Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Ratu Kalinyamat, Wanita Tangguh dan Pemberani dari Jepara

6 min read

Ratu Kalinyamat, Wanita Tangguh dan Pemberani dari Jepara

Pandita.ID – Katakanlah bulan madunya belum tuntas, belahan jiwanya keburu gugur dalam sebuah penyergapan, terbunuh di depan kedua matanya …. Wanita mana yang tak remuk hatinya?

Karena hatinya telah tersayat dengan pedih yang teramat sangat, dilakoninya tapa wuda dengan bersumpah tidak akan berbusana sebelum memperoleh keadilan dari Yang Maha Kuasa.

Ratu Kalinyamat, dialah wanita yang ada dalam cerita pedih di atas, Ratu Jepara yang masyhur tak hanya karena silsilah dan kisahnya yang melegenda, tetapi pula berkat sepak terjang dan keberaniannya dalam melawan para penjajah.

Dialah satu dari Tiga Wanita Pejuang dari Jepara yang dimonumenkan sosoknya dalam Tugu Tiga Putri Jepara bersama Ratu Shima dan R.A. Kartini.

Biografi Singkat Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat adalah seorang tokoh wanita yang sangat terkenal dalam khasanah sejarah Nusantara. Ratu Jepara kita ini tidak hanya berparas ayu, namun dia juga tekenal dengan kepribadiannya yang berani seperti halnya yang telah ditulis dan dilukiskan oleh bangsa portugis.

Ratu Kalinyamat atau Ratu Jepara adalah wanita Indonesia yang memiliki peran penting dalam kegiatan politik dan ekonomi di Nusantara pada abad ke-16 M. Nama aslinya adalah Retna Kencana atau Retno Kencono. Dia adalah putri Sultan Trenggono, raja ke-3 Kerajaan Demak yang memerintah pada abad ke-16 M.

Dalam ketatanegaraan, peran Ratu Kalinyamat benar-benar sangat menonjol. Pada tahun 1544 M Sultan Trenggono mengirim Ratu Kalinyamat untuk meminta dukungan dari Raja Banten untuk perluasan wilayah Kerajaan Demak di Jawa Timur. Bahkan, saat usianya terbilang masih muda, Ratu Kalinyamat sudah mendapatkan kepercayaan untuk memangku jabatan sebagai Adipati Jepara yang wilayahnya meliputi Jepara, Pati, Kudus, Rembang, dan Blora. Pusat pemerintahannya kala itu mula-mula berupa sebuah kerajaan kecil yang didirikan di Kriyan – Kalinyamatan.

Pada usianya yang masih muda pula Ratu Kalinyamat menikah dengan Pangeran Kalinyamat, seorang pendatang yang mendirikan desa Kalinyamatan di Jepara, sehingga ia dikenal dengan sebutan Pengeran Kalinyamat—inilah alasan kenapa Retna Kencana mendapatkan penggilan Ratu Kalinyamat, karena dia menikah dengan penguasa desa Kalinyamatan.

Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, Pangeran Kalinyamat otomatis menjadi anggota keluarga kerajaan Demak. Dan oleh Sultan Trenggono ia diberi gelar Pangeran Hadirin.

Ada beberapa beberapa versi yang menyebutkan tentang asal-usul Pangeran Hadirin. Versi yang pertama menyebutkan bahwa Pangeran Hadirin adalah seorang saudagar Tiongkok bernama Win-Tang. Ia mengalami kecelakaan di laut dan terdampar di pantai Jepara, lalu kemudian ia berguru kepada Sayyid Ja’far Shadiq (Sunan Kudus).

Sedang versi lain mengatakan bahwa Pangeran Hadirin merupakan putera Sultan Mughayat Syah, raja Aceh yang bertahta pada tahun 1514 – 1528 M, sedang nama aslinya adalah Pengeran Toyib.

Pada saat masih muda, Pangeran Toyib berkelana ke negeri Cina. Di sana ia bertemu dengan seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan yang juga seorang Muslim, dan singkat cerita Pengeran Toyib diangkat menjadi anak angkatnya. Dari situlah ia mendapatkan nama panggilan Win-Tang yang mana adalah ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, nama baru pangeran Toyib.

Selang waktu, Win-Tang hijrah ke Jawa dengan ayah angkatnya yang juga turut serta. Sesampainya di Jawa, ia mendirikan sebuah desa yang diberi nama Kalinyamatan.

Mengetahui kabar tersebut, sang Ayahanda lantas memerintahkan Win-Tang untuk menimba ilmu pemerintahan dan agama di Demak. Di sinilah pertemuan Ratu Kalinyamat dengan Pangeran Kalinyamat terjadi.

Pria berdarah Persia (Pangeran Kalinyamat) ini sangat tampan, arif dan bijaksana, memiliki wawasan Islam yang luas, taat, dan memiliki keberanian yang luar biasa dalam menentang Portugis.

Setelah mengetahui segala hal tentang pangeran Kalinyamat, hati Retno Kencono jadi berdebar-debar. Ia jadi teringat akan ramalan Ayahandanya yang mengatakan bahwa kelak jodohnya adalah seseorang yang berasal bukan dari bangsa Jawa, melainkan seseorang yang berasal dari negeri seberang.

READ  Kisah di Balik Lahirnya Roman Tetralogi Buru yang Fenomenal

Bukan hanya hati Retno Kencono yang berdebar, tetapi Pangeran Kalinyamat juga berkeinginan untuk dapat meminang. Dan singkat cerita, Pangeran Kalinyamat berhasil menikahi Retno Kencono. Sejak saat itulah Retno Kencono mendapatkan nama Ratu Kalinyamat. Pula bagi Pangeran Kalinyamat kemudian mendapatkan gelar kebangsawanan karena telah menjadi anggota keluarga kerajaan Demak dengan gelar Pangeran Hadirin.

Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, Pangeran Hadirin diangkat menjadi penguasa Jepara bergelar Sultan Hadirin. Kemudian ayah angkatnya diangkat menjadi Patih dan berganti nama menjadi Ki Juru Sungging Badar Duwung (Sungging berati pahat, Badar berarti batu badar/akik, Duwung berarti tajam). Pemberian nama “Sungging” diberikan karena ayah angkat Pangeran Hadirin adalah seorang ahli pahat dan seni ukir.

Banyak tutur-tinular yang menceritakan bahwa Ki Juru Sungging lah yang membuat hiasan ukiran di dinding-dinding masjid Mantingan. Pula ia lah orang pertama yang memperkenalkan dan mengajarkan keahlian seni ukir kepada penduduk di Jepara.

Di tengah kesibukannya sebagi Mangkubumi Kadipaten Jepara, Badar Duwung masih sering mengukir di atas batu yang khusus didatangkan dari negeri Cina. Karena batu-batu dari Cina kurang mencukupi kebutuhan, maka penduduk Jepara memahat ukiran pada batu putih, sampai pada akhirnya merambah sampai ke kayu.

Kematian Sultan Hadirin

Peristiwa ini bermula ketika Sunan Prawata, Raja ke-4 Demak, wafat karena dibunuh oleh utusan yang dikirim Arya Penangsang (1549 M), yang tidak lain adalah sepupu Ratu Kalinyamat yang menjadi Adipati di Jipang. Pada jenazah kakaknya itu Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus yang masih menancap. Dan perlu diketahui, bahwa Sunan Kudus adalah pendukung Arya Penangsang dalam perebutan tahta sepeninggal Sultan Trenggono (1546). Hal ini sontak membuat Sultan Hadirin dan Ratu Kalinyamat bergegas sowan ke Kudus untuk meminta penjelasan.

Ratu Kalinyamat datang menuntut keadilan atas kematian kakaknya. Sunan Kudus pun menjelaskan bahwa semasa mudanya Sunan Prawata pernah membunuh Pangeran Sekar Seda Lepen (ayah Arya Penangsang), dan menganggap wajar jika sekarang ia mendapat balasan yang setimpal. Tentu Ratu Kalinyamat kecewa atas sikap Sunan Kudus yang cenderung membela murid kesayangannya itu. Dia dan suaminya pun memilih untuk pulang ke Jepara.

Namun nasib berkata lain …. Di tengah perjalanan, Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadirin dihadang dan dikeroyok oleh anak buah Arya Penangsang. Pertarungan sengit pun terjadi. Namun naas, Pangeran Kalinyamat gugur dalam perlawanannya. Ratu Kalinyamat yang masih berkabung atas kematian kakaknya, semakin diremukkan hatinya karena melihat suaminya meregang nyawa dibunuh di depan kedua matanya.

Bertapa Telanjang

Sambil membawa jenazah suaminya, Ratu Kalinyamat berhasil kabur dari peristiwa keji itu. Dengan susah payah dan kondisi tubuh yang kelelahan. Dengan duka yang mendalam.

Setelah peristiwa pembantaian itu, Ratu Kalinyamat bersumpah akan menebus rasa malunya dan meraih kembali kehormatannya. Atas keinginannya itu membuatnya bertekad untuk melakoni tupo wudo atau tapa telanjang, dan baru akan menyudahi lelakonnya tersebut setelah berhasil berkeset kapala Haryo Penangsang dan berkeramas dengan darahnya.

Tidak sebentar, lebih dari dua windu Ratu Kalinyamat melakoni ritual bertapa telanjangnya itu. Mula-mulanya ia bertapa di Gelang Mantingan, sampai pada akhirnya berpindah ke Gunung Danaraja (Keling, Jepara).

Harapan terbesar Ratu Kalinyamat ada pada adik iparnya, Hadiwijaya atau lebih kita kenal dengan nama Jaka Tingkir (bupati Pajang), karena hanya ia yang kesaktiannya setara dengan Arya Penangsang. Akan tetapi, Sultan Hadiwijaya segan menghadapi Arya Penangsang secara langsung karena pada dasarnya mereka berdua sama-sama anggota keluarga Demak. Akhirnya ia mengadakan sayembara yang hadiahnya berupa Alas Mentaok (Mataram) dan Pati.

Aryo Penangsang berhasil dibunuh melalui senapati perangnya, Danang Sutawijaya (putra Ki Ageng Pemanahan) berkat siasat cerdik Ki Juru Mertani yang juga dibantu oleh Ki Penjawi.

Perang tanding itu terjadi dalam suatu duel di tepi bengawan antara Cepu dan Blora. Tubuh Arya Penangsang itu dipotong-potong menjadi beberapa bagian yang setiap bagian tubuhnya dikubur terpencar di berbagai pelosok Jawa Tengah.

READ  Kutipan Surat-Surat RA Kartini dan Cita-Citanya yang Besar

Karena berhasil menuntaskan sayembara, Sutawijaya pun mendapatkan hadiah yang telah dijanjikan. Kelak di Alas Mentaok itulah Danang Sutawijaya akan membabat dan membangun sebuah dinasti yang sekarang dikenal sebagai Mataram, dan ia pun dikenal dengan nama kebesarannya sebagai Penembahan Senopati.

Ritual yang dilakoni Ratu Kalinyamat itu hingga kini masih menimbulkan berbagai penafsiran di masyarakat. Yang jelas, tapa tersebut benar-benar berakhir setelah Sultan Hadiwijaya menghadap Ratu Kalinyamat di Danaraja sambil menenteng kepala Adipati Jipang beserta semangkok darahnya.

Kepala Adipati Jipang itu benar-benar digunakan untuk berkeset oleh Ratu Kalinyamat, dan darahnya digunakan untuk mengeramasi rambutnya. Setelah terpenuhi apa yang menjadi nadzarnya, kepala Aryo Penangsang konon dibuang ke sebuah kolam yang terdapat di Desa Mantingan.

Fakta dan Makna di Balik Tapa Telanjang Ratu Kalinyamat

Sampai sekarang yang masih menjadi pertanyaan besar di kalangan masyarakat adalah, apakah Ratu Kalinyamat dalam tapanya benar-benar telanjang alias bugil?

Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Ratu Kalinyamat “bersumpah tidak akan berbusana sebelum memperoleh keadilan Tuhan”, tetapi itu merupakan sebuah kiasan. Sedangkan maknanya yang sesungguhnya atau yang sebenarnya terjadi adalah bahwa Ratu Kalinyamat “menanggalkan atribut keratuannya sebagai bentuk protes atas kematian suaminya”. Jadi, setelah membaca ini diharapkan tidak ada lagi salah tafsir mengenai makna ataupun kebenaran tapa telanjang yang dilakoni oleh Ratu Kalinyamat.

Menjadi Ratu Jepara

Setelah kematian Arya Penangsang, telah diraihnya kembali kini kehormatannya itu. Ia dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Penobatan ini ditandai adanya sengkalan “Trus Karya Tataning Bumi”, yang diperhitungkan sama dengan tanggal 12 Rabiul Awal atau 10 April 1549 M yang sampai kini diperingati sebagai hari jadi Jepara.

Selama 30 tahun masa kekuasaannya, Ratu Kalinyamat telah berhasil membawa Jepara kepada puncak kejayaannya. Jepara semakin berkembang menjadi Bandar terbesar di pantai utara Jawa, dan memiliki armada laut yang besar dan sangat tangguh.

Bahkan Ratu Kalinyamat setidaknya pernah dua kali menyerang Portugis di Malaka. Pada tahun 1551 M, Ratu Kalinyamat mengirim ekspedisi militer untuk membantu Raja Johor untuk menyerang Portugis di Malaka, yang berakhir dengan kegagalan. Pada tahun 1574 M, Ratu Kalinyamat kembali mengirim ekspedisi militer lagi untuk mengusir Portugis di benteng Malaka membantu Raja Aceh.

Selama memerintah di Jepara Ratu Kalinyamat berhasil mengembangkan Jepara menjadi pelabuhan internasional. Dia juga merintis ukiran sebagai seni khusus Jepara, setelah itu menjadi kegiatan ekonomi yang penting di Jepara.

Pengganti Ratu Kalinyamat

Semasa hidupnya, Ratu Kalinyamat membesarkan tiga orang pemuda yang dianggap seperti anak angkatnya sendiri. Yang pertama adalah adik kandungnya yang paling kecil, yaitu Pangeran Timur Rangga Jumena putera bungsu Trenggana yang kemudian menjadi bupati Madiun. Yang kedua adalah keponakannya, yaitu Arya Pangiri, putra Sunan Prawata yang kemudian menjadi bupati Demak. Sedangkan yang ketiga adalah sepupunya, yaitu Pangeran Arya Jepara, putra Ratu Ayu Kirana (adik Sultan Trenggono).

Ayah Pangeran Arya Jepara adalah Maulana Hasanuddin, raja pertama Kasultanan Banten. Ketika Maulana Yusuf, (raja kedua Banten) meninggal dunia tahun 1580 M, putra mahkotanya masih kecil. Pangeran Arya Jepara pun berniat merebut takhta Kasultanan Banten sehingga terjadi pertempuran sengit di Banten. Namun pada akhirnya Pangeran Arya Jepara terpaksa mundur setelah Ki Demang Laksamana, panglimanya, gugur di tangan Patih Mangkubumi Kesultanan Banten.

Ratu Kalinyamat wafat sekitar tahun 1579 M. Ia dimakamkan di samping makam suaminya, Sultan Hadirin, di desa Mantingan—tepatnya di kompleks Makam Mantingan yang berada tepat di belakang Masjid Mantingan. Pengganti Ratu Kalinyamat adalah Pangeran Arya Jepara yang berkuasa dari tahun 1579 sampai dengan 1599 M.

Hingga kini, makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadirin nyaris tak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai daerah.

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *