Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

RA Kartini, Tokoh Emansipasi Wanita Indonesia Pertama

3 min read

RA Kartini, Tokoh Emansipasi Wanita Indonesia Pertama

Dia kerap disebut sebagai Sang Pencerah. Pembela kaumnya untuk merdeka dari kedudukan yang paling rendah. Seorang tokoh pelopor emansipasi wanita Indonesia pertama.


Pandita.ID – Raden Ajeng Kartini atau yang lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini (lahir di Mayong, Jepara, pada tanggal 21 April 1879, dan wafat pada 17 September 1904 di Rembang) adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan wanita pribumi.

Sekilas Tentang RA Kartini

RA Kartini lahir dari keluarga Jawa yang aristokrat. Ayahnya adalah Raden Mas Adipati Arya Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama MA Ngasirah, putri dari Kyai Haji Madirono (seorang guru agama di Telukawur, Jepara) dan Nyai Haji Siti Aminah. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Ayah RA Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong, Jepara. Karena ibunya, MA Ngasirah bukan seorang bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura—peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristrikan seorang bangsawan (pada masa itu poligami adalah praktik yang umum di kalangan bangsawan). Setelah perkawinan itu, maka ayah RA Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung RA Woerjan, RAA Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri—dia merupakan anak perempuan tertua dari kesemua saudara kandungnya.

Selama periode itu, perempuan menerima sedikit atau tidak sama sekali pendidikan. Tetapi karena merupakan putri seorang bangsawan, Kartini diperbolehkan untuk bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usianya menginjak 12 tahun, ayahnya melarang dia melanjutkan studinya karena tradisi: Seorang gadis bangsawan tidak diizinkan memiliki pendidikan tinggi, dia harus dipingit di rumah. Ini adalah praktik umum di kalangan bangsawan Jawa untuk mempersiapkan gadis-gadis muda untuk pernikahan mereka. Gadis-gadis itu tidak diizinkan keluar sama sekali sampai mereka menikah, ketika wewenang atas mereka dialihkan kepada suami mereka.

READ  Meneruskan Tongkat Estafet & Nyala Pelita Mbah Moen

Namun hal itu tidak mengehentikan semangatnya. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka dalam menjalani masa pingitannya, ia mulai belajar sendiri di rumah dan mulai berkorespondensi dengan teman-teman pena di Belanda. Salah satu teman pena, Rosa Abendanon, adalah pendukung dekatnya.

Dalam suratnya, Kartini selalu membahas masalah-masalah feminis dan mengungkapkan mimpinya tentang kesetaraan antara pria dan wanita di negerinya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbullah keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Dia bertekad untuk meningkatkan pendidikan kaumnya.

Kartini kadang-kadang mendiskusikan masalah tersebut bersama pasangan Belanda, keluarga Ovink, yang kagum dengan kefasihan Kartini dalam bahasa Belanda. Kartini punya buku untuk dibaca dari Ny. Ovink dan mulai berkorespondensi dengan teman-teman pena di Belanda.

Kemudian, Kartini bersikeras untuk melanjutkan studinya meskipun ayahnya tidak menyetujuinya. Kartini kemudian menulis surat kepada Direktur Pendidikan dan Kebudayaan untuk meminta beasiswa untuk belajar di Belanda. Tuan JH Abendanon mengiriminya jawaban yang sangat menjanjikan. Kartini mendapatkan beasiswa.

Namun, Kartini tidak memiliki kesempatan untuk menggunakan beasiswa karena orang tuanya menikahkannya dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah memiliki tiga istri. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan sensibilitas Kartini, tetapi dia akhirnya setuju untuk menyenangkan ayahnya yang sakit. Setelah menikah Kartini mengikuti suaminya ke Rembang Jawa Tengah.

Sang suami mengerti apa keinginan Kartini.  Diberikannya Kartini kebebasan seperti belajar di rumah dan melanjutkan korespondensinya dengan teman-teman Belanda dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Dalam pernikahannya tersebut, Kartini beserta suami dikaruniai seorang putra, Raden Mas Soesalit, yang lahir pada 13 September 1904. Sayangnya, Kartini wafat beberapa hari kemudian pada 17 September 1904 di usia 25 tahun. Ia dimakamkan di Desa Bulu, Rembang Jawa Tengah.

READ  Biografi Sang Maestro Pramoedya Ananta Toer

Untuk menghormati upaya dan kegigihan Kartini, sebuah sekolah untuk wanita dibangun oleh Yayasan Kartini di Semarang pada tahun 1912, yang diikuti oleh sejumlah sekolah di Yogyakarta, Surabaya, Malang, Madiun, Cirebon, dan kota lainnya. Nama sekolah tersebut adalah Sekolah Kartini. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Pada 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 dan menetapkan hari lahir Kartini sebagai Hari Nasional Indonesia (21 April, Hari Kartini).

Motor Gerakan Emansipasi Wanita

Mengutip dari buku karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Sang Pemula, di buku tersebut diuraikan bahwa emansipasi wanita Indonesia merupakan gerak sosial yang jadi penunjang dan sekaligus bagian yang ikut menentukan dalam Periode Kebangkitan Nasional pada sekitar abad 20.

Perlu digarisbawahi, emansipasi yang dimaksud di sini tidak hanya terbatas pada usaha mendapatkan hak-hak sederajat dengan kaum pria sebagaimana yang terjadi di Eropa pada kurun waktu yang hampir bersamaan, tetapi lebih banyak merupakan gerakan untuk mendapatkan faal sosial lebih banyak daripada yang selama itu dimungkinkan oleh sistem keluarga yang berlaku.

Dan dari semua itu, RA Kartini muncul sebagai tokoh emansipasi wanita Indonesia pertama. Khususnya karena pada sekitar pergantian abad, kurang-lebih 15 tahun sebelum terbit kumpulan suntingan surat RA Kartini oleh JH Abendanon yang berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), RA Kartini telah berkali-kali menerbitkan tulisannya di beberapa media cetak belanda.

Tidak hanya itu saja, dari tulisan dan buah pemikiran, dari pergerakan yang telah dilakukannya, dan semua amalnya dalam meningkatkan faal sosial kaumnya, RA Kartini adalah ibu spiritual gerakan emansipasi wanita.


Dialah Sang Pencerah, ibu spiritual gerakan emansipasi wanita.

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *