karena satu dan lain hal, mesin yang rusak tersebut belum juga beres meski sudah ditangani oleh beberapa teknisi dan beberapa pekerja yang juga ikut membantu.

READ  Jatuh dalam Quarter-Life Crisis? Break Free!

Toyoda yang saat itu ada di lokasi kejadian, setelah tahu apa yang menjadi alasan tersendatnya proses produksi, dengan cepat bereaksi dan mengambil tindakan. Dia melepas jasnya, mengangkat lengan kemejanya, dan ikut membantu memperbaiki mesin yang rusak itu.

Tak pelah hal ini membuat suasana menjadi semakin heboh. Hingga salah seorang pekerjanya dengan sopan mengingatkan Toyoda untuk tidak melakukan hal itu dengan alasan seperti itu akan mengotori tangan atau kemejanya yang putih bersih (dan kemungkinan besar harganya mahal).

Lalu Toyoda menanggapinya dengan berkata:

“Bagaimana kita bisa bekerja tanpa mengangkat lengan baju dan mengotori tangan kita? Itu suatu hal yang mustahil.” [Kiichiro Toyoda]

Dan tidak lama setelah mereka semua saling bergotong-royong, mesin yang rusak itu kembali dapat beroperasi.

Sebuah pelajaran yang sangat berarti tentunya. Bagaimana seorang bos, pemilik perusahaan itu sendiri, tidak segan untuk melakukan sebuah pekerjaan seperti apa yang sudah dilakukan oleh Toyoda dalam cerita tadi.

Dan yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah: Yang seperti itu, jika digolongkan pada pemikir atau pekerja, orang seperti Toyoda ini termasuk yang mana?

Nah!

Inilah yang aku maksudkan dengan menjadi seorang pemikir dan pekerja dalam waktu yang sama.

The Key is

KUNCINYA ADALAH; ketika menjadi seorang pemikir, hendaknya kita menjadi pemikir yang bekerja. Begitu pula ketika kita menjadi seorang pekerja, alangkah baiknya kalau kita menjadi pekerja yang berpikir. Terdengar lebih enak bukan?

Maka dari itu, dari sini, mari kita ciptakan sebuah teori baru tentang tipe pemikir dan pekerja, dengan para pembaca sekalian yang menjadi saksinya: Bahwa mulai sekarang ada yang namanya tipe ‘pemikir yang bekerja’ dan ‘pekerja yang berpikir’.

Contohnya? Hmm. Seperti halnya artikel ini, kalau aku hanya menjadi seorang tipe pemikir, apakah akan jadi artikel seperti ini? Tentu saja tidak. Aku juga harus menulisnya, mengeditnya, dan itu termasuk bekerja. Begitu juga dengan bagaimana kalau aku hanya menjadi seorang tipe pekerja, aku tidak yakin bakal jadi artikel dengan tema atau tulisan yang seperti apa. Cukup masuk akal bukan?

Jadi, tipe yang manakah kamu? Kalau bisa, pilih jawabannya dari kedua tipe baru yang telah kita ciptakan tersebut.

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *