Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Kenapa Umat Islam Wajib Membayar Zakat Fitrah? Penjelasan Mengenai Zakat Fitrah [#8]

9 min read

Kenapa Umat Islam Wajib Membayar Zakat Fitrah? Penjelasan Mengenai Zakat Fitrah

Teringat semasa kecil dulu saya pernah bertanya kepada ibu saya, “kenapa sebelum lebaran (Idul Fitri) kita harus membayar Zakat (Fitrah)?” Singkat ibu saya menjawab, “supaya puasa kita lebih afdhol ….” Kalau semasa kecil saya dulu sudah puas dengan jawaban singkat padat semacam itu.

Jadi, kenapa umat Islam diwajibkan membayar Zakat Fitrah?

Sebelum sampai ke sana, ada baiknya jika terlebih dahulu untuk mengetahui sebenarnya apa itu zakat fitrah, seperti apa hukumnya; bagaimana cara pembayarannya, kepada siapa, jumlahnya, waktunya, tujuannya, semuanya akan dijelaskan di bawah ini. Mari menimba ilmu bersama ….

Zakat Fitrah

Etimologi

‘Zakat’ sendiri secara harfiah berarti ‘untuk membersihkan’ atau ‘penyucian’—yang berarti dengan memenuhi kewajiban agama ini, umat Islam memastikan bahwa kekayaan mereka telah dimurnikan untuk kehendak Allah SWT. Sedangkan kata ‘Fitr’ berarti sama dengan ‘Iftar’, yang berarti berbuka puasa, dan berasal dari kata dasar yang sama dengan ‘Futur’ yang berarti sarapan. Namun sebagian besar dari kita lebih sering mengartikannya sebagai ‘Fitrah’, yang berarti suci atau kembali ke kesucian.

Dengan demikian, bisa diartikan sendiri apa itu zakat fitrah. Namun yang pasti, secara Islam, Zakat al-Fitr atau Zakat Fitrah adalah nama yang diberikan untuk amal yang didistribusikan pada akhir puasa Ramadhan. Ini sama halnya yang dikemukakan oleh Al-Nadawi dalam Al-Fiqh al-Muyassar halaman 141, bahwa zakat fitrah ini sendiri dinamai demikian karena menjadi jatuh tempo ketika bulan Ramadhan berakhir.

Hukum dan Ketentuan

Zakat Fitrah harus dikeluarkan setahun sekali pada Bulan Suci Ramadhan—mulai awal bulan Ramadhan hingga batas sebelum sholat Id (sholat Hari Raya Idul Fitri). Inilah yang menjadi pembeda antara Zakat Fitrah dengan zakat-zakat lainnya—sebagaimana Rasulullah SAW telah bersabda:

“Barangsiapa yang menunaikan zakat fitrah sebelum shalat Id maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat Id maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” [HR. Abu Daud]

Zakat Fitrah adalah kewajiban yang ditetapkan pada setiap Muslim. Ibnu Umar menyampaikan, bahwa:

Rasulullah SAW menetapkan Zakat Fitrah, sebuah Sa’ (ini adalah ukuran yang setara dengan empat kali kapasitas dua tangan rata-rata pria yang ditangkupkan) dari kurma atau jelai, mengikat setiap Muslim: budak atau orang merdeka, pria atau wanita, muda atau tua. [HR. Al-Bukhari]

*Ketentuan: Zakat Fitrah adalah kewajiban yang berlaku untuk semua Muslim, apakah mereka muda atau tua, pria atau wanita, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam hadis yang dikutip di atas. Dan dianjurkan untuk membayarkan zakar untuk bayi yang masih dalam kandungan jika kehamilannya telah melewati empat bulan—orang-orang di masa awal Islam biasa melakukannya, seperti yang dilaporkan secara otentik telah dilakukan oleh Sahabat Usman dan yang lainnya.

Setiap Muslim harus membayarnya atas namanya sendiri dan atas nama orang-orang yang wajib dia sokong, seperti istri dan keturunannya. Pada masa perbudakan, seorang tuan harus membayarnya untuk budaknya. Rasulullah berkata:

“Tidak ada zakat yang dibayarkan pada budak kecuali Zakat Fitrah.” [HR. Muslim]

Sebagai kewajiban, Zakat Fitrah berlaku untuk semua orang yang memiliki lebih dari apa yang ia butuhkan untuk makanannya dan makanan tanggungannya untuk siang dan malam Idul Fitri. Jika seseorang memiliki lebih dari itu, yang cukup untuk membayar zakat ini, maka seseorang harus membayarnya.

Ini berarti ada dua syarat agar zakat ini harus dibayar: 1) Islam—itu berarti tidak dibayar oleh yang tidak beragama Islam; dan 2) memiliki lebih dari satu kebutuhan untuk kebutuhan esensialnya untuk siang dan malam Idul Fitri.

Apa dan Berapa yang Harus Dikeluarkan

*Ini yang perlu untuk diperhatikan.*

Pada zaman Rasulullah SAW, seperti halnya hadis yang dikutip sebelumnya, jumlah yang harus dibayarkan adalah empat kali lipat dari isi dua telapak tangan pria yang ditangkupkan, baik itu gandum, kurma, kismis, yogurt kering, beras, jagung, dll—yang umumnya menjadi makanan pokok masyarakat—ini sudah mapan dalam sejumlah hadis otentik. Sekelompok orang dapat memberikan Zakat Fitrah kepada satu orang, dan satu orang dapat memberikan zakatnya kepada suatu kelompok.

Para ahli hukum memiliki pandangan yang berbeda mengenai jenis makanan yang harus diberikan sebagai Zakat Fitrah. Pandangan Hanbali adalah bahwa jenis makanan yang bisa diberikan adalah lima: kurma, kismis, gandum, barley, dan keju cottage kering.

Imam Ahmad telah mengatakan bahwa segala jenis bahan pokok atau kurma juga diizinkan, bahkan jika kelima jenis di atas tersedia.

Pengikut Maliki dan Syafi’i berpandangan bahwa diperbolehkan untuk memberikan makanan apa pun asalkan itu merupakan makanan pokok di wilayah tersebut atau makanan utama orang tersebut. Adapun Pengikut Hanafi, mereka mengizinkan membayar nilai Zakat Fitrah dalam uang.

Seperti halnya yang ada di Indonesia (pada umumnya), Zakat Fitrah ditunaikan dalam bentuk beras atau makanan pokok seberat 2,5 kg atau 3,5 liter per kepalanya. Dengan catatan: Kualitas beras atau makanan pokok harus sesuai dengan kualitas beras atau makanan pokok yang dikonsumsi kita sehari-hari. Dan, ada kalanya pula, bahwa beras atau makanan pokok tersebut dapat diganti dalam bentuk uang yang senilai dengan 2,5 kg atau 3,5 liter beras.

Sampai di sini kita jadi mengetahui tentang adanya beberapa perbedaan mengenai apa yang mustinya dibayarkan sebagai Zakat Fitrah, terlebih jika menengok Sunnah Rasulullah SAW di atas.

Lantas, mana yang terbaik?

Para Ulama’ telah membahas hal ini secara panjang lebar, meskipun diizinkan membayar Zakat Fitrah berdasarkan nilainya (dengan uang) dan bukan dalam bentuk bahan makanan, yang terbaik adalah jika memungkinkan untuk mengikuti Sunnah Rasul dengan memberikannya sebagai makanan.

READ  Tentang Nuzulul Qur'an: Proses Turunnya Al-Qur'an ke Marcapada [#9]

Sementara ini lebih mudah dan lebih layak di masa kita sekarang, terutama di daerah industri di mana orang melakukan semua transaksi mereka dalam uang, dan di banyak masyarakat modern, pemberian gandum atau kurma mungkin tidak disambut karena itu bukan makanan pokok yang digunakan di rumah mereka.

Tampak bahwa Rasulullah SAW menyatakan bahwa Zakat Fitrah ditunaikan dalam makanan karena dua alasan: 1) uang langka di kalangan orang Arab pada saat itu, yang membuatnya lebih mudah untuk memberikan zakat mereka dalam bentuk barang; dan 2) daya beli uang berbeda dari waktu ke waktu, sementara sejumlah makanan memenuhi kebutuhan manusia tertentu.

Pada masa Rasulullah SAW, makanan lebih mudah untuk diberikan dan lebih baik bagi orang yang membutuhkan. Jika kita dapat melakukan hal yang sama tanpa khawatir bahwa makanan itu tidak akan diterima atau tidak berguna bagi orang yang bersangkutan, itu tentu yang terbaik. Jika kita memiliki keraguan, dan menemukan bahwa uang itu akan lebih bermanfaat dan disambut baik oleh orang miskin, tidak ada salahnya dengan memberikannya dalam bentuk uang daripada dalam bentuk makanan.

Hal tersebut diterangkan oleh beberapa Ulama’ mazhab Fiqih Hanafi yang mengatakan bahwa lebih baik memberi zakat dalam bentuk bahan makanan, karena jelas ini sesuai dengan Sunnah. Dan sebagian memberikan rincian lebih lanjut; bahwa pada saat kesulitan dan kelangkaan makanan, akan lebih baik untuk membayar zakat dalam bentuk bahan makanan. Tetapi pada saat bahan makanan berlimpah, membayarnya dengan uang lebih baik karena itu akan lebih bermanfaat bagi orang yang menerimanya.

Waktu

Zakat Fitrah menjadi jatuh tempo ketika matahari terbenam pada hari terakhir Ramadhan, karena inilah yang menandakan akhir dari puasa yang kita jalankan.

Waktu untuk membayar dibagi menjadi dua bagian, yaitu waktu yang lebih disukai dan waktu yang dapat diterima. Waktu yang lebih disukai adalah dari fajar pada hari Idul Fitri sampai sesaat sebelum shalat Idul Fitri. Hal ini didasarkan pada hadis yang disampaikan oleh Ibnu Umar, bahwa:

Rasulullah SAW memerintahkan agar Zakat Fitrah harus dibayarkan sebelum orang-orang pergi keluar untuk Sholat Idul Fitri. [HR. Bukhari & Muslim]

Sedangkan waktu yang dapat diterima adalah satu atau dua hari sebelum Idul Fitri, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Umar dan para Sahabat lainnya.

Namun, Zakat Fitrah dapat ditunaikan sebelum periode yang disebutkan di atas, karena banyak dari para Sahabat Rasulullah SAW yang menunaikan Zakat Fitrah beberapa hari sebelum Idul Fitri.

Terlepas dari adanya perbedaan-perbedaan pandangan tentang waktu membayarnya (yang tidak bisa pungkiri itu memang ada, tetapi tidak saya sertakan karena terlalu panjang jika saya uraikan satu persatu), yang perlu kita semua ketahui adalah:

Bahwa semua perbedaan-perbedaan itu ada untuk mempertimbangkan baik kebutuhan orang miskin (serta golongan penerima zakat lainnya) dan kesempatan untuk mendapatkan kebijaksanaan di balik kewajiban Zakat Fitrah. 

Oleh karena itu, pendekatan yang paling dapat diterima dan praktis adalah menerapkan praktik apa pun yang memenuhi tujuan dan kebijaksanaan di balik Zakat Fitrah, yaitu membawa kebahagiaan kepada orang miskin pada Hari Raya Idul Fitri dan memberi anak-anak mereka kesempatan untuk menikmati hari itu seperti yang dilakukan oleh orang lain. That’s The Point!

Lalu, bagaimana jika Zakat Fitrah tersebut tertunda atau malah tidak ditunaikan?

Dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW berkata: “Barang siapa yang memberikannya sebelum Shalat maka itu dianggap sebagai Zakat, sedangkan barang siapa yang memberikannya setelah Shalat maka hanya akan dianggap sebagai amal biasa, oleh karena itu, orang yang lupa membayar zakat Fitrah ini tepat waktu harus melakukannya sesegera mungkin meskipun itu tidak akan dihitung sebagai Zakat Fitrah.”

Sangat jelas bukan? Mari lanjut ke aspek selanjutnya tentang golongan yang berhak menerima Zakat Fitrah.

8 Kategori Orang yang Berhak (Mustahiq) Menerima Zakat

Telah disebutkan di dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60 tentang golongan-golongan orang yang berhak menerima Zakat:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk yang berjuang di jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS. 9:60]

Dari ayat di atas diketahui bahwa hanya ada 8 golongan orang-orang yang berhak (mustahiq) atas zakat. Penjelasan singkat mengenai 8 golongan itu masing-masing adalah sebagai berikut:

1. Fakir

Yang dimaksud dengan fakir ialah orang yang tidak memiliki harta apa pun usaha (atau pekerjaan) yang memadai, sehingga sebagian besar kebutuhannya tidak dapat dipenuhinya. Walaupun misalnya ia memiliki rumah tempat tinggal, pakaian yang pantas bagi dirinya, ia tetap dianggap sebagai fakir selama sebagian besar kebutuhan hidup yang diperlukan tidak terpenuhi olehnya.

2. Miskin

Yang dimaksud dengan golongan miskin di sini ialah orang yang memiliki harta atau usaha yang dapat menghasilkan sebagian kebutuhannya tetapi tidak mencukupi.

3. Pengurus Zakat (Amil)

Ialah orang-orang khusus yang ditugaskan untuk mengurus zakat, seperti petugas yang mengutip (sha’l), mencatat (katib) harta yang terkumpul, membagi-bagi (qasim), dan mengumpulkan para wajib zakat atau mengumpulkan para mustahiq (hasyir), tetapi para qadli dan pejabat pemerintahan tidak termasuk dalam kelompok Amil.

4. Al-mu’allafatu qulubuhum (Mualaf)

Menurut bahasa al-mu’allafatu qulubuhum berarti orang yang hatinya ditenangkan atau dibujuk, atau juga bisa diartikan sebagai mereka yang hatinya harus dimenangkan.

Mereka adalah orang-orang yang mungkin tidak beriman dan mereka diberi zakat untuk memenangkan niat baik mereka terhadap Islam, atau mereka mungkin Muslim tetapi tidak terlalu kuat dalam iman, atau mereka adalah orang-orang yang memiliki kerabat yang tidak beragama Islam yang perlu didorong untuk memandang positif Islam, atau yang membutuhkan bantuan, atau mereka yang baru saja masuk Islam (mualaf) dan diberi zakat agar semakin kuat imannya, dll.

READ  Ramadhan, Bulan Limpahan Kasih Sayang: Momen Tepat untuk Membina Sifat Kasih Sayang [#4]

5. Fi al-Riqab

Maksud al-riqab di sini adalah para budak yang mukattab, yang dijanjikan akan merdeka bila membayar sejumlah harta kepada tuannya (tebusan). Budak yang telah mengikat perjanjian kitabah secara sah dengan tuannya, tetapi tidak mampu membayarnya, dapat diberikan bagian dari zakat untuk membantu mereka memerdekakan dirinya.

Apakah kasus yang seperti ini masih ada? Kalau pun ada, sudah menjadi tugas kita untuk mengulurkan tangan.

6. Al-Gharimun

Yaitu orang-orang yang berhutang. Dalam hal ini orang yang berhutang ada tiga macam:

  • Orang yang berhutang untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri. Bila hutangnya itu tidak untuk maksiat, dan ia tidak mampu membayarnya, maka ia dapat diberi bagian zakat—untuk membayar hutang tersebut.
  • Orang yang berhutang karena kepentingan mendamaikan perselisihan. Misalnya dalam hal ini ada dua pihak berselisih mengenai korban pembunuhan yang tidak jelas siapa pelakunya, seseorang tidak bertindak mengambil alih tanggung jawab untuk membayar diyat-nya, tetapi untuk itu ia harus berhutang, maka orang tersebut dapat diberi zakat untuk membayar hutangnya—sekalipun ia sendiri mampu untuk membayarnya.
  • Orang yang berhutang karena ia menjamin hutang orang lain. Orang ini dapat diberi zakat untuk membayar hutangnya, bila ia tidak mampu membayarnya, dan tidak pula dapat menuntut agar orang yang dijamin itu membayar hutangnya, karena orang tersebut miskin atau tidak menyetujui pemberian jaminan itu.

7. Fi Sabilillah

Yaitu orang-orang yang berperang atau berjuang di Jalan Allah secara ‘rela’, tanpa mendapatkan gaji dari pemerintah. Para pejuang yang seperti ini berhak atas zakat sekalipun ia kaya. Besarnya jumlah yang dapat diberikan kepada mereka disesuaikan dengan biaya perjalanan, pengadaan perlengkapan persenjataan, dan alat-alat pengangkutan yang dibutuhkannya.

Jika setelah menerima zakat itu ternyata ia tidak jadi melakukan jihad, maka harta yang telah diambilnya itu wajib dikembalikannya.

Menurut sebagian Ulama’, orang-orang yang melakukan ibadah haji dan umrah juga dibenarkan menerima zakat atas nama fi sabilillah. Imam Malik dan Imam Hanafi membatasinya pada tempat-tempat berjihad dan ribath, sedangkan Imam Syafi’i mengatakan bahwa bagian fi sabilillah itu hanya hanya dapat diberikan kepada yang berperang seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Dan menurut sebagian Ulama’ yang lain, fi sabilillah dapat diartikan sebagai fi sabil al khair yang artinya semua hal yang bernilai kebaikan seperti lembaga pendidikan, masjid, dan lain sebagainya.

8. Ibnu Sabil

Yaitu orang yang sedang atau akan melakukan perjalanan (musafir). Musafir sendiri dapat diberikan zakat dengan syarat: 1) Perjalanannya itu tidak ditujukan untuk kemaksiatan; dan 2) Ia kehabisan bekal, tidak mempunyai, atau kekurangan biaya dalam perjalanannya sekalipun ia memiliki harta di tempat lain.

TUJUAN Zakat Fitrah

Setiap Muslim diharuskan membayar Zakat Fitrah pada akhir bulan Ramadhan sebagai tanda terima kasih kepada Allah SWT karena telah memungkinkannya untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadhan dan menjalankan ibadah puasa.

Tujuan utama Zakat Fitrah adalah untuk menyediakan bagi mereka yang berpuasa dengan cara menebus kesalahan mereka selama bulan puasa. Zakat Fitrah juga memberi orang miskin sarana untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama dengan umat Muslim lainnya. Pandangan ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud yang berbunyi:

“Rasulullah SAW memerintahkan Zakat al-Fitr pada mereka yang berpuasa untuk melindungi mereka dari tindakan atau ucapan tidak senonoh, dan untuk tujuan menyediakan makanan untuk yang membutuhkan ….” [HR. Abu Daud]

Yusuf Al-Qaradawi berkomentar tentang hadis ini dalam Fiqh al-Zakah dengan mengatakan bahwa ada dua tujuan:

Yang pertama adalah berhubungan dengan individu; yaitu untuk penyelesaian puasa dan kompensasi atas segala kekurangan dalam tindakan atau ucapannya.

Yang kedua terkait dengan masyarakat; yaitu untuk penyebaran cinta dan kebahagiaan di antara para umatnya, khususnya yang miskin dan yang membutuhkan pada hari Idul Fitri.

Karena itu, TUJUAN Zakat Fitrah adalah pengembangan spiritual orang-orang yang beriman. Dengan membuat mereka menyerahkan sebagian dari kekayaan mereka, umat Muslim percaya telah diajar karakter moral yang lebih tinggi dari kemurahan hati, belas kasih, dan rasa terima kasih kepada Tuhan dan kebenaran. Tetapi, karena Islam tidak mengabaikan kebutuhan material manusia, bagian dari tujuan Zakat Fitrah adalah kesejahteraan ekonomi dari anggota masyarakat yang lebih membutuhkan.

Jadi, Kenapa Umat Islam Diwajibkan Membayar Zakat Fitrah?

Fakta bahwa zakat sendiri merupakan salah satu pilar kita (Rukun Islam) yang ke-4, oleh karenanya, tidak ada suatu alasan pun bagi seorang hamba Allah yang beriman untuk tidak menunaikannya karena telah diwajibkan bagi setiap Muslim.

Muslim harus membayar zakat untuk memenuhi perintah Allah SWT dan untuk menjaga orang-orang yang membutuhkan. Amal ada dalam Islam sejak awal pembentukan iman, dan status wajib zakat didasarkan pada Kitab Allah (Al-Qur’an), ajaran Rasulullah SAW, dan konsensus para Sahabat-Sahabatnya.

Dari penjelasan yang telah disampaikan panjang lebar di atas juga kita dapati bahwa Zakat Fitrah dapat menyucikan harta, menyempurnakan puasa kita—mungkin ini alasan dibalik jawaban yang diberikan oleh ibu saya (di pembuka artikel ini), yakni supaya puasa kita lebih afdhol, dan lain sebagainya.

Di samping itu, yang perlu kita sadari, dan yang harus selalu kita ingat:

Bahwa dalam setiap harta yang kita miliki, sebagian daripadanya adalah hak orang lain.

Bahwa apa-apa saja yang kita miliki sejatinya hanya titipan semata … kita tidak akan miskin hanya karena telah membagikan sebagian kecilnya … kita tidak akan melarat karena melepaskan sebagian daripadanya ….

Dan justru, bukankah itu alasan kenapa Tuhan menitipkan kepada kita harta dan kekayaan; supaya kita bisa berbagi kepada yang membutuhkan? supaya kita memanfaatkannya untuk beribadah di jalannya?

Dan Allah tahu apa yang terbaik.

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *