Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Ramadhan, Bulan Limpahan Kasih Sayang: Momen Tepat untuk Membina Sifat Kasih Sayang [#4]

4 min read

Ramadhan, Bulan Limpahan Kasih Sayang: Momen Tepat untuk Membina Sifat Kasih Sayang

Kuliah Subuh Ramadhan # oleh Drs. H. Moh. Isa Anwari Bah


Seperti yang kita ketahui, kasih sayang dan rahmat Allah SWT berlimpah selama bulan Ramadhan. Pintu-pintu rahmat-Nya terbuka lebar dan pintu-pintu kemurkaan-Nya tertutup rapat. Setan yang menjadi simbol perusak dan pengganggu ketenteraman dan kasih sayang antar manusia, dibelenggu dengan erat di neraka.

Kondisi telah dibuat sedemikian rupa, sehingga kaum Muslim dapat menumbuhkan dan menyuburkan rasa kasih sayang antar mereka, khususnya orang-orang yang butuh bantuan dan ditimpa kemalangan dari orang-orang yang beriman.

Kasih sayang antar sesama umat Islam dan orang-orang yang beriman merupakan salah satu faktor penting dalam kesempurnaan iman. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak akan beriman seorang dari kalian, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya (yang beriman) sebagaimana apa yang dicintai untuk dirinya sendiri.” [HR. Bukhari & Muslim]

Rasulullah SAW telah memberikan perumpamaan tentang cinta kasih sayang antara orang beriman laksana sebatang tubuh yang saling bertenggang rasa, saling menopang, saling mengasihi dan berbagi rasa. Beliau bersabda:

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta dan kasih sayang mereka adalah laksana sebatang tubuh, di mana bila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan kesulitan tidur.” [HR. Muslim]

Bahkan kasih sayang antara umat Muslim merupakan salah satu karakter dan sifat pokok atau utama yang ditetapkan oleh Allah SWT atas umat baginda Rasul Muhammad SAW. Sifat ini sangat dipuji oleh Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Fath ayat 29, yang artinya:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” [QS. al-Fath; 29]

Di bulan suci Ramadhan, rasa kasih sayang dan cinta antara umat Islam sangat tepat untuk disemai dan dipupuk kembali sehingga tumbuh subur dan bersemi. Kasih sayang itu berupa segala macam bentuk kebaikan dan pembelaan terhadap sesama mukmin. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang menutup aib saudaranya yang muslim di dunia, maka Allah SWT akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang membantu menyelesaikan masalah yang menghimpit saudaranya (yang beriman) di dunia, maka Allah SWT akan menyelesaikan masalah yang menghimpitnya pada hari kiamat. Dan Allah SWT pasti menolong seorang hamba, selama hambanya menolong saudara (yang beriman).” [HR Muslim]

Membina Sifat Kasih Sayang

Teladan dari Para Nabi dan Rasul yang Menggembala Kambing

Rasulullah SAW memberikan contoh dan keteladanan berkenaan dengan kasih sayang. Tentu saja kita semua tahu bahwa Rasulullah SAW sendiri adalah sosok yang penuh dengan kasih sayang. Bahwa sifat kasih sayang telah terbina dalam dirinya sejak beliau masih muda.

READ  Langkah Membiasakan Diri dengan Al-Qur'an [#6]

Di antara faktor yang sangat berpengaruh dalam menunjukan sifat kasih sayang dalam diri beliau adalah kecintaan dan kasih sayang terhadap binatang, khususnya terhadap kambing yang beliau gembala.

Beliau bahkan menyebutkan bahwa tidak ada seorang Nabi dan Rasul pun di muka bumi ini yang diutus oleh Allah SWT melainkan pernah menggembala kambing: Termasuk Rasulullah SAW sendiri pun pernah menggembala kambing beberapa tahun (ketika masih remaja).

Dan mungkin beberapa di antara kita kemudian bertanya-tanya, lantas apa hubungan menggembala kambing dengan kasih sayang?

Hikmah yang tersirat dalam aktivitas menggembala kambing adalah bahwa Allah SWT menguji dan mendidik mental para Nabi dan Rasul agar bersabar dan bersifat kasih sayang terhadap binatang, sehingga mereka lebih bisa mencintai dan lebih menyayangi manusia, umatnya, dan sesama makhluk Allah yang lainnya.

Teladan dari Sahabat Rasul

Dalam praktik para Sahabat saja dapat kita simpulkan; betapa serius mereka dalam membina kasih sayang itu dalam diri mereka, dengan berusaha melayani sesama saudara. Betapa menakjubkan gambaran kasih dan cinta yang terjalin antara para Sahabat Anshor terhadap kaum Muhajirin. Sebagaimana Allah SWT menyatakan dalam firman-Nya, dalam surat al-Hasyar ayat 9, yang artinya:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan  (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [QS. al-Hasyar; 9]

Oleh karena itu dalam potret diri Umar bin Khattab RA, salah satu Sahabat terdekat baginda Rasul yang juga seorang khalifah yang sangat bijak dan mengasihi rakyatnya, kita temukan beberapa riwayat tentang cintanya terhadap rakyatnya:

Dari Anas bin Malik RA diriwayatkan; bahwa Umar bin Khattab RA, pada satu malam sedang  keliling melakukan ronda. Dia melewati sekelompok orang yang mampir untuk menginap (di kota Madinah). Dia sangat khawatir dan takut ada orang yang mencuri barang-barang mereka.

Kemudian Sahabat Umar RA mendatangi Abdurrahman bin Auf RA yang kaget dan bertanya, “apa yang membuat Anda datang pada larut malam seperti ini, wahai Amirul Mukminin?”

Dia menjawab, “aku  melewati sekelompok orang yang mampir. Naluriku berkata, bila mereka bermalam dan tidur, aku takut mereka akan kecurian. Maka ikutlah denganku agar kita menjaganya malam ini.” Keduanya pun bertolak.

READ  Makna, Keutamaan, dan Hukum Puasa Ramadhan

Kemudian keduanya duduk di dekat orang-orang itu semalaman suntuk—untuk menjaganya—hingga ketika melihat subuh telah tiba, Sahabat Umar bin Khattab RA berseru, “Wahai orang-orang, shalat subuh … shalat subuh …,” berkali-kali. Setelah melihat mereka telah bergerak dan bangkit dari tidurnya, keduanya pun bangkit dan menuju ke masjid.

Bahkan para Sahabat tidak hanya menyayangi orang-orang yang beriman. Kasih sayang mereka juga tercurah bagi para ahli dzimmah, yaitu orang-orang yang beragama selain Islam yang berlindung dalam khilafah Islam.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab RA melihat seorang laki-laki tua dari ahli dzimmah yang meminta-minta dari satu pintu ke pintu yang lain. Seketika itu Sahabat Umar RA berjalan menghampiri dan berkata kepadanya, “kami telah berbuat tidak adil terhadap Anda. Kami telah mengambil jizyah (upeti) dari anda ketika anda masih muda, namun saat ini kami telah menyia-nyiakan Anda.” 

Kemudian Sahabat Umar RA memerintahkan agar mencukupi makanannya dari Baitul Mal (Gudang Perbendaharaan Negara) milik kaum muslimin. Subkhanallah ….

Kasih Sayang Rasulullah SAW

Allah SWT selalu memperhatikan hamba-hamba-Nya, dan di antara kasih sayang-Nya, Allah SWT menganugerahkan risalah-Nya kepada manusia lewat pengutusan seorang Rasul, yang sangat mengasihi dan mencintai umatnya. Allah SWT menegaskan hal itu dalam firman-Nya; surat at-Taubah ayat 128, yang artinya:

“Sesungguhnya telah datang kepada kalian, seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” [QS. at-Taubah; 128]

Dengan misi sebagai teladan bagi seluruh umat manusia di dunia, seorang Rasul haruslah orang  yang terbaik, dan Muhammad bin Abdullah adalah orang yang terbaik itu. Beliau memiliki segala kelayakan dan keistimewaan sebagai seorang yang paling pantas dijadikan sebagai teladan dan panutan. Dan sebagian sifat istimewa Rasulullah SAW itu telah tergambar jelas dalam ayat di atas.

Nah, yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, sudahkah kita menempatkan Rasulullah SAW sebagai kekasih, teladan, dan uswah tertinggi dari seluruh manusia lainnya? Ataukah kita masih lebih mengagungkan kyai, ulama, pemimpin, tokoh politik, negarawan dan lain sebagainya, melebihi pengagungan kita kepada Rasulullah SAW? Hmm.

Konsekuensi yang paling penting yang disadari oleh umat dari meneladani Rasulllah SAW adalah dengan menaati dan mengikuti sunnah-sunnah beliau. Dengan begitu, Mari kita ukur sikap meneladani kita kepada Rasulullah SAW dari sisi itu, khususnya dalam hal kasih sayang dan cinta.

Selamat mencoba. Salam.

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *