Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Tulis Pernyataan Misi Hidupmu!

3 min read

Tulis Pernyataan Misi Hidupmu

Di dalam bisnis, perusahaan menulis pernyataan misi untuk menunjukkan kepada konsumen tentang hati dan jiwanya. Pernyataan misi menunjukkan “kenapa” kami (perusahaan) dan memungkinkan orang untuk membangun hubungan dengan brand kami. Misi ini yang menyatukan karyawan, membuat ikatan antara kami dengan konsumen, dan bertindak sebagai cahaya penuntun di saat kita diuji atau ditantang.

Kita semua ingat, ketika kita melamar sebuah pekerjaan, kita menulis ‘pernyataan pribadi’, mirip dengan pernyataan misi, tetapi kali ini untuk menghubungkan departemen penerimaan agar dapat melihat hati dan jiwa kita dan benar-benar menunjukkan mengapa kita adalah orang yang paling pas untuk bekerja di perusahaan mereka.

Atau ketika kita melamar ke perguruan tinggi, kita juga membuat sebuah pernyataan yang kurang lebih sama tentang “kenapa” kita pantas untuk diterima di jurusan yang kita pilih. Ini hanya sekedar contoh.

Nyatanya, dalam hidup kita selalu dan akan selalu ditagih untuk membuktikan “kenapa” kita, seperti:

  • “Kenapa” dirimu patut atau harus dipertimbangkan?
  • “Kenapa” kami harus mendengarmu?
  • “Kenapa” kami ingin terhubung denganmu dan membangun hubungan?

Saya telah melihat begitu banyak orang yang berjuang untuk mengenali “kenapa” mereka dalam hidupnya dan memasukkannya ke dalam kata-kata. Tidak terkecuali aku sendiri.

*CLUE: Kamu mungkin merasa kebingungan tentang “kenapa”-mu jika kamu merasa kewalahan, khawatir, atau seolah kamu sedang berlari di tempat tanpa beranjak ke mana pun.

Saat masa pertengahan kuliah, aku menghadapi banyak sekali hal-hal yang tidak aku ketahui tentang masa depanku, seperti banyak dari kita di antaranya. Anggap saja aku jatuh dalam quarter-life crisis. Aku merasa kewalahan, tersesat, dan bingung … tapi bukan karena tuntutan dari perkuliahan itu sendiri, dan inilah yang menjadi masalahnya.

Jadi, begini: Apa yang aku jalani tidak seperti apa yang dijalani kebanyakan orang pada umumnya. Kebanyakan orang setelah lulus SMA dia akan melanjutkan kuliah lalu mencari kerja (atau membangun usahanya) begitu menjadi sarjana.

Sedangkan aku, setelah lulus SMA aku kerja dulu, merantau selama kurang lebih dua tahun, baru kuliah. Dan di masa kuliah inilah aku merasa segala sesuatunya tidak sinkron … apa-apa saja yang ditunjukkan dan diberikan oleh bangku perkuliahan ternyata tidak sesuai dengan apa yang sudah aku lihat di dunia nyata. Hal ini membuatku stress dan terpacu untuk terus mencari pembenaran dan sesuatu yang bisa menjadi cahaya penuntunku.

READ  Ketika Kita Merasa Tersesat dan Tak Bisa Berbuat Apa-Apa

Aku ingat ketika berbicara dengan sahabat yang pengalamannya kurang lebih sama. Kami berbicara banyak hal, saling bertukar pikiran tentang hal-hal yang selama ini menjadi pertanyaan “kenapa” sampai ke “karena” yang melatarbelakanginya.

Salah satu persamaan kami adalah kami suka membaca dan amat menyayangi buku. Dia merekomendasikan untuk membaca serial roman Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Aku mulai membaca dari seri yang pertama, Bumi Manusia, dan aku menyadari betapa dangkalnya pengetahuanku akan dunia ini, terutama Indonesia, dan aku merasa seolah mataku telah dialing-alingi selama ini. Namun tidak lantas membuatku menyalahkan keadaan atau bahkan marah kepada dunia, karena dari buku ini aku mendapatkan pelajaran bahwa:

“Seorang terpelajar harus berperilaku adil, bahkan sejak di dalam pikiran.”

Tidak itu saja, karena kehausanku, aku jadi membaca buku-buku dengan genre yang serupa seperti halnya buku Max Havelaar oleh Multatuli misalnya.

Namun dari semua buku-buku itu, ada satu yang paling lengkap dan sangat berpengaruh bagiku—lebih tepatnya adalah sebuah kitab, Al-Qur’an, kitab suci umat muslim sedunia. Jika kamu memiliki pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, kamu bisa mendapatkan jawabannya di sana. Sungguh.

Dari bacaan-bacaan ini aku mendapat banyak pelajaran untuk mengenali alasanku dengan benar-benar bertanya pada diriku sendiri; apa yang mendorongku untuk bangun tidur? Ketika segalanya menjadi sulit, apa yang membuatku tetap fokus dan berada di jalur? Dan ketika segalanya membuatku serasa ingin menyerah, kenapa aku memilih untuk terus melanjutkan?

Jadi aku bertanya kepada kalian semua, Millennials: Apa yang menjadi pendorongmu? Apa yang kamu inginkan ketika kamu dewasa? Apa harapan dan impianmu, dan kenapa itu menjadi harapan dan impianmu? Kegiatan apa yang kamu lakukan yang dapat mengakibatkan kamu kehilangan semua waktu dan merasa benar-benar bahagia dan puas? Ketika masa-masa sulit, apa yang membuat kamu bangkit untuk terus maju?

READ  Millennials, Siapakah Mereka Sebenarnya?

Dan lagi ….

Apakah itu perasaan yang kamu dapatkan dan apa yang orang lain rasakan? Apakah ini hasil atau sumbangsih yang dapat kamu berikan? Apakah ini komunitas dan ikatan yang kamu dambakan?

Ikuti rangkaian pertanyaan-pertanyaan ini, kemudian tulis pernyataan misi hidupmu. Itu akan menjadi pembimbingmu di masa-masa sulit, dalam transisi karir, dalam hubungan atau ikatan yang tidak lagi melayanimu, dan banyak lagi.

Setiap kali aku merasa kewalahan atau kehilangan atau bingung, aku perlu mengingat pernyataan misi hidupku. “Kenapa”-ku.

Tujuan hidupku adalah seperti yang aku tuliskan di profil:

“Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya.”

Dengan cara apa? Dengan apa saja, salah satunya adalah dengan menulis. Dengan menulis, aku ingin tulisan-tulisanku dapat memberikan sumbangsih terhadap sesamaku agar dapat menemukan kekuatan dan momen untuk bangkit dari masa-masa sulit. Mengajak untuk lebih mengenali diri kita sendiri bahwa ‘inilah aku yang sepenuhnya, aku yang sebenarnya’ dan menjalaninya tanpa kekhawatiran dan rasa takut akan penilaian maupun kegagalan.

Dengan harapan akhirnya agar kita bersama-sama berani memutus rantai yang mengikat kita, menerobos keluar dari kotak dan sekat yang menghalangi kita, dan berjalan di jalan di atas jalan dan roda yang kita bangun sendiri.

Ya! Ini sangat berkaitan dengan alasan kenapa aku kembali (memulai) menulis di blog, di Pandita.ID, maupun di JeparaUpdate.co.

Aku ingin membantu orang lain dengan segala kelebihan dan kekuranganku ini. Aku sendiri menyebutnya sebagai bekerja, karena definisi “kerja” bagiku adalah karena adanya unsur menolong. Tanpa adanya unsur menolong, bagiku, itu belum bisa disebut sebagai bekerja, melainkan mencari keuntungan atau semacamnya. Ini adalah dua hal yang berbeda. Dan aku, aku ingin bekerja. Itu pernyataan misi hidupku.

Jadi, apa pernyataan misi hidupmu? Jangan sungkan untuk membagikannya. Karena bisa jadi, orang yang mendengarnya bisa menjadi koneksimu dalam mewujudkannya.


Inspired by: The Confused Millennial, “Writing Your Life’s Mission Statement”


Aku ingin mengenalmu. Mari berteman!

0
Avatar
Ahmad Ali Buni "Meski sedikit, aku ingin dunia ini berubah karena ada aku di dalamnya." Founder of Pandita.ID & Millennial Adventure. JeparaUpdate.co is my second home.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *