Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Setelah 22 Mei: Saatnya Kembali pada Harmoni

2 min read

Setelah 22 Mei, Saatnya Kembali pada Harmoni

Hai Milenials, apa kabar? Masih pakai VPN kah?

Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengutarakan apa yang menjadi unek-unek saya tentang peristiwa yang beberapa hari belakangan begitu menyita perhatian kita semua. Ya … ini tentang 22 Mei.

Tentang 22 Mei, saya rasa tidak perlu lagi untuk menguraikannya dengan formula 5W + 1H. Kita semua tahu lah tentang apa-apa saja yang terjadi pada hari itu. Dan perlu untuk saya ingatkan kembali, bahwa apa yang tersaji di artikel ini adalah unek-unek saya—yang mungkin sebagian dari kalian juga samaMungkin.

Ketika Semua Teriak Allahu Akbar

Ada video yang sangat menarik perhatian saya—yang sekaligus menjadi inspirasi saya untuk menulis artikel ini—di mana ada seorang bapak Polisi berdiri di tengah-tengah dan berucap lantang:

“Mau tumpah darah? Di sini Allahu Akbar, sana juga Allahu Akbar … Allahu Akbar yang mana ini? Sini Allahu Akbar, sana juga Allahu Akbar, saya juga Allahu Akbar …. Bukan begini caranya …. Ini pertumpahan darah …. Kami di sini mencegah saudara-saudara jangan sampai tumpah darah di sini …. Jangan begini caranya ….”

Ya, ini yang sebenarnya terjadi di negeri kita sekarang.

Apapun agamanya, mau itu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu … selama ini, permasalahan-permasalahan yang terjadi itu bukan di agamanya, tetapi di orang-orang yang berada di agama dan yang membawa-bawa nama agama. Dan selama ini hal itu dimasukkan dan digunakan di ranah politik—agama telah disulap jadi senjata. Dan oleh sebab itu, peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini, sebenarnya itu adalah semata karena “ribut politik”.

READ  Petunjuk untuk Memilih Presiden pada 17 April 2019

Ibnu Rusyid, seorang filsuf dari Andalus berkata:

“Jika ingin menguasai orang-orang bodoh, bungkuslah perkara-perkara busuk dengan baju agama.” [Ibnu Rusyid]

Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah bangsa kita termasuk orang-orang bodoh itu? Tidak! Bangsa kita bukan bangsa yang bodoh. Ingat kembali kata Bung Karno, bahwa: Kita tidak bodoh, kita dibodohkan!

Kita sadar nggak sih, kalau selama ini agama telah dimasukkan dalam politik? Kita sadar nggak sih, kalau selama ini agama telah dijadikan sebagai senjata untuk perang politik? Politik. Ini yang mestinya digarisbawahi atau kalau perlu dicetak tebal. POLITIK.

Dan berbicara tentang politik, ada satu hal yang seharusnya selalu kita ingat, semuanya bisa terjadi karena hal itu memang sengaja dibuat.

Lebih gampangnya begini—terlebih jika kita berbicara perihal Pilpres: Misal saja saya memilih 01 atau saya memilih 02, lalu pilihan saya itu kalah, lalu saya merasa kalau pilihan saya itu telah dicurangi, pasti akan terjadi yang namanya perseteruan. Yang satu merasa sudah menang dan tidak mau dikalahkan, yang satu merasa kekalahannya karena dicurangi.

Maka tidak ayal jika perseteruan itu terjadi. Aksi damai pun berubah menjadi aksi kerusuhan. Nah, ini ….

Mereka ini dianggap hanya sebagai pion-pion semata, sedangkan mereka-mereka yang di atas sana bisa saja tengah berunding dan membuat kesepakatan-kesepakatan tentang bagaimana ke depannya, misalnya: Kalau nanti kami yang menang, kalian nanti begini, bagiannya seperti ini, dan lain sebagainya.

Mungkin saja itu yang terjadi di atas sana. Saya tidak tahu, kalian juga. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di atas sana, karena politik itu ada di luar apa yang tengah kita pikirkan sekarang. Politik itu tidak seperti apa yang kita lihat. Politik itu tidak seperti apa yang dipertontonkan.

READ  2 Mei, Sejarah & Makna di Balik Hari Pendidikan Nasional

Kita bahkan tidak tahu bahwa semuanya bisa terjadi karena memang sengaja dibuat. Semuanya bisa saja telah diatur, semuanya bisa saja setting-an. Kita semua tahu kalau sebenarnya ada jalan keluar untuk hal ini, tetapi masyarakat dibumbui dan digoreng sedemikian rupa, mengatasnamakan agama demi kepentingan politik, sehingga terjadi kerusuhan semacam ini.

Berkaca dari apa yang terjadi sekarang, masyarakat jadi khawatir kalau kengerian-kengerian yang terjadi di tahun 98 itu terulang lagi. Saya sendiri masih TK pada saat itu, tapi sungguh, baru mendengar apa yang diceritakan oleh handai taulan mengenai peristiwa itu saja saya sudah ngeri sekali.

Intinya, jangan sampai peristiwa 98 itu terjadi kembali.

Lalu, apa yang sebaiknya dan seharusnya kita lakukan sekarang?

Saatnya Kembali pada Harmoni

Sekarang, yang paling penting setelah semua ini, dari semua kekacauan-kekacauan yang telah terjadi, adalah kembali pada harmoni kita.

Jadi jangan cuma sibuk membicarakan 01 dan 02 saja, sedangkan 03-nya kita lupakan. “Persatuan Indonesia”-nya jangan sampai kita lupakan, karena itulah harmoni kita.

Jika menengok ke belakang, hal yang semacam ini bukan yang pertama kali bagi kita. Bahwa sebelumnya kita telah berkali-kali diuji, berkali-kali kita telah adu domba, dan berkali-kali kita hendak dipecah-belah, tapi semua itu sia-sia. Kita terlalu kokoh untuk dirubuhkan.

Kita banyak suku, tapi rukun. Kita berbeda agama, tapi saling tenggang rasa. Dan bukankah ini hebatnya Indonesia? Kita berbeda-beda, tetapi bersama-sama saling bahu-membahu menjunjung keutuhan negeri tercinta.

Kita selalu bergandengan tangan. Kita selalu bersatu. Ikatan ini yang harus selalu kita jaga. Harmoni dalam perbedaan kita.

2
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *