Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Tentang Nuzulul Qur’an: Proses Turunnya Al-Qur’an ke Marcapada [#9]

5 min read

Tentang Nuzulul Qur'an, Proses Turunnya Al-Qur'an ke Marcapada

Sebelumnya, ada beberapa pertanyaan tentang Nuzulul Qur’an. Yang pertama, apa arti Nuzulul Qur’an?

Ya, secara bahasa Nuzulul Qur’an berarti turunnya Al-Qur’an.

Selanjutnya, kapan turunnya Al-Qur’an?

Sebagian besar dari kita menjawab Al-Qur’an turun di bulan Ramadhan, sepakat? Ya, anggap saja kita sepakat dengan jawaban ini, Al-Qur’an turun di Bulan Ramadhan.

Lalu, tanggal berapa? Malam 17 Ramadhan? 

Ya, mayoritas Muslim di Indonesia memperingatinya pada tanggal tersebut. Begitu pula di tempat saya (Jepara). Itu berarti Nuzulul Qur’an tahun ini akan jatuh pada tanggal 22 Mei 2019. Silahkan jika ingin melingkari tanggal tersebut di kalender.

Lalu, apa itu Lalilatul Qadar?

Saya yakin pembaca sekalian tahu apa itu Lailatul Qadar. Dan saya yakin, bahwa sekarang ada yang mengganjal dalam benak pembaca sekalian mengenai pertanyaan ini: Jelas-jelas dari judulnya sudah menunjukkan kalau topik yang akan dibahas dalam artikel ini adalah Nuzulul Qur’an, tetapi ada pertanyaan yang menghubung-hubungkannya dengan Lailatul Qadar.

Lantas apa hubungannya Nuzulul Qur’an dengan Lailatul Qadar?

Adakah yang bertanya-tanya mengenai hal ini? Jika ya, simak penjelasan berikut:

Seperti yang telah kita ketahui, Allah SWT telah menyebutkan (di dalam QS. 97:1-5 dan QS. 44:3) bahwa turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) ada di malam Lailatul Qadar—untuk lebih jelasnya dan supaya tahu seperti apa benang merahnya bisa dibaca dalam artikel yang sebelumnya tentang Lailatul Qadar.

Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah Nuzulul Qur’an yang telah disepakati jatuh pada 17 Ramadhan itu merupakan malam Lailatul Qadar?

Bukan? 

Nah, lantas bagaimana Nuzulul Qur’an itu di 17 Ramadhan?

*Sungguh, ini bukan untuk menyulut kontroversi maupun perdebatan, tapi murni untuk belajar … karena saya ingin pembaca sekalian paham—

—jangan menjadi umat yang hanya ikut-ikutan tapi tidak mengerti. [Syekh Ali Jaber]

Itulah gunanya belajar. Jadi, mari belajar bersama ….

Jadi, Nuzulul Qur’an itu Jatuh pada 17 Ramadhan atau Lailatul Qadar?

Berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh Syekh Ali Jaber, harus dibedakan antara Nuzulul Qur’an di malam Lailatul Qadar dengan Nuzulul Qur’an di malam 17 Ramadhan. Maksudnya bagaimana? Bahwa Nuzulul Qur’an (turunnya Al-Qur’an) ini sendiri prosesnya terdiri dari dua tahap:

Proses Turunnya Al-Qur’an ke Marcapada (Dunia)

Tahap yang Pertama yaitu Lailatul Qadar

Hal ini telah disebutkan dalam Surat Al-Qadr ayat 1, bahwa:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” [QS. 97:1]

Pada tahap yang pertama ini Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT secara keseluruhan, yaitu pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar)—secara keseluruhan, total 30 Juz turun.

Hal ini telah dijelaskan oleh Abdullah Ibnu Abbas RA dalam tafsirnya, bahwa Allah SWT menurunkan Al-Qur’an seluruhnya, yaitu dengan jumlah total 30 Juz, dalam secara sekali turun pada malam kemuliaan yaitu malam Lailatul Qadar. Jadi memang benar dan jelas sekali bahwa Al-Qur’an itu diturunkan pada Malam Lailatul Qadar.

Turunnya kemana? Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari langit ke-7, dari tempat yang bernama Lauhul Mahfudz, diturunkan hingga ke langit yang paling bawah (langit pertama atau langit dunia) di suatu tempat yang bernama Baitul Izzah. Kemudian dari Baitul Izzah ke Bumi, diturunkan secara bertahap-tahap—inilah tahap yang kedua.

Tahap yang Kedua yaitu dari Baitul Izzah ke Bumi

Yang sudah disepakati oleh para Ulama’ dan semua umat Muslim di dunia, adalah bahwa ayat yang pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah “iqra` bismi rabbikalladżī khalaq”. Semua sepakat bahwa wahyu yang pertama kali turun adalah surat Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5.

READ  Menggapai Lailatul Qadar, Malam Seribu Bulan [#7]

Kita semua juga mengetahui bagaimana kisahnya saat wahyu ini diturunkan, yaitu ketika Rasulullah SAW sedang berada di Gua Hira, kemudian tiba-tiba Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu tersebut.

Tapi … tapi muncul perbedaan pendapat: Kapan waktu atau tanggal tepatnya kejadian tersebut? Kapan tepatnya Al-Qur’an itu turun ke bumi?

Nah! Kalau tahap yang pertama, yang dari langit ketujuh sampai ke langit paling bawah, kita semua sudah jelas. Hubungannya dengan Lailatul Qadar juga kita sudah paham ceritanya. Sudah paham, kan? Tapi yang dari Baitul Izzah ini, yang dari langit pertama ke bumi, turunnya kapan? Di sinilah terdapat perbedaan.

Ada yang berpendapat itu tetap di malam Lailatul Qadar. Ada yang bilang tanggal 8 atau 18 Rabiul Awal (menurut riwayat Ibnu Umar). Ada yang bilang tanggal 17 atau 27 bulan Rajab (menurut riwayat Abu Hurairah). Ada yang bilang itu di 17 Ramadhan, yang juga merupakan tanggal terjadinya sebuah peristiwa besar dalam sejarah umat Islam, Perang Badar—karena di dalam Surat Al-Anfal ayat 41 disebutkan bahwa:

“Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan.” [QS. 8:41]

Yang berdasarkan tafsir al-Jalalain dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan yang “diturunkan” oleh Allah SWT adalah malaikat dan ayat-ayat (Al-Qur’an), yaitu di hari Furqan yang berarti pada perang Badar, karena di dalam perang tersebut dipisahkan antara perkara yang hak dan yang batil yaitu di hari bertemunya antara dua pasukan—kaum muslimin dengan kaum musyrikin.

Atas dasar yang diperkuat oleh ayat di atas pula lah yang melatarbelakangi kenapa sebagian besar dari umat Muslim memperingati Nuzulul Qur’an pada malam atau hari ke-17 Ramadhan, seperti halnya yang banyak ditemui di negeri pertiwi kita ini. Seperti itu.

Dan, dari semua perbedaan tentang ‘kapan waktu atau tanggal tepat’ turunnya Al-Qur’an ke Bumi Manusia ini, yang perlu digarisbawahi, bahwa tidak ada satupun tanggal pasti yang disepakati oleh para Ulama’.

Ini berarti, kalau pun ada yang memperingati malam Nuzulul Qur’an selain pada tanggal 17 Ramadhan, bukan berarti itu salah, karena pada dasarnya memang tidak ada kesepakatan tentang tanggal pastinya. Jadi jelas, ya?

Cara Meperingati Nuzulul Qur’an

Umat Islam di seluruh dunia memperingati Nuzulul Qur’an ini dengan mengadakan berbagai macam kegiatan, begitu pula di Indonesia yang kaya akan khasanah budayanya.

Tapi pernahkah di antara kita ada yang bertanya tentang bagaimana cara Rasulullah SAW, para Sahabatnya, dan para Ulama’ di masa lalu dalam merayakan Nuzulul Qur’an? Hmm. Penasaran?

Cara Rasulullah SAW Memperingati Nuzulul Qur’an

Dari Abdullah Ibnu Abbas RA yang mengatakan bahwa:

“Malaikat Jibril selalu bertemu dengan Rasulullah SAW pada setiap malam Ramadhan untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an bersama.” [HR. Bukhari]

Begitulah cara Rasulullah SAW menghabiskan malam-malam Ramadhan-nya, dengan belajar dan membaca Al-Qur’an dengan malaikat Jibril. Dan sepertinya itu tidak cukup bagi Rasulullah, bahwa ia masih perlu membaca Al-Qur’an di dalam doanya. Tahukah kamu, berapa banyak, dan berapa lama beliau melafalkannya dalam doanya?

Dari Hudzaifa RA yang bercerita tentang pengalamannya melakukan sholat malam dengan Rasulullah SAW:

READ  Keutamaan Bulan Suci Ramadhan

“Suatu malam Ramadhan, saya berdoa dengan Rasulullah SAW di sebuah ruangan kecil yang terbuat dari daun palem. Dia mulai dengan membaca takbir, dan kemudian membaca: ‘Allahu akbaru dzuljabbaruuti wal malakuuti, wa dzulkibriyaa-i wal ‘adhlomah.’

“Setelah itu, beliau mulai membaca Surat Al-Baqarah. Begitu sampai pada ayat yang ke-100, saya pikir beliau akan berhenti, tetapi ternyata beliau terus melanjutkan bacaannya.”

“Begitu pada ayat yang ke-200, sekali lagi saya berpikir bahwa beliau akan berhenti, tetapi beliau terus membaca sampai akhir Surat Al-Baqarah, dan melanjutkan dengan membaca Surat Ali Imran sampai akhir. Kemudian beliau melanjutkan bacaannya dengan Surat An-Nisa’ sampai akhir.”

“Dan setiap kali beliau melewati sebuah ayat yang berisi tentang hal-hal yang mengerikan, beliau berhenti sebentar untuk berdoa memohon perlindungan …. Dari setelah sholat Isya’ di awal malam hingga akhir, ketika Bilal mengatakan kepadanya bahwa waktu shalat Subuh telah tiba, beliau hanya shalat empat rakaat.” [HR. Ahmad & al-Hakim]

Demikianlah cara Rasulullah SAW dalam merenungkan Kitab Suci Al-Qur’an di bulan Ramadhan, beliau membacanya dengan apresiasi mendalam akan maknanya. Beliau tidak hanya mempelajarinya, tetapi juga sering membacanya dalam doa-doanya, sampai-sampai dalam satu rakaat beliau membaca Surat Al-Baqarah, Ali Imran, dan An-Nisa’, atau lebih dari itu. Dan demikianlah cara beliau memperingati Nuzulul Qur’an.

Lalu, seperti apa yang dilakukan para oleh Ulama’ di masa lalu?

Cara Ulama’ Memperingati Nuzulul Qur’an

Imam Syafi’i menyelesaikan bacaan Al-Qur’an sekitar enam puluh kali dalam setiap Ramadhan. Semua waktunya dihabiskan dengan membaca dan memikirkan Al-Qur’an.

Al-Aswan An-Nakha’i menyelesaikan pembacaan Al-Qur’an setiap dua malam.

Qatadah As-Sadusi memiliki kebiasaan menyelesaikan bacaan sekali dalam tujuh hari. Tetapi ketika Ramadhan tiba, ia menyelesaikannya sekali dalam tiga hari. Dan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, ia menyelesaikannya sekali dalam semalam.

Begitulah contoh Ulama’ terdahulu dalam memperingati Nuzulul Qur’an. Dan merekalah golongan orang yang disebutkan dalam Surat Az-Zumar ayat 23:

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” [QS. 39:23]

Serta yang telah disebutkan dalam Surat Al-Anfal ayat 2-4:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” [QS. 8:2-4]

Subkhanallah ….

Jadi, bagaimana cara terbaik dalam memperingati Nuzulul Qur’an? Yakni dengan membaca dan mempelajari Al-Qur’an itu sendiri. Atau adakah cara yang lebih baik dari ini?

Dan Allah SWT tahu apa yang terbaik.


Referensi:

Tafsir Ibnu Abbas. Pustaka Azzam.
Syekh Ali Jaber. Nuzulul Qur’an 17 Ramadhan atau Lailatul Qadar?
Admonition of Ramadan: How do we Celebrate the Nuzulul Qur’an? 
Risalah Muslim: Qur’an, Terjemahan, dan Tafsir. 

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *