Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Puncak 29 dan Filosofi Spiritual Jawa

4 min read

Puncak 29 dan Filososi Spiritual Jawa

Pandita.ID – Ada yang mengganjal dalam hatiku selama mendaki Puncak 29 (Sapta Rengga), terutama atas keberadaan petilasan-petilasan yang kutemui dalam pendakian.

Perasaan mengganjal itu mula-mula muncul ketika kami bertiga mesti break sejenak di Pos 4 Sendang Bunton. Di salah satu tempat yang disakralkan itu, selain terdapat makam Mbah Bunton dan mata air Sendang Bunton yang menyegarkan, di sana juga terdapat sebuah petilasan yang diyakini sebagai petilasan Eyang Arjuna.

Memang, kami bertiga sedari awal sudah sedikit-banyak mengetahui kalau dalam perjalanan dan pendakian kami itu kami akan sering menemui keberadaan petilasan-petilasan “Para Suci” yang oleh warga sekitar dinamai dengan sebutan “Eyang”. Terutama di Puncak 29, di mana di sana terdapat petilasannya tokoh Pandawa Lima. Jadi kami tidak kaget dengan hal itu.

Namun, ketika kami berada di Pos 4 Sendang Bunton yang lokasinya berdampingan dengan petilasan Eyang Arjuna, aku mulai berdialog sendiri dalam hatiku: “Kalau tempat yang di sana itu petilasannya Eyang Arjuna (yang mana adalah Pandawa nomor tiga), lantas di mana letak petilasannya Eyang Nakula dan Eyang Sadewa? Apakah sudah terlewat di bawah tadi?”

Jadi, sebelumnya aku mengira kalau petilasannya tokoh Pandawa itu akan berurutan dari bawah dengan ditempati oleh yang termuda, yakni dimulai dari Nakula, Sadewa, Arjuna, Bima, kemudian sampai ke tokoh Pandawa yang tertua, Puntadewa atau Yudistira.

Tapi … nyatanya petilasan tokoh Pandawa Lima yang pertama kami temui. Aku pun sampai bertanya ke Umam yang sudah pernah mendaki Puncak 29 sebelumnya, dan memang benar kalau petilasan Eyang Arjuna inilah petilasan pertama dari tokoh Pandawa Lima yang kami temui. Selainnya ada di atas lagi.

Hmm. Okelah, mungkin lokasi petilasan mereka memang tidak berurutan.

Dan, ya! Semakin ke atas, petilasan selanjutnya yang kami temui adalah petilasannya Eyang Puntadewa yang berdampingan dengan petilasan Eyang Pandu (Ayah Pandawa). Kemudian semakin naik lagi ke atas, ketika trek sudah menemui bukaan gersang dengan medan yang semakin curam dan banyak bebatuan besar, kami menemui petilasan Eyang Nakula dan Eyang Sadewa yang lokasinya sedikit di bawah puncak.

Setelah melewati jalur dengan kemiringan yang semakin ekstrim, tibalah kami di puncaknya Sapta Rengga, Puncak 29. Di lokasi Puncak 29 yang terbuka ini kembali terdapat sebuah petilasan, yakni petilasan Eyang Sang Hyang Wenang (Wening). Dan berjalan lagi ke ujung timur, dengan ketinggian yang sedikit lebih rendah, terdapat petilasan Eyang Semar yang juga disebut dengan nama Pesanggrahan Klampis Ireng.

Tentu saja kami bertiga merasa berbungah hati karena sudah berhasil sampai di Puncak 29 dengan lancar dan selamat. Tapi, dalam hati masih saja ada sesuatu yang mengganjal … dan semakin menjadi. Beruntung, perhatianku teralihkan begitu letih dan rasa lapar yang kurasakan telah sampai pada puncaknya. Isi bahan bakar dulu, baru setelah itu kembali ke perihal yang mengganjal di hati.

….

Di bawah guyuran sinar Rembulan yang terang benderang, aku kembali mencoba untuk mengurai satu persatu hal-hal yang mengganjal hatiku yang mengarahkan pada pertanyaan-pertanyaan seperti: Kenapa semenjak awal perjalanan seolah-olah aku dibuat terus berpikir dan merasa? Ada apa sebenarnya dengan perjalanan ini? Ada apa sebenarnya dengan pendakian ini? Dan ada apa sebenarnya dengan Sapta Rengga ini? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sebenarnya membuatku tak kunjung jua terlelap tidur seperti Umam dan Zadit.

READ:  Cerita Kelana: Mendaki Puncak 29 (Sangalikur) Sapta Rengga Muria

Dan puji syukur, berkat ketentraman dan damainya malam yang diberkati oleh kasih-Nya itu aku tersadar; ada pelajaran-pelajaran bermakna yang di sampaikan ke siapa saja yang mendaki Sapta Rengga. Terutama dari keberadaan petilasan-petilasan tokoh pewayangan yang ada di Puncak 29.

Makna Filosofis dari Hakikat Adanya Petilasan-Petilasan Tokoh Pewayangan di Puncak 29

Jika ditarik benang merahnya, singkatnya akan jadi seperti ini ….

Di puncak tertinggi dari Gunung Sapta Rengga (Puncak 29) terdapat petilasan Eyang Sang Hyang Wenang (Wening). Tempatnya gersang dan tidak ada apa-apa alias sepi atau suwung (tan kena kinayangapa). Lalu di ujung timur dengan ketinggian sedikit di bawahnya ada Pesanggrahan Klampis Ireng, petilasan Eyang Semar (Bathara Ismaya). Turun ke bawah lagi dari puncak, ada petilasan Eyang Nakula dan Eyang Sadewa. Ke bawah lagi, ada petilasan Eyang Pandu dan Eyang Puntadewa. Dan turun lagi ke bawah, ada petilasan Eyang Arjuna.

*Para tokoh di atas merupakan simbol personifikasi manusia titisan dewa yang watak dan hidupnya selalu menjalankan “laku dharma” atau mengejarkan “laku hidup” yang religius.*

Dan seperti yang telah aku ceritakan di awal, yang menjadi awal perenunganku yaitu; kenapa Arjuna, putera Pandu (Pandawa) yang ketiga, petilasannya berada di paling bawah jika dibandingkan dengan petilasan-petilasan saudaranya? Apalagi jika dibandingkan dengan petilasannya Nakula dan Sadewa yang ada jauh di atas ketinggian ….

Jadi, dari sini ada pelajaran penting yang coba disampaikan kepada kita semua; bahwa sejatinya derajat manusia di hadapan Tuhannya tidak diukur dari pangkat kedudukan, ketenaran, maupun kedigjayaan, melainkan dari laku hidup dan kedekatannya dengan Sang Khaliq.

Ambil contoh saja dari sosok Arjuna, siapa yang tak mengenalnya? Tak hanya dikaruniai tampang yang rupawan, dia juga merupakan sosok kesatria yang berbudi luhur. Memang, semasa hidupnya dia kerap menyepi demi tujuan mulia sehingga di ujung kehidupannya mendapat julukan Begawan Ciptaning. Namun terlepas dari hal itu, semasa hidupnya Arjuna juga sering dilingkupi dengan peperangan (karena kesaktiannya) dan wanita (karena ketenaran dan parasnya). Dari letak petilasan Arjuna yang berada di kaki gunung itulah ditujukan sebuah pelajaran kepada kita; bahwa agar dapat dekat dengan Sang Pencipta, kita harus terlebih dahulu menjauhi segala hal yang lekat dengan unsur keduniaan. Itulah langkah awal untuk menjadi manusia yang sempurna.

Menjadi manusia yang sempurna. Ya! Kita tentu akan bertanya, “bagaimana caranya agar bisa menjadi manusia yang sempurna?” Dari pendakian menggapai Puncak 29 ini jawabannya ada setelah berjalan lebih ke atas, yakni melalui makna filosofis yang disimbolkan oleh petilasan Puntadewa, Nakula dan Sadewa.

Dalam cerita pewayangan, Puntadewa, Nakula dan Sadewa adalah tiga satria Pandawa yang (bisa dibilang) tidak pernah berperang. Puntadewa merupakan simbol dari Kesabaran, sedang Nakula adalah simbol Kecerdasan, dan Sadewa adalah simbol dari Kebijaksanaan.

Bahkan, diceritakan bahwa Sadewa adalah satu-satunya orang yang mampu meruwat Bathari Durga (istri Bathara Guru) yang berwatak serba jahat sehingga kembali menjadi Bethari Uma yang walas asih. Jadi tidak heran jika lokasi petilasan Nakula dan Sadewa berada di bawah petilasan Sang Hyang Wenang (Wening), yang mana merupakan salah satu nama dari sesembahan atau realitas tertinggi di Jawa.

READ:  Kisah di Balik Lahirnya Roman Tetralogi Buru yang Fenomenal

Dan jangan lupa atas keberadaan petilasan Semar (Bathara Ismaya), yang mana merupakan emanasi awal dari Sang Hyang Wenang. Lokasi petilasan Semar yang berada di puncak ketinggian melambangkan bahwa kesempurnaan manusia di hadapan Tuhan adalah berdasarkan pada kesadarannya akan “sejatinya hidup” (Jawa: sejatining urip), yang merupakan gabungan dari laku hidup Puntadewa (sabar), Nakula (pandai), dan Sadewa (bijaksana).

Dari sosok Semar juga kita jadi tahu bahwa sesungguhnya dewa-dewa juga mengemban titah dari Yang Maha Kuasa. Sama halnya dengan manusia, dewa juga mempunyai kewajiban untuk ikut terlibat dalam mengatur keharmonisan dunia (memayu hayuning bawana).

Begitulah pemaknaan filosofis versiku tentang hakikat adanya petilasan-petilasan tokoh pewayangan di Puncak 29. Dan setelah bercerita tentang hal-hal yang berkaitan dengan Puncak 29, sulit rasanya untuk mengesampingkan Puncak Natas Angin (Sapta Arga) karena memang memiliki kaitan yang erat antara keduanya—next post, Insya Allah.

Dan sebelum tulisan ini berakhir, masih ada satu hal lagi yang terlewatkan. Bisa dibilang kalau hal inilah yang paling mengganjal selama pendakian itu. Terlebih saat aku terhanyut dalam perenungan ketika berada di Puncak, “di mana petilasannya Bima?” Dari kelima kesatria Pandawa, hanya Bima yang tak kutemui petilasannya di gunung ini.

Esoknya, selama perjalanan turun pun tak kunjung jua kutemui petilasannya Bima. Aku tanya Umam, dia tak begitu tahu tentang cerita wayang dan meyakinkanku kalau tidak ada petilasan lain selain yang telah kami temui. Aku tanya Zadit, dia malah baru sadar dan malah berbalik tanya kepadaku. Hmm.

Selama perjalanan turun itu pun aku terus mengawasi kanan dan kiri dengan harapan siapa tahu ada punden atau tumpukan batu yang bisa aku asumsikan sebagai petilasannya Bima. Tapi apa boleh buat, hingga kami bertiga tiba di lokasi parkiran pun tak kunjung ketemu juga. Yah … sudah saatnya pulang.

Sebelum berangkat pulang, di sela menunggu mesin sepeda motor kami siap untuk digas, aku sempatkan untuk sekali lagi melihat lagi wujud gunung yang telah kudaki. Indah. Tapi juga kokoh dan gagah perkasa di saat yang sama. Di saat itulah aku baru teringat, Bima adalah seorang kesatria yang memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya (sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya).

Meski perawakannya besar dan garang, tetapi gemar menolong orang. Meski bicaranya tak pernah menggunakan bahasa halus, tetapi kata yang keluar dari mulutnya adalah kejujuran. Tanpa tedeng aling-aling, ibarat kata “ini dadaku, mana dadamu”, tak pernah bersandiwara. Hidupnya adalah untuk mengabdi kepada orang tua, guru, dan rakyat (negara).

Bima adalah kesatria yang menopang saudara-saudaranya. Gunung Sapto Renggo (Puncak 29) adalah petilasannya.

0
Ahmad Ali Buni
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *