Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Pertiwi yang Sekarang Tiada Hari Tanpa Kabar Duka

3 min read

Pertiwi yang Sekarang Tiada Hari Tanpa Kabar Duka

Kulihat Ibu Pertiwi
Sedang bersusah hati
Airmatanya berlinang
Mas intannya terkenang

Hutan sawah gunung lautan
Simpanan kekayaan
Kini Ibu sedang susah
Merintih dan berdoa

Pandita.ID – Betapa mendengar lagu “Ibu Pertiwi” terasa begitu menyayat hati jika berkaca dari serentetan peristiwa yang terjadi di dalam negeri belakangan ini. Serampung pilpres yang diwarnai dengan segudang drama, yang sama-sama kita harapkan setelahnya Indonesia dapat kembali ke harmoninya, ternyata muncul berbagai problematika anyar setelahnya.

Yang paling segar di ingatan kita dan yang masih viral hingga sekarang saja, ada Kerusuhan Papua yang ternyata permasalahannya belum sepenuhnya kelar hingga sekarang. Kemudian tidak berselang lama, ada Revisi RUU KPK, RKUHP, dan RUUPKS yang mengundang kontroversi sekaligus melahirkan kekhawatiran baru oleh sebagian besar orang. Dan yang (menurut saya pribadi) tidak kalah menyita perhatian, tentu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) parah yang melanda beberapa daerah di Sumatra (khususnya Riau) dan beberapa daerah di Kalimantan—fokus utama tulisan ini.

Karhutla yang melanda di beberapa tempat di Indonesia, khususnya di Riau dan Kalimantan telah membawa kabar duka bagi kita semua, hutan telah terbakar habis, masyarakat sesak nafas, dan satwa langka kekayaan hayati turut menjadi korban.

Memang, sebelum-sebelumnya sudah banyak media yang mewartakan seputar karhutla yang melanda Riau dan Kalimantan, sudah banyak penulis yang menjadikannya sebagai tema dalam tulisan-tulisannya, dan tentu saja, banyak sekali warga yang turut menyuarakan dan meramaikannya di media sosial dengan berbagai luapan emosi atau bahkan jeritan hatinya.

Dari apa yang saya lihat, baik dari media sosial maupun dunia nyata, banyak di antara masyarakat yang melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah yang dianggap lemot dalam merespon, sekaligus menuntut kepada pemerintah agar segera dapat menyelesaikan. Banyak juga di antaranya yang bersimpati dan meluapkan kesedihannya. Dan tentu saja, bahwa juga banyak masyarakat yang meluapkan kemarahan dan mengutuk si biang keladi karena telah membuat neraka yang menyiksa saudara-saudari (kita) di tanah surga karunia Tuhan.

Saya sendiri punya keluarga yang berada di Riau. Adik tiri ibu saya, ia menikah dengan orang Riau dan sudah kurang lebih 4 tahun ini tinggal di sana. Meski kabar terakhir mengatakan kalau mereka di sana masih baik-baik saja, namun situasi dan kondisi yang ada di Riau sampai sekarang tentu masih membuat kami sekeluarga (yang ada di Jawa) khawatir.

READ  Tragedy of New Zealand, March 15, 2019: We are Muslims (Hear us)

Kabut asap yang ditimbulkan karhutla tidak hanya telah menyelimuti hampir seluruh Riau dan membatasi jarak pandang, tetapi kabut asap juga sudah membuat kualitas udara berada dalam level beracun. Ribuan orang telah terkena ISPA, bahkan beberapa hari yang lalu telah memakan korban jiwa. Seorang balita! Duh, Ya Allah … keluargaku yang di sana anaknya juga masih balita.

Begitu pula yang ada di tanah Borneo. Kebakaran parah yang melanda sejumlah daerah turut menimbulkan kabut asap yang pekat, kualitas udaranya pun sudah tidak sehat. Ribuan masyarakat telah terjangkit ISPA. Seorang balita dilaporkan meninggal dunia.

Selain itu, menggilanya si jago merah di Kalimantan tidak hanya menimbulkan dampak yang mengancam manusianya saja, tetapi juga flora dan fauna yang ada di sana.

Evakuasi Orang Utan Karena Kebakaran Hutan dan Lahan
Orang utan beserta habitatnya pun menjadi korban akibat karhutla. Meski, sebenarnya tidak hanya orang utan saja yang menjadi korbannya. Sebelumnya, lebih dulu beredar foto ular sejenis pyton dan anaconda dengan panjang belasan meter dan sebesar pohon yang hangus terpanggang kebakaran.

Dan yang dikhawatirkan, jika bencana karhutla itu segera berhenti sampai di sini, bukan tidak mungkin mereka (orang utan, serta flora dan fauna pada umumnya) akan menghilang dari muka Bumi.

Dampak Karhutla di Kalimantan

Ya, itu bukan suatu hal yang mustahil, terlebih jika praktik land monopoly itu tidak kunjung mencapai titik henti. Salah satu pekerjaan rumah terbesar bagi para pemangku kebijakan untuk perlu menyadari bahwa pentingnya keseimbangan antara aktivitas ekonomi dengan keadaan lingkungan sehingga meminimalisir kerugian dalam bidang kesehatan maupun ekosistem.

Apalagi jika berangkat dari sebuah tema besar tentang “perubahan iklim“, di mana hutan memiliki andil besar untuk memperlambat krisis nyata ini, namun faktanya justru luas hutan Indonesia kini dari tahun ke tahun kian menyusut. Tentu saja salah satu penyebabnya adalah karena kian maraknya praktik deforestasi oleh para pelakon industri, utamanya oleh korporasi sawit.

Sawit memang merupakan salah satu motor penggerak ekonomi, makanya tidak heran jika sempat ramai beredar kampanye #SawitBaik—meski menurut sudut pandang saya itu hanya sebuah konspirasi untuk menggiring opini. Namun kini kita semua tahu, dari kasus karhutla ini sendiri, sawit tidak selalu baik. Banyak saudara-saudari kita yang menderita karena sawit, bahkan sekedar untuk bebas bernafas saja sulit.

READ  STOP Kebakaran Hutan dan Lahan, Indonesia Bukan Pabrik Asap

Ah, ya … bernafas. Bukankah bernafas merupakan hak yang paling asasi yang dimiliki setiap manusia yang hidup di muka Bumi?

Saya sendiri sudah sekuat tenaga mencoba agar tidak sampai nyinyir, tapi apalah daya diriku yang manusia biasa ini. Setiap kali menjumpai kabar terkini tentang karhutla dan dampaknya yang semakin menjadi, kemarahanku meluap tanpa ku sadari, walau pada akhirnya kalah oleh kesedihan yang menusuk hati. Coba bayangkan, bagaimana kalau kita yang berada di sana? Apa yang akan kita lakukan? Tentu saja jawabannya tidak akan semudah “tinggal ke Thailand dulu ah” dan semacamnya, karena ada hal-hal yang tidak bisa kita tinggalkan begitu saja. Bahwa ada alasan kuat yang membuat kita harus bertahan.

Pertiwi yang Sekarang Butuh Bantuan Kita

Jika bait lirik lagu “Ibu Pertiwi” yang dituliskan di awal menjadi perwakilan dari situasi dan kondisi Pertiwi yang sekarang, maka bait lirik lanjutannya (mestinya) dapat menjadi pengingat bagi kita semua.

Kulihat Ibu Pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan Ibu

Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa

Saya yakin kita semua sadar, jikalau hanya dengan nyinyir, mengumpat, dan saling melempar kesalahan itu tidak akan membantu meringankan beban saudara-saudari kita yang ada di Riau dan Kalimantan. Harus ada aksi yang nyata!

Memang, mungkin sebagian besar dari kita tidak bisa pergi ke lokasi kejadian untuk membantu memadamkan kebakaran yang ada, tetapi masih ada bantuan penting lainnya yang bisa kita berikan untuk saudara-saudari kita di Riau dan Kalimantan. Kita masih bisa berdonasi untuk segala keperluan darurat yang sangat dibutuhkan oleh para korban karhutla.

Pertiwi yang Sekarang Butuh Kita

Dan kalaupun tidak bisa membantu dengan tenaga maupun dana, setidaknya kita masih bisa berdoa.


Kemanusiaan telah memanggil, inilah misi besar kita bersama. Mari bersama-sama bergandengan tangan untuk menjaga dan merawat Ibu Pertiwi kita.

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *