Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Napak Tilas Sejarah Hidup Ulama Karismatik KH Maimun Zubair

7 min read

Napak Tilas Sejarah Hidup Ulama Karismatik KH Maimun Zubair

Pandita.ID – Kyai Haji Maimoen Zoebair, siapa yang tak mengenal beliau? Pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang (Rembang) yang akrab disapa Mbah Moen ini tak hanya karismatik, namun juga merupakan sosok yang legendaris. Dan pada Selasa 6 Agustus lalu, beliau telah berpulang ke Rahmatullah. Wafatnya Sang Kyai telah meninggalkan duka yang mendalam bagi segenap rakyat Indonesia dan bagi dunia keilmuan.

Tak hanya di kalangan Muslim, dukacita telah menghampiri berbagai lapisan masyarakat atas kehilangan yang begitu besar ini. Karena Sang Kyai tak hanya teladan bagi segolongan umat, namun beliau juga merupakan seorang Guru Besar bagi bangsa Indonesia yang sarat akan kebhinekaan.

Para Ulama Sepuh bahkan mendaulat beliau sebagai Waliyullah Akhirul Zaman yang menjadi patok penerang batin seluruh umat. Sebagai Kyai Sepuh, beliau tidak hanya (sering) menjadi tumpuan permasalahan besar kebangsaan, bahkan dunia internasional. Semua unsur masyarakat merasa dekat kepada beliau dan selalu memperoleh solusi terbaik.

Kita kehilangan seorang Waliyullah!

Tidak sedikit orang yang terinspirasi akan sosok beliau, meski pada dasarnya orang-orang tersebut bukan merupakan orang yang memiliki kedekatan khusus, bukan sanak saudara maupun kerabat, dan bukan pula santri beliau, seperti halnya saya. Sampai-sampai, orang yang tadinya tidak mengenal beliau pun jadi tertarik untuk mencari tahu atau sekadar mengulik tentang sosok beliau. Terlebih setelah kabar wafatnya beliau ramai diwartakan di berbagai media.

Oleh karena itu, atas tujuan untuk napak tilas serta membumikan sosok Mbah Moen pada generasi-generasi penerus, berikut saya paparkan sekilas sejarah hidup beliau.

KH Maimun Zubair

Biodata KH Maimun Zubair (Mbah Moen)

Nama Lengkap: KH Maimun Zubair (ejaan lama: KH Maimoen Zoebair)
Panggilan: Mbah Moen
Tempat/Tanggal Lahir: Karang Mangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Kamis Legi Sya’ban 1347 H atau 28 Oktober 1928
Agama: Islam
Wafat: Mekkah, Arab Saudi, 6 Agustus 2019
Orang Tua: KH Maimun Zubair (ayah), Nyai Mahmudah (ibu)
Istri: Nyai Fahmiyah, Nyai Masthi’ah
Anak: Abdullah Ubab, Muhammad Najih, Shabihah, Majid Kamil, Abdul Ghofur, Abdur Rouf, Muhammad Wafi, Taj Yasin, Idrar, Rodhiyah
Profesi: Ulama, Pimpinan Pondok Pesantren
Organisasi: Nahdlatul Ulama (NU)
Partai Politik: Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

Kelahiran dan Silsilah Mbah Moen

Kyai Haji Maimun Zubair, kadang ditulis menggunakan ejaan lama Maimoen Zoebair, atau yang akrab disapa Mbah Moen, adalah seorang Ulama Sepuh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang.

Sosok Ulama Karismatik dan Legendaris ini merupakan putra pertama dari pasangan Kyai Haji Zubair Dahlan dan Nyai Mahmudah. Beliau lahir di Karang Mangu, Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, hari Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1347 Hijriyah atau 28 Oktober 1928—bertepatan dengan peristiwa historis ketika pemuda-pemudi Indonesia berkumpul untuk bersumpah akan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Beliau lahir di keluarga yang memiliki latar belakang agama Islam yang kuat. Terlebih Ayahanda beliau, KH Zubair Dahlan, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky—dua ulama masyhur pada waktu itu.

Ayahandanya adalah seorang Kyai yang kesohor akan kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Sementara Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu’aib, ulama karismatik yang teguh memegang pendirian.

Sari segi silsilah beliau, dapat dirunut sebagai berikut:

⇒ Dari jalur Kakek sampai dengan Sunan Giri, yakni:

  • Mbah KH Maimoen Zubair bin
  • Kyai Zubair Dahlan bin
  • Kyai Dahlan bin
  • Mbah Carik Waridjo bin
  • Mbah Munandar bin
  • Kyai Putih Podang (Desa Lajo Singgahan Tuban) bin
  • Kyai Imam Qomaruddin (Blongsong Baureno Bojonegoro) bin
  • Kyai Muhammad (Macan Putih Gresik) bin
  • Kyai Ali bin
  • Kyai Husen (Desa Mentaras Dukun Gresik) bin
  • Kyai Abdullah (Desa Karang Jarak Gresik) bin
  • Zainal Abidin (Pangeran Pakebunan Khotib Mantoh) bin
  • Ali Khoirul Fatihin (Panembahan Kulon/Sunan Kulon) bin
  • Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri)

⇒ Dari jalur Nenek, Ibu Nyai Hasanah, yaitu:

  • Mbah KH Maimoen Zubair bin
  • Kyai Zubair bin Kyai Dahlan yang menikah dengan Nyai Hasanah,
  • Nyai Hasanah binti Kyai Syu’aib yang menikah Hj Sa’idah. Di sisi lain, Kyai Syu’aib merupakan penerus sekaligus suksesor pesantren yang dirintis oleh Mbah Maulana dan Mbah Ghozali.
  • Hj Sa’idah binti Mbah Kyai Ghozali bin
  • Mbah Kyai Maulana (Mbah Lanah), bangsawan Madura yang bergabung dan berjuang bersama Pasukan Pangeran Diponegoro

Riwayat Pendidikan Mbah Moen

Tak ada seorangpun yang meragukan kematangan ilmu beliau.

Sedari kecil, beliau sudah dibesarkan dengan ilmu dan nilai-nilai agama yang kuat. Beliau diasuh di bawah bimbingan ayah dan kakeknya dari jalur ibu, Kiai Ahmad bin Syuaib bin Abdul Razzaq.

READ  Kutipan Surat-Surat RA Kartini dan Cita-Citanya yang Besar

Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahandanya untuk menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah, dan berbagai Ilmu Syara’ lainnya.

Di usianya yang masih terbilang muda (± 17 tahun), Gus Moen (panggilan Mbah Moen muda) bahkan sudah hafal kiab-kitab Nadzam di luar kepala, diantaranya adalah kitab Alfiyyah (Ibnu Malik), Al-JurumiyyahImrithi, Matan Jauharotut Tauhid, Rohabiyyah fil Faroidl, serta Sullamul Munauroq. Seiring waktu, dengan semakin piawaianya beliau melahap kitab-kitab fiqih mazhab Asy-Syafi’I, juga terdapat kitab-kitab lain seperti Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, dan kitab-kitab lainnya.

Mbah Moen merupakan kawan dekat dari Kyai Sahal Mahfudh yang sama-sama santri kelana di pesantren-pesantren Jawa sekaligus Kyai yang berkelana dan mendalami ilmu di Tanah Hijaz.

Mbah Moen yang karismatik telah dikenal sebagai seorang alim, sufi, faqih (ahli fiqih), juga muharrik (penggerak). Karena kedalaman dan kefasihan beliau dalam bidang ilmu fiqih dan ushul fiqih, selama hidupnya Mbah Moen kerap menjadi rujukan para Ulama Indonesia dalam bidang fiqih.

Mondok di Pesantren Lirboyo

Pada tahun 1945, beliau mulia berkelana guna menuntut ilmu ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, di bawah bimbingan Kyai Haji Abdul Karim atau Mbah Manab, yang mana adalah sang pendiri dari pesantren terbesar di Indonesia itu sendiri.

Selain kepada Mbah Manab, beliau juga kedapatan menimba ilmu agama dari KH Mahrus Ali juga KH Marzuqi Dahlan. Di Kediri, beliau juga berguru kepada Kiai Ma’ruf Kedunglo yang masyhur sebagai Kyai yang ahli riyadhah. Ketika mondok di Lirboyo, beliau juga bertirakat seperti halnya menyedikitkan makan dan tidur dan menggunakan waktunya untuk bersungguh-sungguh dalam belajar.

Beliau mendapat ijazah dzikir dari Kiai Ma’ruf Kedunglo serta berkhidmah kepada Mbah Manab selama mondok. Menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun bagi beliau guna ngangsu kaweruh di Lirboyo sebelum akhirnya kembali ke kampung halamannya, mengamalkan ilmu yang diperolehnya ke masyarakat.

Menuntut Ilmu di Makkah

Tidak hanya cukup 5 tahun menuntut ilmu di Lirboyo bagi Mbah Moen muda untuk menghentikan langkahnya. Tanpa kenal batas, beliau terus mengarungi samudra ilmu-ilmu agama hingga ke Tanah Hijaz.

Pada tahun 1950, di usianya yang menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk berkelana ke Makkah Al-Mukarromah. Perjalanan itu diiringi oleh kakeknya sendiri, Kyai Ahmad bin Syu’aib—kakek dari jalur Ibu. Tak hanya satu, semua mata air ilmu agama ditimbanya dari sekian banyak Ulama yang masyhur di bidangnya, di antaranya beliau berguru kepada:

  • Al-muhaddits Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani,
  • Syekh Al-Imam Hasan Al-Masysyath,
  • Sayyid Amin Al-Quthbi,
  • Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani, dan
  • Syekh Abdul Qodir Almandily.

Tercatat selama 2 tahun beliau menetap di Makkah Al-Mukarromah guna ngangsu kaweruh, hingga kemudian kembali ke tanah air.

Berguru dengan Ulama-Ulama Besar Jawa

Sekembalinya dari Tanah Suci, ternyata beliau masih saja meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada para Ulama-Ulama Besar di Tanah Jawa pada saat itu. Di antara nama-nama besar tersebut antara lain ialah:

  • KH Zubair Dahlan (ayahanda beliau),
  • KH Baidlowi bin Abdul Aziz Lasem (mertua beliau),
  • KH Ma’shum Lasem, KH Ali Ma’shum Krapyak Yogyakarta,
  • KH Bisri Musthofa Rembang,
  • KH Abdul Wahab Hasbullah,
  • KH Mushlih Mranggen,
  • KH Abbas Djamil Buntet Cirebon,
  • Kyai Ihsan Jampes Kediri,
  • KH Abdul Fadhol Tuban,
  • KH Abdul Khoir Senori Tuban,
  • KH Bisri Syansuri,
  • Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Malang,
  • Habib Ali bin Ahmad Alattas Pekalongan,
  • KH Thahir Rahili Jakarta,
  • KH Abdul Hamid Pasuruan,
  • KH Chudlari Tegalrejo, dan
  • KH Asnawi Kudus.

Selama beliau berguru ini beliau juga menulis kitab-kitab yang kini menjadi rujukan para santri. Di antaranya yang paling terkenal ialah kitab yang berjudul Al-Ulama Al-Mujaddidun.

Mengutip Gus Luthfi Thomafi, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Lasem (Rembang), beliau mengatakan bahwa Mbah Kyai Abdul Hamid Pasuruan (Allah yarham) sudah menyebut Gus Moen (Mbah Moen muda) sebagai “Maha Kyai” karena alim, ahli fiqih, dan sufi, dan sebagainya, sejak 70 tahun silam sepulang putra Kyai Zubair itu dari berguru di Makkah.

Keluarga dan Keturunan

Pada umur 25 tahun, beliau menikah dan selanjutnya menjadi Kepala Pkalasar Sarang selama 10 tahun.

Mbah Moen menikah pertama kali dengan Nyai Fahmiyah binti Kyai Baidlowi Lasem, Rembang. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai tujuh anak; empat di antaranya wafat saat masih kecil, dan tiga lainnya ialah:

  1. Abdullah Ubab,
  2. Muhammad Najih, dan
  3. Shabihah.
READ  Buah Pikiran Kartini: Habis Gelap Terbitlah Terang

Sepeningggal istri pertama, beliau menikah lagi untuk kedua kalinya dengan Nyai Masthi’ah binti Kyai Idris Cepu, Blora. Dari pernikahan yang kedua ini beliau dikaruniai enam putra dan satu putri, yakni:

  1. Majid Kamil,
  2. Abdul Ghofur,
  3. Abdur Rauf,
  4. Muhammad Wafi,
  5. Taj Yasin,
  6. Idrar, dan
  7. Radhiyyah.

Mendirikan Pondok Pesantren Al-Anwar

Pada tahun 1386 H atau tahun 1964, ketika usia beliau menginjak 35 tahun, beliau mendirikan musholla untuk mengajar masyarakat Desa Sarang. Selanjutnya, sekitar tahun 1967, beliau mulai membangun kamar persis di samping musholla yang diperuntukkan bagi siapa saja yang menghendaki mondok. Hingga kemudian, seiring berjalannya waktu, justru malah semakin berduyun-duyun santri berdatangan dari berbagai daerah guna berguru kepada beliau. Pondok pesantren yang berlokasi di sisi kediaman beliau inilah yang hingga kini dikenal dengan nama Pondok Pesantren Al-Anwar.

Kegiatan sehari-hari beliau ialah mengajar santri dengan membacakan kitab-kitab seperti Fathul Wahab, Syarah Mahally ‘Alal Minhaj, Jam’ul Jawami’, Ihya Ulumudin, dan banyak kitab-kitab lainnya.

Khusus pada bulan Ramadhan, beliau mengaji kitab hadis seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Muwattha Imam Malik, Riyadhis Shalihin, atau Al-Adzkarun Nawawi. Untuk hari Ahad, beliau mengajar kitab Tafsir Jalalain kepada masyarakat Sarang dan sekitarnya yang tumpah ruah dihadiri tujuh ribuan orang. Masya Allah!

Karir Politik dan Organisasi

Mbah Moen merupakan seorang Ulama dan Politikus Indonesia. Selain sebagai pengasuh di pesantrennya, Mbah Moen pernah terjun ke dunia politik menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun (1971 – 1978). Setelah berakhirnya masa tugas, beliau kembali berkonsentrasi mengurus pondok pesantrennya. Tapi rupanya tenaga dan pikiran beliau masih dibutuhkan oleh negara sehingga pada tahun 1987 beliau diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah selama tiga periode atau hingga tahun 1999.

Mbah Moen juga dikenal aktif dalam organisasi Nahdatul Ulama’ yang didirikan oleh KH Hasyim Asyari. Mbah Moen diketahui pernah menjabat sebagai Ketua Syuriah NU Provinsi Jawa Tengah dari tahun 1985 hingga 1990. Beliau juga pernah menjadi Ketua Jam’iyah Thariqah NU. Hingga akhir hayatnya, beliau merupakan salah seorang Mustasyar PBNU.

Selain itu ia juga aktif dalam organisasi partai seperti menjadi Ketua MPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dari tahun 1995 hingga 1999, dan kemudian menjadi Ketua Majelis Syari’ah PPP sejak 2004 hingga beliau wafat.

Berpulang ke Rahmatullah

Mbah Moen yang dikenal sebagai Ulama Karismatik dan Legendaris ini wafat di Makkah Al-Mukarromah pada tanggal 6 Agustus 2019 saat sedang menunaikan ibadah haji.

Mbah Moen wafat setelah melaksanakan shalat Subuh pada pukul 04.30 waktu setempat di rumah sakit An-Nur Makkah. Tidak ada gejala-gejala yang menunjukkan kalau beliau sakit, bahkan malam sebelumnya beliau sempat menerima kunjungan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Dr Agus Maftuh Abegebriel dan memimpin do’a bersama sebelum berpisah.

Namun, siapa yang tahu kapan datangnya ajal? Tak seorangpun. Bayi yang baru lahir ke dunia saja bisa diambil kembali oleh Yang Maha Kuasa seketika itu juga.

Dari sepenggal kisah yang dibagikan Gus Mus—yang juga Mustasyar PBNU—melalui akun instagram pribadinya, kita jadi mengetahui bahwa Mbah Moen tidak bisa dicegah untuk istiqamah berangkat haji tahun ini, sebagaimana yang telah beliau lakukan tahun-tahun sebelumnya setiap tahun sejak beliau masih remaja. Dan pada musim haji tahun ini, ialah tahun ketika Allah SWT berkehendak mengabulkan do’a beliau supaya diwafatkan di Makkah Al-Mukarromah pada hari Selasa; hari yang sama di mana ayahanda, kakek, dan para leluhur beliau berpulang ke Rahmatullah. Subkhanallah.

Atas usaha dari segenap keluarga dan pihak yang bersangkutan, juga berkat izin dari pemerintahan setempat yang telah melakukan berbagai pertimbangan, Mbah Moen dikebumikan di Ma’la, Makkah, berdekatan dengan makam guru beliau, Al-Muhaddits Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani, dan makam istri Rasulullah SAW, Ummul Mukminin, Sayyidah Khadijah.

Teladan Mbah Moen

Sungguh tak terhitung teladan dari Maha Kyai kita satu ini. Bahkan, saking banyaknya, saya rasa akan jadi terlalu panjang jika saya tuliskan semuanya di artikel ini. Mungkin lain waktu akan saya sambung kembali. Insya Allah. 

Namun, dari sekian banyak teladan yang dapat kita ambil sebagai panutan laku hidup, ada satu yang menurut saya paling mengena. Mengutip dari kolom Gus Candra Malik di Geo Times, teladan tersebut yakni:

“Hingga usianya yang 90 tahun pun, Mbah Moen masih menunjukkan ketegaran luar biasa menghadapi jasmani yang menua.”

Sebuah ungkapan yang saya rasakan dan olah berkali-kali dalam benak memiliki arti lebih dari rangkaian kalimat itu sendiri.

Dan Allah tahu apa yang terbaik.

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

4 Replies to “Napak Tilas Sejarah Hidup Ulama Karismatik KH Maimun Zubair”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *