Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Tragedy of New Zealand, March 15, 2019: We are Muslims (Hear us)

3 min read

Inna lillahi wa inna ilayhi roji’un ….

15 Maret 2019, menjadi salah satu hari tersuram di Selandia Baru. Negara maju yang sekaligus menjadi salah satu negara paling aman dunia, negeri elok nan damai, pada hari itu …. Sepertinya aku tidak perlu menjabarkan detailnya. Seluruh dunia telah melihat dan tahu. Sebagian berduka, sebagian bersimpati, sebagian mengecam, bahkan mengutuk karena tidak ada manusia yang akan melakukan hal sekeji itu. Memberondongkan senjata ke manusia di tempat ibadah sambil memvideokan dan menyiarkannya, makhluk jenis apa yang memiliki kebengisan semacam itu? Jelas kalau aku bilang dia ‘bukan manusia’.

Mungkin benar ‘jika satu tubuh muslim dilukai, maka muslim yang lainnya juga ikut merasakannya sakitnya’. Aku merasakannya. Hatiku seperti diremas, disayat, jantungku berdetak tak beraturan, tak mampu lagi ku bendung air mataku. Hanya mulut menganga dan tak mampu bersuara. Bukan karena aku takut karena begitu mengerikannya, tapi karena keadaan yang membuat diri ini hanya bisa menyaksikan tanpa mampu berbuat apa-apa untuk saudaraku di sana.

Karena sakit itu pula lantas hatiku berteriak, “Ya Tuhan, adakah hal lain yang bisa kulakukan selain mendo’akan gugur syahidnya saudara-saudaraku? Adakah hal lain yang bisa kuperbuat selain mengutuk dan berharap Engkau akan membalas apa yang sudah dilakukan oleh ‘setan’ itu?” Maka kutuliskan di sini: Suara yang kuharap dapat mewakili jeritan hati saudara-saudari seimanku. Suara yang kuharap dapat didengar oleh dunia dan semua yang ada di bawah kolong langit-Nya.

Kami Muslim

Dia mengira, dengan menembaki kami di hari Jum’at, di waktu ibadah, akan membuat kami mati konyol …. Dia mengira, dengan merekamnya live dan menyebarkannya di internet akan membuat takut saudara-saudari seiman kami yang lain ….

TIDAK! Demi Allah.

Di sosial media banyak yang menyampaikan demikian, beberapa dengan penggambaran yang sarat makna. Dan memang seperti itulah kebenarannya.

Tidak ada alasan bagi kami untuk takut, selain kepada-Nya. Tidak ada alasan bagi kami untuk takut, kecuali mati dalam keadaan tidak adanya iman di dalam dada. Terlebih bagi kami, mati adalah sebuah jalan untuk kembali kepada-Nya. Inilah kepercayaan yang melekat dalam diri kami.

READ  Meneruskan Tongkat Estafet & Nyala Pelita Mbah Moen

Jujur, aku tidak begitu terkejut ketika (secara tidak sengaja) melihat video brutal itu, atas peristiwa mengerikan yang begitu menyita perhatian publik saat ini. Justru akan terkesan berbohong jika aku mengatakan ‘aku terkejut’, malah seolah seperti sudah terbiasa.

Aku tidak sendiri sebagai orang orang yang beranggapan demikian, seorang jurnalis dan host dari The Project bernama Waleed Aly sudah terlebih dahulu menyampaikan suara hatinya mewakili kaum muslim lainnya.

Kita semua tahu, jika mau membuka mata, hal semacam ini bukan pertama kalinya bagi kami umat muslim. Dunia tahu; bagaimana saudara-saudari kami dibunuh di Syria dan di Iraq, atau bagaimana saudara-saudari kami dibunuh di Palestina, di Kashmir, di Burma, di Afganistan, di Afrika …. Berapa banyak nyawa saudara-saudari kami yang meninggal jika di-angka-kan? Dan masih saja kami dipandang sebagai ‘teroris’.

Terrorism doesn’t Choose its Victims Selectively

Waleed Aly secara emosional mengutarakan: “Aku patah hati dan aku takut. Dan aku jatuh dalam keputusasaan. Hal yang paling tidak jujur adalah mengatakan bahwa saya terkejut. ‘Saya tidak (terkejut)’. Tidak ada yang terjadi pada Christchurch hari ini yang mengejutkan saya. Saya tidak terkejut ketika 6 orang ditembak mati di masjid di Quebec City 2 tahun yang lalu. Saya tidak terkejut ketika seorang pria mengendarai van ke masjid Finsbury Park di London sekitar 6 bulan kemudian. Dan saya tidak terkejut ketika 11 orang Yahudi ditembak mati di sinagoga Pittsburgh akhir tahun lalu atau ketika 9 orang Kristen terbunuh di sebuah gereja di Charleston. Jika kita mau jujur, kita akan tahu bahwa ini telah (atau akan segera) datang.

Saya pergi ke masjid hari ini. Saya melakukan itu setiap hari Jumat. Sama seperti orang-orang di masjid-masjid di Christchurch hari ini. Saya tahu persis seperti apa saat-saat sebelum penembakan dimulai. Saya tahu betapa sunyi, seberapa diam, seberapa introspektif orang-orang itu sebelum mereka tiba-tiba ‘ditembak mati’. Betapa terpisahnya dari dunia yang mereka rasakan sampai dunia datang dan merobek kehidupan mereka. Dan saya tahu bahwa orang yang melakukan ini cukup tahu betapa tidak berdayanya korban mereka pada saat itu. Ini adalah do’a jemaat yang dilaksankan setiap minggu seperti pekerjaan sehari-hari. It was slaughter by appointment. Dan itu menakutkan karena seperti jutaan Muslim lainnya ‘saya akan terus menghadiri janji temu itu’. Dan rasanya seperti ikan dalam tong.

Tapi itu bukan hal yang paling menakutkan. Hal yang paling membuatku takut adalah ketika aku mulai membaca manifesto yang diterbitkan oleh salah satu pelaku serangan ini. Bukan karena gila tetapi karena sangat familiar.

Jadi sementara aku menghargai kata-kata para pemimpin kita tentang apa yang dikatakannya pada hari ini, janganlah Anda ubah nada bicara Anda karena terorisme tampaknya berasal dari seorang white supremacist. Jika Anda telah berusaha untuk berbicara tentang terorisme selama bertahun-tahun dalam komunitas yang diduga mendukungnya, tunjukkanlah kepada kami betapa sulitnya Anda sekarang. Untuk saya, saya juga akan mengatakan hal yang sama seperti apa yang saya katakan sekitar empat tahun yang lalu setelah serangan islamis yang mengerikan. Sekarang, sekarang kita bersama-sama. Sekarang kami telah mengerti jika ini bukan sebuah permainan. Terorisme tidak memilih korbannya secara selektif. Bahwa kita adalah satu komunitas. Dan bahwa segala yang kita katakan untuk mencoba membuat orang terpecah, menjelek-jelekkan kelompok-kelompok tertentu, membuat kubu saling bertentangan … semuanya memiliki konsekuensi. Meskipun kita bukan orang yang menaruh jari di depan pelatuk.”

Aku rasa apa yang disampaikan oleh Waleed Aly di atas sangat jelas sekali untuk dimengerti oleh pembaca budiman sekalian. Dan aku harap, dari tragedi terorisme di New Zealand ini, seluruh dunia tidak lagi menutup mata dan berpura-pura menganggap semuanya baik-baik saja. Lihat dengan seksama, seperti inilah Bumi Manusia kita.

READ  2 Mei, Sejarah & Makna di Balik Hari Pendidikan Nasional

Salam.

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *